Cerita : Mereka Memilih Layang-Layang

Aku tinggal di kampung. Saat musim kemarau tiba, ada sebuah tradisi yang tak boleh terlewatkan. Bermain layang-layang. Ya, bermain layang-layang. Permainan yang bisa disebut gampang-gampang susah. Gampangnya sih saat si layang-layangnya sudah melayang bebas di angkasa nan luas. Susahnya itu, saat berusaha menaikkan atau menerbangkan layang-layangnya. Menurutku hal yang satu ini sangat susah. Tapi bagi mereka (sudah ahli layang-layang) ini masalah kecil.

Permainan ini tak memandang usia dan gender. Mulai dari anak TK sampai bapak-bapak suka sekali dengan layang-layang. Bahkan permainan layang-layang ini tak hanya dimainkan oleh lelaki saja, ada kok perempuan yang memainkan permainan ini. Dia tetangga belakang rumah. Penampilannya mirip sekali dengan laki-laki. Sebelas-dua belaslah. Wajar dia seperti itu, ya karena dia tak pernah bermain dengan anak perempuan. Dia selalu saja bermain dengan anak laki-laki. Seringkali aku temui, dia sedang berebut layang-layang yang sudah putus dengan teman lawan jenisnya.

Aku heran, kenapa mereka tergila-gila sekali dengan rangka bambu yang dilapisi kertas ini. Mereka rela bermain dengannya dari pagi hingga menjelang sore daripada membaca kitab sucinya. Haha… Aku tak akan tahu, karena aku tak bisa memainkannya. Mungkin mereka bahagia dengan kertas berangka itu daripada kertas bertuliskan firman Allah. Entah…

Advertisements

Cerita : Anak Kota

Suara murrottal terdengan mengalun lembut di telingaku. Begitu juga dengan suara ibuku yang mengikuti lantunan ayat-ayat suci itu. Berbeda dengan suaraku, tak jelas nadanya, makhrojnya, tajwidnya, dan semuanya lah, singkatnya kemampuan membaca qalam Allah itu masih belum sempurna. Tapi aku sedang berusaha untuk menuju kesempurnaan itu.

Tok… Tok… Terdengar suara pintu rumahku diketuk. Sontak aku memanggil ibu untuk membukakan pintu. Ibu langsung memakai kerudungnya dan segera membuka pintu rumah. Aku penasaran siapa yang bertamu di petang hari menjelang isya’ ini. Oh ternyata, saudara sepupuku.

Ibu menyuruhku memakai kerudungku untuk bersalaman dengan mereka. Aku hanya menurut. Kini aku sudah menutup aurat. Aku segera memanggil kakakku yang ada di dalam kamar untuk segera keluar. Aku tahu kalau kakakku paling tak suka jika saudara-saudara sepupuku ini berkunjung. Tapi aku tetap memaksa agar kakakku ini keluar. Aku ingin dia menghormati tamu dan lebih dekat dengan saudaranya.

Kami pun berbincang-bincang ringan, layaknya keluarga yang lama tak bertemu. Memang baru kali ini aku bertemu mereka sejak lebaran tahun lalu. Mungkin ini hikmah lebaran, bisa mempertemukan saudara-saudara yang terpisah.

Saudara sepupuku ini ada 3. Satu laki-laki yang merupakan mas tertua di antara saudaranya yang lain. Dia kuliah di Bogor. Tepatnya di IPB. Dan sepertinya insyaallah 2 tahun lagi aku akan menyusul ke kampus yang mempunyai banyak nama plesetan itu. Mas ini sepantaran dengan Mbakku.

Mas itu punya adik perempuan kembar. Mereka sekarang sedang kuliah di Malang dan Surabaya.

Mereka pun akhirnya pamit undur diri. Setelah batang hidung mereka tak tampak lagi, Mbakku menggerutu, “Namanya juga anak kota, gaya bicaranya sudah keliatan” dia langsung masuk kamar.

Aku berpikir, 2 tahun lagi insyaallah aku akan pergi ke Bogor untuk menyusul Mas itu. Itu berarti aku akan menjadi anak kota. Dan apakah gaya bicaraku akan berubah seperti anak kota? Ah… Entahlah. Aku tak tahu. Jika hal itu terjadi, gaya bicaraku menjadi gaya anak kota, kabar buruknya mbakku pasti tak akan menyukai. Dia tidak suka gaya bicara “anak kota”.

Tulisan : Doa

Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendah diri dan (dengan suara) yang perlahan. Surah Al-A’Raf : 55

Kalau berdoa nggak perlu kenceng-kenceng. Allah sudah tahu kok isi hati kita.

Allah itu sangat dekat. Lebih dekat dari urat leher kita.

Jadi, kalau berdoa (dikutip dari Ustad Nur Hadi waktu isra’ mi’raj di sekolah) :
1. Pejamkan mata. Biar doanya khusyuk.
2. Menengadahkan tangan di depan dada. Kenapa harus begini? Karena kalau Allah ngasih rahmat-Nya, biar bisa kita tangkap dengan menengadahkan tangan.
3. Berdoa sehening mungkin. Jangan sampai sebelah kita mendengar doa kita. Kan Allah maha dekat, jadi nggak perlu keras-keras.
4. Berprasangka baik ke Allah SWT. kalau doa kita akan dikabulkan. Allah itu sesuai prasangka hambanya.

Dan berdoalah di waktu-waktu mustajab. Salah satunya sepertiga malam terakhir.
“Doa di saat tahajjud adalah umpama panah yang tepat mengenai sasaran – Imam As-Syafi’i”

Cerita : PeSanQu (Kabar) #1

Hari semakin sore. Semburat oranye mulai menampakkan diri untuk mengantarkan mentari ke tempat peristirahatannya. Hal ini menjadi pertanda akan berakhirnya liqo’ minggu ini. Aku pun bersiap untuk pulang. Akan tetapi pertakataan murrobbiku menghentikan niatku untuk pulang, “Dek, insyaallah Bulan Ramadhan nanti ada Pesanqu di Banyuwangi. Ikut ya?”

“Pesanqu?” tanyaku heran.

“Oh maaf, mbak tadi lupa bilang ya. Pesanqu itu singkatan dari Pesantren Ramadhan Qur’an. Jadi, seperti ikut mondok, tapi terkhususkan untuk menghapalkan Al-Qur’an. Hanya 2 minggu dek” Jelas murrobbiku.

Aku terdiam. Aku belum memberikan jawaban