Madinah Namanya

Aku baru tahu nama gadis itu. Madinah namanya. Singkat dan sangat jelas menurutku. Nama yang istimewa untuk gadis yang istimewa. Kau tahu kawan, dia adik kelasku. Tepatnya ia baru bergabung menjadi anggota keluarga besar sekolahku.

Wajahnya sangat jelas menyiratkan wajah seseorang yang selalu terbasuh air wudhu. Sangat menentramkan ketika dipandang. Terlihat dari gaya berpakaiannya, dia bukan perempuan yang suka neka-neko. Dan hal yang selalu membuatku tersenyum simpul ketika bertemu dengannya yaitu, ia selalu menjulurkan kerudungnya di dadanya. Mungkin kau menganggapku aneh kawan. Tapi coba kau pikirikan dahulu, kalau perempuan yang dalam tanda kutip meskipun dia berkerudung, tak kan pernah menjulurkan kerudungnya sampai kancing ketiga di bajunya. Dan kesimpulannya, dia perempuan baik-baik.

Dan selama ujian akhir semester ini aku akan sering bertemu dengannya. Atau bahkan aku akan sering bertukar pikiran dengannya dalam sepekan ini. Hanya sepekan. Tak lebih dan tak kurang. Kau tahu kawan mengapa? Karena aku duduk semeja dan berbeda kursi dengannya.

Kamar, 03 Desember 2015
Late post 😀

Advertisements

Waktu yang Terus Mengejar

Kadang aku merasa pilu saat ku sadari, tak lama lagi aku akan berpisah dari kedua orang tuaku. Paling cepat satu setengah tahun lagi aku akan meninggalkan mereka. Pergi ke tanah rantaun. Mengais seteguk ilmu kehidupan di tengah samudra ilmu yang tak berujung. Setelah itu aku tak kan lagi punya waktu untuk mereka. Karena mungkin saja telah ku temukan teman hidupku. Dan yang ku ingat satu hal, setelah menikah tak mungkin seorang suami mengikuti sang istri. Tapi sang istrilah yang harus mengikuti pemimpinnya, suaminya. Atau mungkin kami-aku dan suamiku-akan merajut jalan yang indah untuk meraih impian kami dulu sewaktu muda yang tak sempat terwujud. Ku rasakan semakin tipis waktuku dengan keluargaku. Ku rasakan waktu terus mengejarku. Mengingatkanku kalau waktuku tak lama lagi.

Mulai saat ini aku telah bertekad di hatiku paling dalam bahwa aku akan membuat waktuku yang bersisa dengan keluargaku menjadi waktu yang sangat berkesan.

Memilih pilihan terbaik itu kadang seperti mengerjakan soal bahasa Indonesia. Semua pilihan sekilas terlihat sama. Tak ada bedanya. Dan saat itu juga kita mulai lupa kalau memilih itu, ya hanya satu pilihan, bukan dua, tiga, empat, atau lima. Tapi masalahnya kita tidak tahu mana yang terbaik. Karena kita tahu, saat kita memilih, kita tidak cukup memilih dengan kata “baik” saja, tapi harus dan harus yang “terbaik”.

Rumah, 05 Desember 2015

Berita di Pagi Hari

Takdir memang selalu punya cara tak terduga agar selalu tampak mengejutkan.

Aku tak pernah menyangka kalau dia akan pergi secepat ini. Baru kemarin ku dengar dia sudah agak baikan. Dan baru tadi pagi pintu rumahku diketuk oleh sepasang perempuan di saat ayam belum berkokok. Aku heran ada kepentingan apa hingga mereka harus bertandang di rumahku jam setengah tiga pagi.

Di balik kamar, ku dengarkan lamat-lamat mereka berbicara. Mataku sudah dalam keadaan prima. Tak ada rasa kantuk menggelayut di kelopak mataku. Karena aku sudah terbiasa bangun di saat orang lain terlelap.

“Arofah sudah pulang, Mbak” katanya dalam bahasa Jawa.
Itu saja kalimat yang sangat jelas ditangkap oleh telingaku.

Aku tak menyangka kenapa bisa secepat ini. Dia masih muda. Seumuran kakakku. Satu hal yang akan selalu ku catat, takdir selalu punya cara agar tampak mengejutkan.

Saat itu juga aku, ibu, dan kakak perempuanku pergi ke rumah duka. Dia termasuk kerabatku, jadi jangan heran pagi-pagi buta kami sudah ke sana.

Ku lihat sudah banyak orang fi sana, meskipun gelap tak kunjuk beranjak. Di sana aku tak mau melihat keadaan mbak itu. Aku takut. Takut sekali. Karena aku takut jika ada orang meninggal. Satu hal yang selalu terfikir saat aku melihat orang meninggal, “bagaimana aku bisa tidur nanti”.
Ada satu hal yang membuatku termenung, mbak itu pulang saat malam jum’at, bagaimana denganku diriku nanti?

Lagi. Ada hal yang paling membuat hatiku ngilu sejadi-jadinya, saat ku lihat ibu dari mbak itu seakan masih menganggap kalau mbak itu masih hidup. Tak pergi ke mana-mana, “Ia hanya tidur. Nanti juga akan bangun” Hal yang terbanyang di benakku detik itu juga, bagaimana nanti kalau aku jadi seorang ibu, apakah aku sama tak relanya melepas kepergian anakku nanti? Apakah aku akan tampak seperti orang gila? Wallahua’lam.

kamar, 04 November 2015

Terima Kasih, Kawan

Terima kasih untuk kamu yang dengan tulus hati mengajariku kesetimbangan kimia sore itu. Aku tahu kau punya hal yang lebih penting dari hanya sekedar mengajari aku yang dongkol jika berhubungan dengan kimia. Atau mungkin kau punya rentetam buku teks kimia tebal yang harus kau selesaikan saat itu juga. Tapi aku bahagia kau tak menolakku saat aku memintamu mengajariku tentang pelajaran tersulit dalam hidupku ini. Kau dengan entengnya mengangguk dan menyunggingkan senyum bulan sabitmu itu. Terima kasih kau telah meluangkan pikiranmu, tenagamu, waktumu, uangmu-untuk bensin-, dan khusunya untuk emosimu. Aku senang kau dengan sabarnya menuntunku seperti anak yang baru belajar berjalan untuk memahami reaksi demi reaksi dalam kesetimbangan kimia. Kau tahu otakku bebal sekali jika harus disesali dengan sesuatu yang berbau kimia, tapi kau hanya tersenyum simpul menyadari hal itu. Dan hal yang makin membuatku terkesan, kau dengan sabar menjawab pertanyaanku yang seperti air bah di bulan desember yang tak pernah berakhir. Tak pernah kudengar nada bicaramu naik berapa oktaf saat aku masih tak kunjung mengerti. Terima kasih kawan, kini, karena kau aku tak kan pernah lagi putus asa dalam kimia. Aku tak kan pernah takluk lagi hanya dengan rumus-rumus kimia itu. Malahan akan aku tunjukkan padamu akan kutaklukkan rumus-rumus itu. Semoga Allah mengabulkan cita-citamu untuk menjadi seorang ahli teknik kimia, dan aku doakan semoga Allah menjadikanmu seperti Mas Habibi yang bisa diterima di Teknik Kimia ITB. Amin.

Rumah, 3 Desember 2015

Tulisan: Virus dan Bakteriofage

Jika kamu sebuah virus, izinkan aku menjadi bakteriofagenya. Aku rela kamu menyakitiku sama halnya si virus membunuh si bakteri secara halus. Aku tak keberatan hidupku tergadaikan hanya untuk melihat si virus berkembang, bereplikasi. Aku tahu itu menyakitkan. Tapi semuanya terbanyar ketika aku tahu bahwa akulah sosok yang diciptakan Tuhan hanya untukmu. Ya, hanya untukmu. Seperti virus, virus hanya akan bereplikasi jika ia menemukan reseptor yang cocok. Dan reseptor yang diciptakan Tuhan untukmu ialah aku.