Teman(lagi)

Berulang kali saya memikirkan hal ini : bentuk dan rupa kamu akan selalu mengikuti orang-orang di sekitarmu. Disadari atau tidak, jika kamu–anggap saja kamu seorang wanita yang berhijab tertutup sesuai syariat–berada di tengah-tengah temanmu yang berkerudung minim, berpakaian tetapi telanjang, perkataannya masih belum mampu ia tata, dan hal lain semisalnya, lambat laun kamu akan mengikuti mereka. Kenapa? Karena memang manusia tidak mau tampak berbeda dari kalangannya apalagi jika ia hanya seorang diri.

Bahkan Rasulullah pun telah mengumpamakan sosok teman yang kita miliki.

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Hal seperti itulah yang tengah saya rasakan saat ini. Mayoritas teman-teman yang liqo dengan saya menggunakan hijab yang sangat rapi bahkan ada beberapa yang bercadar. Saya yang hijabnya masih belum sempurna ketika berada di tengah-tengah mereka rasanya bagai butiran debu. Dengan ilmu agama yang cetek. Kemampuan bacaan Al Quran masih belepotan. Parahnya lagi selalu saja memikirkan dunia sebagai tujuan utamanya. 

Meskipun begitu, saya bersyukur hadir di antara orang-orang baik berdasarkan versi saya. Karena semua ini merupakan nikmat yang Allah berikan ke saya. Keberadaan mereka secara tidak langsung senantiasa mengingatkan saya untuk terus memperbaiki diri, berbenah, menata hati, dan terus mengkaji agama yang saya yakini. 

Saya merasakan semangat untuk terus dalam kebaikan. Malah pernah terbersit di hati saya, ingin rasanya berhijab seperti mereka. Dengan begitu saya perlu lagi mengenakan mukenah ketika hendak sholat. Tapi, apalah daya saya. Saya kira saya masih belum siap untuk menjadi seperti mereka. Saya belum siap dengan ukuran-ukuran mereka. Tapi saya harap suatu hari nanti saya disiapkan oleh Allah dengan ukuran-ukuran yang mulia itu. Amin.


Banyuwangi, 31 Mei 2017 | 05 Ramadhan 1438H

Advertisements

Islam

Saya terlahir menjadi seorang muslim. Dulu saat kanak-kanak saya hanya mengikuti apa yang orang tua saya imani, Islam. Saya tak pernah bertanya kepada mereka kenapa harus Islam karena lambat laun saya memahami mengapa mereka memilih Islam sebagai jalan hidup mereka. Sampai akhirnya saya sendiri pun memilih Islam sebagai pilihan hidup saya. Meskipun saya terlahir sebagai seorang muslim, saya tak ingin hanya sekedar mewarisi gelar keislaman dari orang tua saya. Saya ingin memahami dan menjalankan esensi dari Islam itu sendiri. Saya ingin menjalankan Islam secara kaffah.

Saya tahu dengan terus berpegang teguh pada keislaman yang kaffah, saya harus menghiasi diri saya dengan kesabaran. Rasulullah saw pun sudah menggambarkan kehidupan di zaman ini, seperti memegang bara api. Panas? Tentu saja. Apa dengan melepaskannya lantas menjadi dingin? Ya, awalnya memang seperti itu. Tapi, semakin lama, semakin panas yang akan dirasakan.

Saya merasakan, dunia ini begitu melenakan. Benar dan salah seakan berbaur. Menjadi bias. Sulit untuk dibedakan.

Pun, jika kita menemukan sebuah kebenaran, memangnya kita akan dengan mudah melaksanakannya? Entahlah. Iman kita tidak setebal Rasulullah. Kecaman, sindiran, tatapan aneh akan selalu datang saat kita berusaha menegakkan kebenaran.

Semoga saja, di bulan Ramadhan ini, keimanan kita bisa menyamai panutan kita, Rasulullah. Jika tidak, setidaknya iman yang masih tersisa di dalam hati masih mampu kita rawat sepanjang usia kita. Amin

Banyuwangi, 28 Mei 2017 | 02 Ramadhan 1438 H

Catatan Perjalanan : Transportasi dari Depok ke Bandara Soekarno-Hatta

Kemarin lusa saya memutuskan untuk pulang dari Depok ke Banyuwangi. Karena alasan menghemat waktu, biaya, dan tenaga kakak saya menyarankan untuk menggunakan pesawat saja. Ya sudah saya memutuskan untuk naik pesawat dari Soekarno-Hatta ke Surabaya.

Saat itu saya sudah memesan tiket pesawat Lion jam 10.00 WIB pada hari Senin, 22 Mei 2017. Karena teman-teman tahu, kalau Depok rawan macet, jadi saya berangkat dari tempat kos kakak saya jam 05.30 WIB. Tempat kos kakak saya berada di Jalan Margonda. Kami menunggu angkot di Jalan Margonda untuk menuju Terminal Depok. Mengapa saya naik di terminal? Karena di terminal informasi yang kamu butuhkan tentang transportasi tersedia dengan lengkap dan insyaallah angkutannya pun telah tersedia.

Sesampainya di Terminal Depok saya langsung menghampiri tempat di mana ada kumpulan bis Hiba Utama. Bis ini akan mengantarkan saya langsung ke Bandara Suta dan terminal di mana saya akan naik.

Sebelum saya menaiki bis ini, saya membeli tiket dulu di loket tak jauh dari tempat kumpulan bis itu. Saya tidak tahu tahu loket itu miliknya siapa, entah itu milik Hiba Utama atau terminal. Setelah itu saya langsung berpamitan dengan kakak saya dan segera masuk ke dalam bis karena waktu keberangkatan sebentar lagi. yakni jam 06.00 WIB.

Menurut saya kondisi bisnya nyaman. ACnya berfungsi dengan baik. Meskipun kursinya tidak terlalu empuk. Tapi, overall fasilitasnya mendukung. Yang sangat disayangkan, bis ini tidak dilengkapi dengan wifi.

Benar saja seperti dugaan awal kalau selama perjalanan, kami seringkali harus bergumul dengan kemacetan meskipun itu di dalam tol dan termasuk di area Bandara Soekarno-Hatta juga.

Saya sampai di Terminal 1A tempat boarding saya pukul 08.45 WIB. Berarti perjalanan saya dari Depok ke Bandara Soekarno-Hatta membutuhkan waktu 2 jam 45 menit. Jadi, untuk teman-teman yang akan ke Bandara Suta dari manapun, jangan lupa perkirakan waktu kemacetan dan jangan sampai kamu ketinggalan pesawat karena terjebak macet.

Banyuwangi, 24 Mei 2017

Pantaskah Mereka Didahulukan?

Siang tadi, sepanjang perjalanan dari Bandara Juanda ke rumah saudara saya yang letaknya di Kletek, saya menemukan sebuah peristiwa yang menggelitik hati. Sekitar pukul 12-an tadi, jalanan sedang penuh dengan kendaraan besar–truk dan sejenisnya sehingga macet tak bisa dihindarkan. Semakin lama, sumpek makin saya rasakan di tembak lagi matahari yang memanaskan ubun-ubun. 

Di tengah perjalanan dari kejauhan saya mendengar bunyi sirene. Awalnya samar-samar makin lama makin nyata bunyinya. Saya kira sirene itu berasal dari ambulance ternyata berasal dari mobil polisi yang sedang mengawal rombongan P*S yang sedang tour. Mobil polisi itu terus mengklakson mengisyaratkan agar kendaraan di depannya menyediakan jalan bagi mereka.

Saya tidak habis pikir dengan apa yang mereka lakukan. Mereka adalah politisi. Slogan pro rakyat selalu digambarkan gemborkan. Tapi apa kenyataannya? Oh ayolah, itu hanya omong kosong. Pemanis bibir saja. 

Kalau memang mereka pro rakyat, setidaknya mereka rela berpanas-panasan ria dan bermacet-macetan ria dengan rakyatnya. Katanya ingin merakyat? Ingin dekat dengan rakyatnya? Kok malah tindakannya seakan tidak mengerti rakyat?

Berdasarkan pelajaran PPKn yang pernah saya dapatkan di bangku sekolah, meski sejujurnya saya tidak begitu memperhatikan, kedudukan seluruh rakyat Indonesia sama. Jadi, di jalan raya seharusnya berlaku juga. Tak ada yang perlu diprioritaskan kecuali ambulance, menurut saya. Menurut Anda, apakah rombongan politisi yang sedang melancong harus didahulukan? Saya rasa Anda tahu jawabannya.
Sidoarjo, 22 Mei 2017

Merantaulah

Dulu memang pernah terbersit di benakku untuk merantau. Di pikiranku yang waktu itu masih berseragam biru putih itu, merantau sangatlah keren. Jauh dari orang tua, merasakan kebebasan, melancong ke mana-mana, dan menjadi anak kota. Pikiranku yang masih lugu mengesampingkan kenyataan bagaimana jika nanti aku merasa kesepian, rindu yang membuncah, dan kudapati diriku berbeda dengan pribadiku yang dulu.

Kata orang, merantau lah dengan begitu engkau akan merasakan betapa sakitnya kerinduan dan merasakan betapa manisnya perjumpaan. 

Perkataan Imam Syafi’i seakan telah merasuki hatiku. “Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang (Imam Syafi’I 787-820 M)”

Memang aku belum sepenuhnya merantau. Tapi aku dapatkan sebuah kesimpulan dari mahasiswa perantau yang telah aku temui. Tanggung jawab. Itu lah yang harus kau emban jika kau memutuskan untuk menjadi seorang perantau. Tanggung jawab akan dirimu sendiri, tanggung jawab terhadap amanah yang kau emban, akan pendidikanmu di tanah rantau, dan tentunya akan kepercayaan yang telah orang tuamu berikan. 

Satu hal yang aku takutkan, aku tak mampu menjaga tanggung jawab itu. Semoga saja Allah membantuku dalam menjaga tanggung jawab yang telah diamanahkan kepadaku.
Soekarno Hatta Airport, May 22 2017

The Kind of You is Determined by Your Friends

I have no idea. Right now, I just want to share about what I have read, friends. Yeah, they are who always around you whenever and wherever you are. They are is a place for you to share everything. They are who always support you when you are lazy, unmotivated, and when you feel bored. Those are the positive effect from friends. While the negative impacts from friends which I feel for so long are lead to me to something worse. For so long after thinking so hard, I assume that the kind of you in the future is determined by what kind of your friends are. So, if you wanna be a good person, please make a friendship with good one too. While if you wanna be a bad person, you will make a friendship with a bad one too. I think you can choose a kind of friendship which you want.

Because I’ll be a freshman in two months and I must live in hostel, I hope I’ll have a good friend that will accompany me to be a better person. Amin

Untukmu yang Sedang Menghafal Alquran

Apa yang ada di benak kalian jika berbicara mengenai musik? Dunia muda mudi? Kekinian? Surga dunia? Pembangkit semangat? Penyebar virus galau? Baiklah, aku akui semuanya benar. Aku pun telah mengalaminya sendiri. Aku pernah mengalami di mana sepanjang hidupku seakan tiada hari tanpa musik. Hidup jadi hampa tanpa musik seperti sayur tanpa garam. Aku pun seakan mendoktrin diriku sendiri kalau aku pasti mengantuk saat belajar tanpa diiringi dengan musik. Ya, anggap saja saat itu musik adalah temanku yang paling setia.

Dulu saat aku mulai mendapat hidayah-Nya dan mulai menghafal Al-Quran tepatnya saat kenaikan kelas 10 ke kelas 11, dengan kerelaan diri – karena saat itu ingin sekali hafal banyak juz di Al-Quran – semua musik aku ganti dengan murottal. Lagu Inggris berganti menjadi lantunan ayat suci dengan Qari’ favoritku, Syaikh Mishary Rashid Alafasy. Karena ambisiku yang begitu besar, maklum lah masih baru hijrah jadi bawaannya ingin jadi baik terus, tiap hari dari no day without music beralih menjadi no day without murottal. 

Sebagai manusia, kita sudah diftrahkan untuk bosan terhadap sesuatu. Saat itu, celakanya, aku bosan mendengarkan murottal. Ya sudah, di samping mendengarkan murottal aku juga mendengarkan musik. Oh ayolah, aku anak muda dan bagi kami, our life will be flat without music. Dan akhirnya, aku keterusan mendengarkan musik sehingga murottal menjadi hal yang tersisihkan.

Seperti yang pernah guru agamaku katakan, sedzalim apa pun perbuatan seseorang, sehina apa pun perbuatan keturunan Nabi Adam, pasti hati kecilnya pernah berbisik kalau perbuatan itu salah. Saat itu, mungkin masih terselip inginku di dalam hati kecilku. Well, actually I have a dream become a hafidzah. And then, tentu hati kecilku berontak, “kalau mau jadi hafidzah, ada konsekuensinya. Musik harus kamu tinggal. Itu sangat menggangu konsentrasi kamu” Saat itu hafalanku masih satu juz, jadi aku tidak merasa hafalanku hilang lantaran keterusan mendengarkan musik. Sehingga aku tidak heran, sebentar-sebentar aku kembali ke jalan yang lurus dan kemudian ke jalan yang dimurkai-Nya.

Sampai kelas 12, awal semester tepatnya. Alhamdulillah, bisa dikatakan hafalanku lumayan. Tapi sayangnya, aku tidak amanah dalam menjaganya. 1 juz melayang dan aku harus mengulanginya kembali. Kau tahu kenapa? Semua karena musik. 

Saat kelas 12, tekanan dan tingkat stress kami sudah berada di level dewa. Untuk sedikit menghambat kerja hormon adrenalin, tiap jam kosong atau istirahat, kelas ku berubah menjadi studio musik. Saat pelajaran matematika pun seperti itu. Musik selalu menemani kami. Awalnya aku anggap angin lalu saja musik yang diputar di kelas seiring peningkatan kejenuhan, kepenatan, aku pun mulai mengikuti lantunan musik yang diputar oleh teman-temanku. 

Singkat cerita, setelah keterima di PTN, aku memutuskan untuk murojaah. Dari sini aku tahu, hafalanku telah hilang sejuz.

Nah, untuk teman-teman yang sedang menghafal Al-Quran atau sedang berusaha menjaga hafalannya. Sebisa mungkin hindari musik. Sayang sekaliz, surah demi surah yang susah payah kalian hafalkan berakhir dengan sia-sia. Kalau kalian masih susah menghilangkan kebiasaan mendengarkan musik, camkan kalau musik itu haram. 

Akan datang pada umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina sutra, khamr (minuman keras) dan alat musik, dan sungguh akan menetap beberapa kaum di sisi gunung, di mana (para pengembala) akan datang kepada mereka dengan membawa gembalaannya, datang kepada mereka -yakni si fakir- untuk sebuah keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah menghancurkan mereka pada malam hari, menghancurkan gunung dan merubah sebagian mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat.” Shahiih al-Bukhari, kitab ash-Shalaah, bab Bun-yaanul Masjid (I/539, al-Fat-h).
Bandung, 14 Mei 2017