Pacaran (?)

“Pacarnya orang mana?” Tanya temen ibuk suatu waktu.

“Masih disimpan sama Allah, Pak” Jawabku sok bijak. But actually, that’s​ just an excuse. You know, I don’t have any boyfriend at all even ex-boyfriend. And, of course I don’t wanna have them in the rest of my life.

Tahu kenapa sekarang generasi muda negeri ini seakan hina kalau nggak punya pacar? Guess what?

  1. Banyak om-om dan tante-tante yang tanya, “udah punya pacar belom?” Dari pertanyaan mereka sih aroma-aromanya mereka lagi nyindir “masih jomblo aja nih?” Hm. Kalau tiap ketemu ditanya dengan hal yang sama, siapa yang betah coba? Dengan pertanyaan mereka itu mereka secara tidak langsung memaksa kita buat pacaran dan tentu saja mereka setuju dengan pacaran. Coba aja mereka tanya dengan pertanyaan yang pernah seorang dokter tanyakan ke aku, “hafalannya udah sampek mana?” Mantab kan pertanyaan ini? Seketika kesindir tuh diri kamu, “miris banget, hafalan gue udah sampek mana nih? Boro-boro hafalan, murojaah aja kagak”
  2. Sinetron Indonesia isinya pacaran mulu. Coba, konten yang ada di sinetron itu dikerenin dikit, sci-fi gitu, cerita gimana hidupnya orang-orang yang punya kontribusi besar di dunia ini. Gimana perjuangan mereka, gimana mereka mengatasi masalah-masalah sulit di hidupnya. Kalau enggak cerita tentang serunya menuntut ilmu di luar negeri. Mungkin aja nanti banyak anak muda yang nonton, terus mereka jadi kepingin kuliah di sana.

Intinya, buat kamu yang masih jomblo, eh maksudku single, teruskan aja ke-single-lan kalian. Jangan biarkan waktumu yang berharga itu kalian korbankan untuk orang yang mungkin aja nanti nyakitin kalian. Jadilah orang baik. Jaga diri baik-baik. Karena orang yang baik akan berjodoh dengan orang yang baik juga. 

Banyuwangi, 28 Juli 2017

Difference

People say, “the older someone, the wiser they will be”.

In highschool, I used to live with the people that have visions, opinions, religion, native language, hobby, favorite book, and even religion that same as me. So, at that time, I lived happily and peacefully. And when I enter higher education, I realize something, life is not as simple as I think. There are many differences that I have never noticed before. When I used to talk about the teachings in my religion, now I can not go around discussing with all my friends. Because their religion is not only islam. They have various background, ethnic, native language, and so on. We can not impose each other’s will here. If we do that, There will be divisions among us. Learn to appreciate and understand difference because difference is necessity.

Banyuwangi, 28 Juli 2017

Pesan 2017 teruntuk 2018

Pesan-pesan yang ada di bawah ini disampaikan oleh teman-teman saya yang sudah menyempatkan diri mengisi form survey saya. Mereka menulis ini untuk kalian, adek-adek yang akan melanjutkan perjuangan melawan kebodohan. We care so that we share.

Buat kamu yang masih SMA, harap tidak membaca pos ini karena dikhawatirkan akan ada efek samping yang ditimbulkan. Kalau kalian masih di sekolah fokuslah belajar dan jangan sekali-kali membaca pos ini. Kalau sudah di rumah baru boleh. (Apaan si?)

And here we go…

  • Jangan terlalu percaya sama omongan sendiri. Turutin maunya orang tua supaya di ridhoi tuhan dan jalan kalian menuju sukses dibuka lebar

 

  • SNMPTN GAK BISA DIANDALKAN. BELAJAR SBM DARI SKRG.

 

  • Terus semangat, jangan suka main-main, belajar yang giat kalau memang pengen masuk di jalur snmptn, karena katanya selain nilai raport, nilai un juga dipertimbangkan, tapi jangan lupa ya untuk jaga jaga sbmptn juga diperlukan, setelah un, kalau bisa jangan main main, daftar buat snmptn, terus daftar juga buat sbmptn, terus belajar juga buat sbmptn, jaga jaga aja guys 😊 jangan sampai terlena ya kaya pengalaman dari temen temenku ada beberapa oke, semangat 💪

 

  • Semangat. Gaada yg ga mungkin. Aku fisika kelas 10 dpt 7 aja masih bisa lolos SNMPTN ITB kok wkwk. Tapi jangan lupa belajar buat SBMPTN biar ga kepontalan semisal dpt tanda merah di SNMPTN hehhe

 

  • Banyak yg bilang snmptn itu cm faktor keberuntungan aja, tapi menurutku si ga gitu. Ptn pasti mempertimbangkan prestasi yg kita setorkan. Tp jg bukan berarti prestasinya bagus langsung pd lolos snmptn, liat pilihan fakultas/ptnnya juga. Jangan lupa berdoa sama Allah SWT dan minta doa restu ortu ya :))

 

  • Dek, jangan terlalu terpacu sama SNMPTN, ya. Mohon maaf, bukannya ingin membuat mental kalian down atau semacamnya. Cuma ingatlah, SNMPTN itu bukan segalanya, masih banyak cara dan jalan menuju Merbabu. Kalau ada teman sekelas atau teman dekat kalian yang mendapat SNMPTN, sedang kalian tidak, jadikan itu acuan untuk kalian menjadi lebih semangat kedepannya. Masa, sih, kalian gak pengen nyusul teman-teman kalian yang udah dapat ‘rumah’ untuk masa depannya? Dan, kalaupun SBMPTN gak bisa nerima kalian juga. Jangan berkecil hati. Jangan selalu lihat keatas, gak baik. SNMPTN itu gak ada yang tau bagaimana cara menilai atau dalamnya gimana. Banyak istighfar dan berdoa kepada Sang Pencipta serta faktor keberuntungan, InshaaAllah kalian lulus. Semangat!

 

  • Buat kalian yg punya Ambisi buat ngejar prodi dan univ favoritmu, BELAJAR TERUS! SIAPIN BUAT SBMPTN, JANGAN TERLALU BERHARAP KE SNMPTN! Masukin prodi di univ favoritmu aja buat SNMPTN, misalnya cm satu pilihan FTSL ITB aja. SNMPTN bukan akhir dr segalanya, usaha penting, Doa jg penting, Menghormati guru itu paling penting. Buat kalian yg mungkin maunya masuk lewat SNMPTN, gpp, mungkin pertimbangan kalian adalah Pilihan Orang Tua, SBM dan Mandiri ngabisin biaya (blm lg nunggu pengumumannya mendebarkan :v), ataupun capek dengan tes2 kyk sbm, itu semua adalah pilihan kalian dan kembali ke pribadi masing2.

 

  • Pilih saja sesuai minat dan bakatmu, jangan pikirkan masalah nilai, jumlah alumni, saingan dan hal-hal lain, jika Allah SWT memang memberimu jalan disitu, Insyaallah bisa diterima, jika tidak diterima masih ada jalur yang lain, ITB saja mempunyai 3 jalur (Actually, there are only two selection in ITB), jika tidak diterima di semua jalur, coba tahun depan, atau coba langsung kerja, karena kuliah hanya membantumu mencapai kesuksesan, sedangkan yang memberimu jalan menuju kesuksesan adalah Allah SWT, bisa saja kesuksesanmu tidak harus lewat jalur kuliah, positive thinking saja selalu.

 

  • Untuk adek-adek, setelah aku merenungi semuanya aku ga akan bisa kuliah di ITB kalau bukan lewat jalur SNMPTN karena aku ngerasa persiapan aku buat SBMPTN masih belum cukup. Pesenku, dari awal kelas 12 kalau kamu punya target yang muluk–kuliah di ITB, UI, atau UGM–kamu harus cari temen yang sevisi sama kamu, supaya kalian sama-sama berjuang. Berjuang sendirian itu gak enak dek. Kalau kamu berjuang bareng, insyaallah semuanya bakalan merasa mudah. Kalau kamu belajar, jangan cuma ngapalin rumusnya doang, cari tahu kenapa rumusnya bisa gitu. Oh ya, kalau ada orang yang nyemooh pilihan kamu, jadikan cemoohan itu sebagai ajang buat kamu nunjukkan ke mereka kalau apa yang mereka katakan salah. Kalau hidup itu jangan kaya air ngalir, dek. Pada tau kan kalau air ngalir itu selalu ngalir ke tempat yang rendah? Kamu harus pasang target yang muluk–kuliah dek. Kalau punya mimpi jangan setengah-setengah. Kamu punya Tuhan yang maha tinggi. Semakin tinggi impian kamu semakin tinggi pula keyakinan kamu pada tuhan kamu. The last but not least, kalau kamu punya mimpi, selalu ceritakan ke kedua orang tua kamu, tahu kan ridha Allah itu bergantung pada ridha orang tua? Jadikan ridha orang tuamu selalu ada padamu supaya ridha Allah juga selalu menyertaimu. Mana Jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil insya Allah) 😊

 

  • Semangat coy

 

  • Saya nggak tahu sama apa yang paling berpengaruh tentang SNMPTN, nilai yang ‘naik terus’ juga belum tentu lolos (seperti saya). Jangan mencari aman memilih prodi SNMPTN, usahan mengisi prodi yang menjadi passion kalian (supaya ga nyesel kalo keterima, apalagi setelah keterima kalian gabisa ngikut SBM kan buat mencoba ulang meraih prodi impian). Jangan terlalu mengandalkan SNMPTN, anggap saja SNMPTN seperti lotre. Berbanggalah bagi kalian yang keterima di PTN lewat jalur SBMPTN daripada SNMPTN. Melalui SBMPTN, kalian akan bener2 berjuang untuk dapat meraih prodi impian kalian. Selamat berjuang adek-adek kelasku 🙂

 

  • Ketahuilah kemampuan dan kekuatan dirimu sebelum memilih.. dan selalu berfikir pantaskah jika anda memilih jurusan tersebut?? Jika pantas tan mantab maka pilihlah… sekian ^_^

 

  • Buat adik adik yang ikut jalur bidikmisi SNMPTN, hati hati ya. Pikir matang matang ttg bidikmisinya.. jika kiranya bidikmisi tidak akan diterima, jangan sekali kali memilih jalur bidikmisi SNMPTN. Karena pengalamanku, jika bidikmisi ditolak, maka penerimaan SNMPTN kalian DITOLAK. kalian sudah rugi waktu, rugi biaya, dan rugi ngga bisa ikutan tes SBMPTN (karena baftar ulang SNMPTN bareng sama tes SBMPTN). Cukup fatal akibatnya.

 

  • Fokus SBMPTN aja, seakan-akan pasti ditolak di SNMPTN.

 

  • Belajar SBMPTN pake zenius enak (Yeah, I agree with this one).

 

  • Sesuaikan pilihanmu dengan kemampuanmu

 

  • Jangan berharap pada SNMPTN. Karena ditolak SNMPTN itu lbh sakit dari pada sakit hati. Siapkan SBMTPN ajaa. Oh yaa, kencengin doa biar lolos dan barokah

 

  • semangat, terus belajar, percaya diri jangan lupa, berdoa pastinya, pasrah itu juga perlu:((

 

  • SNMPTN bukan hanya tentang rezeki saja, tetapi mempertahankan nilai selama 3 tahun yang bisa dibilang susah. Yakan temen2?

 

  • Berdoalah. Jangan asal pilih. Sebenernya aku agak nyesel pilihan 1 2 ku aku ganti unair krn awalnya aku pengen its. Tp alhamdulillah sebagai gantinya, pilihan ke3 melirikku. Dan itu bisa dibilang langka. Ganbatte buat adek2!!!

 

  • Intinya buat adek2 pilih jurusan yg sekiranya kalian mampu dan nyaman ya, jangan karna ikut2 temen, kan banyak tuh kadang yg gitu, terus rundingin juga sama ortu buat setiap pilihan yg adek2 mau ambil, karna restu ortu itu yg terpenting 🙂

 

  • Semamgat belajar, biar nanti bisa lolos SNMPTN YAH😊

 

  • Jangan terlalu muluk2 dalam memilih jurusan, perhatikan nilai kamu juga. Dan yang terpenting minta restu dari orang tua dan berdoa

 

  •  inget, usaha nomer satu, usaha dulu, kalo hasil itu rahasia Tuhan. Nilaimu harus bagus mulai awal sampek akhir. Fighting!!

 

  • Pilih jurusan yg kamu inginkan, jangan peduli dengan jumlah alumni di univ itu, jangan peduli dengan saingan satu ssekolahmu.

 

  • Ga usah kecewa. It’s just about lucky (:

 

  • Gausah terlalu ngarep, nanti sakit:)

 

  • Pesen saya pokoknya optimis,do’a terus,jngan muluk muluk kalau di snmptn tpi gk boleh di zona aman terus, ambil prodi yg bener gk boleh cmn coba coba, kalau mau ngmbil pilihan yg tinggi PD aja yg pnting do’a,usaha,optimis,dn tetep belajar buat SBMPTN

 

  • Semangat terus ya, inget! Masa depan yang cemerlang ga cuma di dapet di ptn ko. Jangan lupa siapin plan sebanyak-banyaknya biar kamu ga sampai terombang-ambing dan berakhir jadi pengangguran. Please, pengangguran di Indonesia udah banyak loh de:’)

 

  • Pilihlah ptn dengan rate yang bagus, mulai dari akreditasi hingga kualitas alumni alumni nya. Tapi lebih utama, pilihlah sesuai minat dan kemampuam kamu. Jangan sampai kepenggal di tengah2 kuliah

 

  • Seperti di awal tadi. Yg pertama harus bisa ngukur kemampuan diri sendiri. Lihat juga nilai rapor sebagai patokan mau lari kemana. Konsultasi sama guru atau kakak kelas yg dianggap bisa kasih saran. Ambil pilihan yang sesuai kemampuan, jangan gegabah! Ingat. Optimis boleh, tapi jangan ambisi.

 

  • SNMPTN itu ibarat undian. Jadi jangan terlalu diharapkan. Sebelum pengumuman snmptn, aku ikut bimbingan sbmptn di luarkota. Buat jaga2 lah, intinya dulu aku mikirnya gimana cara biar lolos sbm, belajar giat bgt. Tapi alhamdulillah keterima snmptn nya. Jadi bimbelnya cabut hehe

 

  • pertama lebih fokus ke minat jangan asal pilih. jangan terlalu berharap. tanya ada alumni ga? progresnya gimana terus jangan lupa doanya di kencengin

 

  • Hati2 ke PHP sama yang namanya SNMPTN. Jadi gausah berharap deh lebih baik nyiapin Sbm dari awal aja. Klo lolos SBMPTN itu rasanya lebih puas dari SNMPTN beneran.

 

  • Pilih jurusan sesuai kemampuan. Jangan terlalu tinggi walaupun nilai tinggi. Gak usah muluk2 intinya

 

Pesannya banyak yang bertolak belakang ya satu sama lain? Well, these suggestions were written with opinions of each people. So, use them wisely and do not just take it for granted. Be skeptical and critical, guys! But, the most important one is believe in yourself !

 

SNMPTN #2

Pos kali ini saya khususkan untuk membahas mengenai komentar-komentar seputar SNMPTN yang seringkali terdengar saat pendaftaran seleksi itu dibuka. Saya di sini akan menanggapi komentar-komentar mereka. Saya rasa komentar mereka itu terlalu mengecilkan mental peserta SNMPTN sehingga mereka takut memilih PTN ataupun jurusan yang benar-benar mereka inginkan. Tapi, saya tegaskan di awal kalau tulisan ini tidak sepenuhnya benar karena selama ini guru saya di sekolah pun tidak tahu sistem seleksi di SNMPTN itu seperti apa. Di situs snmptn.ac.id pun hanya dituliskan seperti ini:

Prinsip Seleksi
Seleksi dilakukan berdasarkan prinsip:

  • mendapatkan calon mahasiswa yang berkualitas secara akademik dengan menggunakan nilai rapor dan prestasi-prestasi akademik lainnya yang relevan dengan program studi yang dipilih;
  • memperhitungkan rekam jejak kinerja sekolah.
  • menggunakan kriteria seleksi nasional dan kriteria yang ditetapkan oleh masing-masing PTN secara adil, akuntabel, dan transparan.

Sebelumnya saya ingin berkisah mengenai diri saya, entah ini penting atau tidak. Saya hanya ingin hal ini menjadi penguat saja dalam penulisan artikel ini. Alhamdulilah saya ditakdirkan lolos SNMPTN tahun 2017 dan insya Allah bulan Agustus nanti saya memulai dunia baru saya, dunia perkuliahan yang katanya penuh tantangan.

And here are the comments that I heard at that time.

  • Rata-rata raport harus naik terus. Let me get something straight. Honestly, this is wrong, big wrong. If you please, I wanna tell you something. Dari semester 1-4, rata-rata nilai raport saya menunjukkan progres yang baik. Naik terus, tapi tidak semua pelajaran grafiknya naik. Seringnya naik, turun lalu naik lagi, seperti pegunungan lah. Nah, menginjak semester 5 yakni saat kelas 12 karena kondisi tubuh yang bermasalah dan harus sering mengujungi dokter dan rumah sakit, turunlah nilai raport saya di semester ini. Dibilang drastis, drastis banget! Sampai-sampai saat itu, menjelang pembukaan pendaftaran SNMPTN, nyali saya sempat menciut. “Duh, lolos nggak ya dengan nilai segini?” pertanyaan semacam itu sering hinggap tiba-tiba.  Saat itu saya percaya sekali dengan pesan Mas Rifa’i Rif’an, penulis favorit saya, dia bilang seperti ini, “Jadilah muslimah super. Muslimah yang punya impian dan cita-cita yang dahsyat. Jangan pernah takut menargetkan hal yang muluk. Karena pertolongan Tuhan pasti akan hadir bagi hamba-hamba-Nya yang punya niat baik untuk maju dan sukses di masa depan.” Karena berbekal nekad dan saya percaya akan kebesaran Allah, saya mengisi pilihan SNMPTN dengan pilihan yang menurut saya saat itu impossible banget. Pilihan pertama, SITH-S ITB. Pilihan Kedua, Bioteknologi UB. Pilihan Ketiga, Ilmu dan Teknologi Pangan UB. Eh, alhamdulillah yang awalnya pesimis sekali malah bisa keterima di pilihan pertama. Malah ada temen sekelas saya yang dia rutin sekali jadi bintang kelas malah tidak ditakdirkan lolos SNMPTN tapi alhamdulillah dia diterima di FKG UNAIR lewat SBMPTN. Jadi, buat kamu yang nilainya tidak konsisten, jangan berkecil hati, perjuangkan apa yang ingin kamu perjuangkan.

 

  • Pilih jurusan yang sepi peminat. Kalau masalah ini saya sangat tidak menyarankan untuk diikuti. Kenapa? Ya jelas dong ini menyangkut masa depan kamu. Kalau kamu tidak memilih jurusan yang seseuai dengan minat dan bakat kamu dan kamu diterima, mau tidak mau kamu harus mengambil jurusan yang menerima kamu. Kalau kamu tidak daftar ulang di jurusan itu, siap-siap sekolah kamu akan menerima surat teguran dari PTN yang menerima kamu dan bisa-bisa sekolah kamu diblacklist oleh PTN tersebut. Jadi, jangan asal ketika memilih jurusan daripada kamu menyesal nantinya. Dulu sebenarnya saya bimbang antara memilih SITH-R atau SITH-S. Saya ingin di SITH-S karena di fakultas itu ada jurusan mikrobiologi dan saya ingin mengambil jurusan itu. Tapi ada SITH-R yang passing gradenya lebih rendah dari SITH-S dan jurusan di fakultas itu masih berhubungan dengan biologi. Saya bimbang saat itu. Mungkin kamu bertanya kenapa nggak milih dua-duanya saja? Nyali saya saat itu tidak setebal baja, kawan. Fakultas-fakultas itu ada di ITB. Dan ITB di mata orang-orang–termasuk saya sebenarnya–adalah kampus yang susah masuk dan susah keluar di sana. Tapi sebenarnya tidak juga kok. Saat itu saya sudah membuat keputusan. Saya hanya boleh memilih satu pilihan di ITB. Dan karena pertimbangan mikrobiologi ada di fakultas SITH-S, jadi saya memilih SITH-S. Ada lagi kisah dari teman SMP saya. Dia tidak satu SMA dengan saya. Dia diterima di arsitektur UB. Tapi, dia bercerita kalau dia sebenarnya ingin mengambil SAPPK ITB. Karena sama seperti saya, nyalinya kecil, dia urungkan niatan itu dan akhirnya dia menyesal. Dari pengalaman teman saya ini, perjuangkan apa yang ingin kamu dapatkan di SNMPTN, setinggi apa pun passing gradenya. Kalau passing grade jurusan yang kamu minati tinggi, sikat, pilih saja. Masih ada SBMPTN dan kamu bisa memperjuangkan jurusan yang kamu inginkan di sana. Kalau kamu tidak lolos di SNMPTN setidaknya ada perasaan lega karena kamu sudah memperjuangkannya di sana dan tidak ada lagi keraguan kalau kamu mencoba di sana apakah diterima atau tidak.

 

  • Harus ada alumni di jurusan yang dipilih. Seperti yang saya bilang di awal bahwa tidak ada yang tahu sistem seleksi SNMPTN. Jadi, untuk pernyataan ini saya ragukan kebenarannya. Di fakultas saya memang ada alumni tepatnya hanya seorang dan itu sudah lama sekali. Mas yang sefakultas dengan saya itu sampai sudah berkeluarga dan sudah punya anak. Saya juga pernah membaca di web ITB. Kalau tidak salah di usm. Di sana ada FAQ SNMPTN. PERTANYAAN : Sekolah saya belum memiliki alumni di ITB. Apakah saya bisa mengikuti SNMPTN dan memilih ITB? JAWABAN : Sekolah yang siswanya berhak mengikuti SNMPTN adalah SMA/SMK/MA/MAK negeri maupun swasta, termasuk sekolah RI di luar negeri, yang telah memiliki NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional) dan telah mengisi PDSS, serta terdaftar sebagai peserta Ujian Nasional (UN) pada tahun yang bersangkutan, terlepas dari ada atau tidaknya alumni sekolah tersebut di perguruan tinggi tujuan peserta. FAQ SNMPTN di ITB bisa dilihat di sini:  http://usm.itb.ac.id/wp/?page_id=15

 

  • Nilai pelajaran tertentu harus naik terus. Maksudnya di sini, saya kan memilih SITH-S yang erat kaitannya dengan biologi. Nah, apakah nilai biologi saya harus naik terus? Saya jawab, tidak. Nilai biologi saya juga naik turun kok. Saya dulu mengadakan survey terkait SNMPTN untuk teman-teman saya yang lolos SNMPTN atau tidak dan pesertanya dari berbagai sekolah. Dari data, mereka yang nilai pelajaran tertentu itu yang naik turun pun lolos di SNMPTN.

 

  • Harus punya sertifikat prestasi yang berjibun. Memang mitos ini bisa saya katakan benar tapi bisa saya katakan salah. Mengapa? Karena di SNMPTN tidak ada tes. Jadi, bagaimana dong PTN bisa tahu kualitas mahasiswanya? Well, dengan melihat prestasinya juga dong tentunya. Prestasi saya pun bisa dibilang tidak membanggakan. Saat itu sertifikat yang saya cantumkan di SNMPT hanya sertifikat juara harapan 1 lomba menulis cerita rakyat tingkat jatim, juara harapan 1 OSK Biologi, dan sertifikat hafalan yang jumlahnya hanya 2,5 juz. Saya heran, kenapa ITB hanya memilih mahasiswa yang seperti ini. Entahlah, mungkin karena saya hanya beruntung. Tapi, sebanyak apa pun prestasi kamu, itu tidak akan menjamin kelulusan kamu. Ada teman sekelas saya yang saban tahun dia pergi ke ITB untuk babak final olimpiade, kalau tidak salah OKTAN dan prestasinya juga menurut saya mengagumkan, tapi nyatanya dia juga tidak lolos SNMPTN di ITB. Tapi luar bisanya dia tetap memperjuangkan apa yang ia inginkan dan sekarang dia diterima di FTTM ITB melalui SBMPTN. Ada juga teman-teman dari Banyuwangi yang diterima di ITB melalui SNMPTN. Saya tanya banyak hal ke mereka. Menurut kamu mereka semua menyertakan sertifikat prestasi? Tidak. Tidak semua. Tapi mereka yang tidak menyertakan sertifikat. Saya akui prestasi akademik mereka di sekolah saya keren.

Sebenarnya masih banyak mitos-mitos lainnya tapi saya hanya ingin membahas yang ini hehe. Jadi buat kamu yang akan mengikuti SNMPTN, jangan terlalu percaya pada mitos-mitos SNMPTN karena kita tidak tahu pola seleksinya seperti apa. Yang harus kamu percaya adalah kebesaran Tuhan kamu dan kemampuan diri kamu sendiri. Terlepas dari apa yang saya tulis, jangan pesimis duluan sebelum kamu mencoba karena kamu tidak tahu rezeki kamu ada di mana dan juga jangan terlalu berharap di SNMPTN, awas nanti di-PHP-in. Di-PHP-in sama SNMPTN lebih sakit daripada diPHP sama pacar, huee. Siapkan SBMPTN dari awal. Siapkan seakan-akan kamu tidak akan lolos SNMPTN sehingga nanti kalau kamu tidak lolos SNMPTN, setidaknya kamu sudah ada bekal. Tetap semangat!

Banyuwangi, 07-07-2017 | 13 Syawal 1438 H

Keep Writing

I don’t know when I start to write. Maybe it begins at junior high school when I know this phrase, “Dear diary”. Through that word I have a diary book. I write everything that have happened during all day on it, about my feeling, how I spent my time, my madness, and another.

As time goes by, I realize that writing is not only to express my feeling, bigger than that. Writting is for inspiring others. Inspiring others for good things is remarkable. Maybe you’re not a leader but you have a dream to make this world become a better place, you still can make your dream comes true. Write. You don’t have to scream in front of many people to express your opinion, just write and they will know it. Writing is spreading goodness if what you write is good things.

At first it is so hard. You don’t know what will you write. You don’t have any ideas. You don’t know how to arrange words become a good sentece. Your grammar is so bad. Your knowledge is limited. How if other people don’t like my writing. Never mind, just keep writing. Do you know baobabs? Before they grow so big, they start out by being little. So do you. Great writer never come up suddenly. They are faithful to the process. Because process can make them great.

If you find comment like “Why do you still writing even though it is bad?”. Don’t give up. As long as you want to inspire others, go ahead. You don’t know wheter your writing will make a change or not. Intend it for goodness, Insya Allah goodness will follow you.

“The best of people are those who are the most beneficial to people”. I am used to make this hadith be my encouragement for doing goodness. And spreading kindness to others is one of beneficial activities. If you are beneficial to others so that you are the best people on this world.

 

Banyuwangi, 05 Juli 2017 | 11 Syawal 1438 H

Rehatlah Sejenak dari Sosmedmu!

Saya hidup di mana semua penghuninya sibuk mengumbar atau bisa saya sebut ‘pamer’ dengan apa yang ia punya. Bagaimana tidak? Sekarang social media sudah banyak jenisnya dan yang paling dahsyat pengaruhnya adalah instagram. Di sana semua orang bisa mengunggah gambar apa pun tanpa kecuali dan bahkan sekarang ada fitur insta story yang setelah saya amati banyak digunakan oleh generasi saya untuk menunjukkan “ini loh yang gue lakukan sekarang” “gue lagi makan nih” dan kalimat senada. Memang saya sempat ingin melakukan apa yang teman-teman saya lakukan. Tapi, saya sadar, kebahagiaan itu tidak selayaknya diumbar, dia hanya perlu disyukuri karena tidak semua orang merasakan kebahagiaan yang tengah kita rasakan saat ini. Kita tidak tahu hati manusia. Mungkin ketika ada anak adam yang tengah melihat apa yang kita umbar timbul perasaan iri, dengki, dan perasaan buruk lainnya. Mungkin mereka juga ingin sekali merasakan kebahagian kita sehingga ia memaksakan dirinya untuk mendapatkannya.

Janganlah terlalu menceritakan kehidupan kalian di dunia maya karena kalian tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Dunia maya bukanlah buku diary kalian dan tidak semua orang ingin tahu kisah kalian.

Cobalah untuk lepas dari social media. Carilah teman yang benar-benar nyata. Ada banyak orang baik di sekitar kalian. Dekati mereka dan cobalah berinteraksi dengan mereka. Jika kamu hanya berkutat dengan social media, teman kamu tidak lain tidak bukan hanyalah seonggok foto manis yang dipasang pemilikinya. Dan jika nanti kamu terkena suatu masalah, akankah dia bersedia menolongmu?

Oh ayolah, coba tinggalkan social mediamu dan mulai berbagi dengan orang di sekitarmu. Kamu bisa bercerita kepada mereka apa saja dan kamu bisa berdiskusi apa saja. Dunia ini luas. Jika kamu hanya bertemankan social media, bagaimana kamu tahu dunia yang sebenarnya, apa adanya. Dunia nyata itu berbeda dengan social media. Mungkin mereka lebih beragam. Lebih kejam. Lebih menyenangkan. Siapa yang tahu?

Saya tahu mengapa kamu lebih banyak menghabiskan harimu dengan teman-teman dunia mayamu, kamu terlalu banyak waktu luang bukan? Dan waktu luangmu kamu habiskan dengan percuma untuk mengikuti tren yang sedang terdengung dengan kuat di telingamu. Coba ganti aktivitasmu dengan membaca, menulis, belajar, menjelajah, membantu sesama, atau yang lainnya. Habiskan masa mudamu dengan sesuatu yang bermanfaat. Buat dirimu jadi hebat. Jangan pernah mencari jati dirimu melalui social media karena dia akan menyetirmu menjadi golongan yang sudah biasa di lihat di mana-mana.

Banyuwangi, 01 Juli 2017 | 07 Syawal 1438 H

The Little Prince

The little prince, buku berbahasa Inggris pertama yang benar-benar saya rampungkan sampai halaman akhir. Sebenarnya banyak buku berbahasa Inggris yang telah saya baca, tapi tidak semua benar-benar mencapai halaman akhir. Saya rasa buku ini berbeda. Ceritanya unik dan tidak terlalu membutuhkan analisis. Sejatinya buku ini adalah buku cerita anak-anak. Tapi jangan pernah kamu berfikir ini sebuah buku yang bercerita tentang seorang pangeran yang menyelamatkan putri dan kemudian menikah, actually it’s wrong. Buku ini–sepunuhnya berisi sindiran kepada orang dewasa. Entah mengenai perilakunya, pemikirannya tapi yang paling ditekankan adalah pemikirannya. Bagaimana pemikirannya tidak pernah menghargai anak kecil, bagaimana mereka selalu memaksa mereka untuk melakukan apa yang baik menurut mereka, bagaimana mereka selalu memandang apa pun berdasarkan uang, dan bagaimana mereka tidak pernah tulus dalam melakukan sesuatu.

Ada penggalan tentang persahabatan yang saya suka :

“One only understands the things that one tames,” said the fox. “Men have no more time to understand anything. They buy things all ready made at the shops. But there is no shop anywhere where one can buy friendship, and so men have no friends any more. If you want a friend, tame me…” “What must I do, to tame you?” asked the little prince.

To forget a friend is sad.

 Not every one has had a friend. 

And if I forget him, I may become 

like the grown-ups who are no 

longer interested in anything but 

figures…  



Bagi kamu yang ingin memahami hidup melalui kisah yang mudah dicerna, saya rasa buku ini cocok. Happy reading 😉 

Banyuwangi, 29 Juni 2017 | 05 Syawal 1438 H

Mendidik Anak-anak

Di benak saya yang suka anak-anak, merawat anak-anak itu mudah. Ketika mereka rewel–seperti yang pernah saya baca–kita hanya perlu mengiming-imingi mereka dengan gula-gula dan seketika mereka akan jinak kembali. Dan asas praduga saya itu salah. Salah besar. Ya, ini bukan salah saya karena memang saya anak terakhir sehingga tak ada yang namanya ‘adik’ dalam hidup saya.

Lebaran tahun ini memang berbeda, selain saya telah menyandang status camaba, saya juga merasakan untuk memiliki adik untuk beberapa saat. Memang ‘adik’ itu bukan adik saya, dia sebatas sepupu saya. Di usianya yang lima tahunan, semua yang ada di dunianya harus tunduk padanya dan dialah yang menjadi rajanya. Semua keinginan harus dipenuhi. Semua yang tidak ia inginkan tidak boleh dilakukan. Dan jika semuanya berjalan tidak sesuai keinginannya senjata ampuhnya akan ia keluarkan–tangisannya.

Saya pernah membaca kalau dalam mendidik anak tidak boleh dilakukan kekerasan sedikit pun. Saya pun setuju dengannya. Jika anak-anak nakal, ya biarkanlah, toh mereka hanya anak-anak. Yang ada dipikirannya hanyalah bermain tanpa mau membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Ketika saya melihat ada anak-anak yang sedang ‘dididik’ oleh orang tuanya dengan cara sedikit ‘kekerasan’ seperti dicubit, dipukul, atau sebagainya, saya rasa tindakannya itu salah. Iya memang jika anak-anak sedang rewel kita menjadi sangat tidak sabar, ingin segera hentikan tangisannya. Tapi, kalau anak-anak makin dikerasi, dia pun akan semakin rewel. Mengapa kita tidak buat sebuah janji dengan mereka, misalkan mereka mau melakukan ini mereka akan mendapatkan ini. Itu lebih baik daripada memukuli mereka. Dengan memukuli mereka seperti itu mungkin nantinya akan membuat anak-anak itu takut pada orang tuanya, takut berbagi ketika dia sudah besar, takut jika ia curhat dia akan kena amukan kedua orang tuanya. Dan intinya mendidik anak-anak dengan kekerasan hanya akan membuat sebuah ‘jarak’ antara anak dengan orang tuanya.
Banyuwangi, 29 Juni 2017 | 05 Syawal 1438 H

Books : Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk

Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk adalah buku tulisan Ahmad Rifa’i Rif’an keempat yang saya punya. Saat saya memutuskan membelinya pada tahun 2015 lalu, buku ini telah mengalami beberapa revisi dan telah mencapai cetakan ke-13. Sejauh ini saya selalu menyukai buku besutan Mas Rifa’i. Buku-bukunya selalu berhasil membuat saya ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Sama seperti judulnya, buku yang tebalnya 360-an halaman ini kebanyakan berisi tentang renungan bagi kita–manusia yang merasa sok sibuk sehingga lupa akan kewajibannya sebagai hamba-Nya. Buku ini tersusun atas 4 bab. Bab pertama, menata hati, membenahi nurani. Bab kedua, rumahku, surgaku. Bab  ketiga, memancarkan cahaya surga di tempat kerja. Dan bab keempat,  memperkokoh semangat dan visi hidup.  

Ketika mulai membaca buku ini yakni awal Ramadhan tahun 2017, jujur, ketika mulai membaca lembar awal yang berisi renungan, saya menangis. Renungan yang mas Rifa’i tulis seperti menampar diri saya, menyadarkan diri saya kalau selama ini saya selalu menomor duakan Allah. Saya selalu menunda-nunda dalam beribadah kepadanya padahal Allah tak pernah menunda-nunda kasih sayangnya pada saya. Dan karena itu saya semangat dalam membaca buku ini karena saya berharap saya semakin tersadar akan semua kesalahan saya selama ini.

Benar saja, banyak hal yang saya ketahui setelah membaca buku ini. Gaya penyampaian dan penulisan mas Rifa’i yang ringan sehingga pesan yang ingin ia sampaikan Insya Allah sampai pada pembacanya.

Dan inilah penggalan tulisan yang ada di sampul belakang.

Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan. Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, kami sangat sibuk. Jangankan berjemaah, bahkan munfarid pun kami tunda-tunda. Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajoban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami. Jangankan puasa Senin-Kamis jangankan ayyaamul baith, jangankan puasa nabi Daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh.

Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu. Jangankan sedekah, jangankan jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja sering kali terlupa.

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak. Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukun, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. Tuhan, tolong, jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami. Karena kami masih terlalu sibuk.

Saya saya menyarankan untuk kamu yang sangat sibuk dengan agendamu untuk membaca buku ini sehingga setidaknya kamu sadar kalau kamu tetaplah seorang hamba yang harus meluangkan waktunya untuk beribadah kepada-Nya. Karena seperti firman-Nya, Allah menciptakan jin dan manusia tidak lain adalah agar mereka beribadah kepada-Nya. Semoga saja kalian diberikan kesempatan untuk membaca buku ini. Amin

Banyuwangi, 25 Juni 2017 | 01 Syawal 1438 H

Dibaca saat jadi calon mahasiswa baru.