Cerita : Lelaki Penggoda

“Lihat laki-laki itu” aku mengarahkan mataku pada sesorang yang sedang ditatap oleh gadis di sampingku. Dia tidak menunjuk. Tapi hanya menatap dengan tatapannya yang menusuk.

Belum sempat aku bertanya kenapa, dia sudah berucap, “Bukankah dia sering menggodamu?”

Belum sempat lagi aku menjawab “Ya”, dia sudah melanjutkan, “Untung saja kau tidak menanggapinya”

Dia melanjutkan lagi,”Bukankah dia sudah punya pacar?”

Kali ini aku baru bisa mengatakan, “Ya”

Dia berkata lagi, “Sudah punya pacar saja masih menggoda gadis lain, apalagi jika ia sudah berumah tangga? Sungguh mengerikan”

Aku terdiam.

Advertisements

Tulisan : Constantinople Shall Be Conquered

“Verily, Constantinople shall be conquered, its commander shall be the best commander ever and his army shall be the best army ever” HR. Ahmad.

Memang pemimpin dan pasukan terbaiklah yang akan menaklukkan konstantinopel yang bergelar “The City with Perfect Defense” dengan temboknya yang tak tertembus selama 1.123 tahun yang menahan 23 serangan. Hanya sekali temboknya pernah ditembus oleh pasukan salib pada 1204. Selebihnya semua serangan bisa dinetralkan oleh pasukan bertahannya.

Dialah Mehmed II bin Murad II yang lebih dikenal Muhammad II diberi gelar Al-Fatih karena berhasil menjadi pemimpin terbaik yang telah menaklukkan Konstantinopel.

Semuanya terjadi pada 1453

Cerita : Merantaulah

2 tahun lagi, kira-kira setelah gadis itu menamatkan pendidikannya di bangku SMA, pasti ada seseorang yang menanyainya semisal ini, “Mau kuliah di mana?”

Dengan sejuta keyakinan, dia akan menjawab, “Insyaallah di Bogor”.

Dan sudah bisa ditebak, tanggapan orang yang bertanya itu seperti apa, “Kok jauh sekali? Kenapa tidak di Banyuwangi saja atau sekitarnya? Lagi pula, di Banyuwangi kan sudah ada Unair”

Dengan senyuman sepahit madu, gadis penuh impian di otaknya itu akan berkata, “Aku ingin merantau”

Lalu akan dia sambung dengan penggalan syair dari Imam Syafi’i yang telah menyatu dengan darahnya, “Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup di negeri orang
Merantaulah…
Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang”

Cerita : Lekaki Pengumandang Adzan

Aku sering memperhatikan laki-laki itu. Dia pengumandang Adzan di mushola kecil di kampungku.

Setiap selesai berbuka puasa aku segera ke kamar mandi untuk berwudhu untuk dan menggosok gigiku. Karena aku harus tampil bersih dan selalu suci ketika ingin bertemu Tuhan.

Di antara keluargaku, aku orang pertama yang suka datang ke musholla itu lebih awal. Aku suka mengawali segalanya. Karena aku tak ingin terburu-buru, meskipun nyatanya aku sering terburu-buru. Itu sifatku.

Aku tiba di musholla kecil yang terletak di gang kampung di tepi persawahan. Sebenarnya jarak musholla ini dengan rumah cukup jauh dan…
Tapi keluargaku, termasuk diriku menyukai bertemu Tuhan di sini. Dan meskipun di sebelah rumahku ada musholla yang lebih nyaman. Entah, mungkin ada ajaran yang berbeda antara musholla di sebelah rumahku dengan musholla itu.

Lelaki si pengumandang adzan itu tiba. Ia segera meraih pengeras suara dan mulai menyerukan panggilan Tuhan. Suara yang merdu, kataku dalam hati.

Aku suka memperhatikannya. Dari ia menginjakkan kaki di musholla ini hingga aku meninggalkan musholla ini. Aku tahu di mana ia tinggal. Setiap hendak ke musholla itu aku selalu melewatinya. Bahkan setiap tahun, aku selalu bertandang ke rumahnya. Saat lebaran tiba tentunya. Aku mengenal adiknya dan tahu sedikit tentangnya. Tapi anehnya aku tak tahu nama lelaki itu. Apa mungkin dulu aku sudah tahu lalu lupa atau memang aku belum tahu. Entahlah. Tapi aku menyukai lelaki yang sepertinya 3 tahun lebih tua dariku. Aku suka dia. Dia lelaki yang baik. Dekat dengan Tuhannya.

Tapi aku tak mungkin bilang, “mas, aku suka kamu” itu hal gila bagiku. Dan sangat gila. Bagiku cinta itu tak perlu dinyatakan. Hanya perlu disimpan. Dan hanya diriku dan Tuhan yang tahu.