The Little Prince

The little prince, buku berbahasa Inggris pertama yang benar-benar saya rampungkan sampai halaman akhir. Sebenarnya banyak buku berbahasa Inggris yang telah saya baca, tapi tidak semua benar-benar mencapai halaman akhir. Saya rasa buku ini berbeda. Ceritanya unik dan tidak terlalu membutuhkan analisis. Sejatinya buku ini adalah buku cerita anak-anak. Tapi jangan pernah kamu berfikir ini sebuah buku yang bercerita tentang seorang pangeran yang menyelamatkan putri dan kemudian menikah, actually it’s wrong. Buku ini–sepunuhnya berisi sindiran kepada orang dewasa. Entah mengenai perilakunya, pemikirannya tapi yang paling ditekankan adalah pemikirannya. Bagaimana pemikirannya tidak pernah menghargai anak kecil, bagaimana mereka selalu memaksa mereka untuk melakukan apa yang baik menurut mereka, bagaimana mereka selalu memandang apa pun berdasarkan uang, dan bagaimana mereka tidak pernah tulus dalam melakukan sesuatu.

Ada penggalan tentang persahabatan yang saya suka :

“One only understands the things that one tames,” said the fox. “Men have no more time to understand anything. They buy things all ready made at the shops. But there is no shop anywhere where one can buy friendship, and so men have no friends any more. If you want a friend, tame me…” “What must I do, to tame you?” asked the little prince.

To forget a friend is sad.

 Not every one has had a friend. 

And if I forget him, I may become 

like the grown-ups who are no 

longer interested in anything but 

figures…  



Bagi kamu yang ingin memahami hidup melalui kisah yang mudah dicerna, saya rasa buku ini cocok. Happy reading 😉 

Banyuwangi, 29 Juni 2017 | 05 Syawal 1438 H

Advertisements

Mendidik Anak-anak

Di benak saya yang suka anak-anak, merawat anak-anak itu mudah. Ketika mereka rewel–seperti yang pernah saya baca–kita hanya perlu mengiming-imingi mereka dengan gula-gula dan seketika mereka akan jinak kembali. Dan asas praduga saya itu salah. Salah besar. Ya, ini bukan salah saya karena memang saya anak terakhir sehingga tak ada yang namanya ‘adik’ dalam hidup saya.

Lebaran tahun ini memang berbeda, selain saya telah menyandang status camaba, saya juga merasakan untuk memiliki adik untuk beberapa saat. Memang ‘adik’ itu bukan adik saya, dia sebatas sepupu saya. Di usianya yang lima tahunan, semua yang ada di dunianya harus tunduk padanya dan dialah yang menjadi rajanya. Semua keinginan harus dipenuhi. Semua yang tidak ia inginkan tidak boleh dilakukan. Dan jika semuanya berjalan tidak sesuai keinginannya senjata ampuhnya akan ia keluarkan–tangisannya.

Saya pernah membaca kalau dalam mendidik anak tidak boleh dilakukan kekerasan sedikit pun. Saya pun setuju dengannya. Jika anak-anak nakal, ya biarkanlah, toh mereka hanya anak-anak. Yang ada dipikirannya hanyalah bermain tanpa mau membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Ketika saya melihat ada anak-anak yang sedang ‘dididik’ oleh orang tuanya dengan cara sedikit ‘kekerasan’ seperti dicubit, dipukul, atau sebagainya, saya rasa tindakannya itu salah. Iya memang jika anak-anak sedang rewel kita menjadi sangat tidak sabar, ingin segera hentikan tangisannya. Tapi, kalau anak-anak makin dikerasi, dia pun akan semakin rewel. Mengapa kita tidak buat sebuah janji dengan mereka, misalkan mereka mau melakukan ini mereka akan mendapatkan ini. Itu lebih baik daripada memukuli mereka. Dengan memukuli mereka seperti itu mungkin nantinya akan membuat anak-anak itu takut pada orang tuanya, takut berbagi ketika dia sudah besar, takut jika ia curhat dia akan kena amukan kedua orang tuanya. Dan intinya mendidik anak-anak dengan kekerasan hanya akan membuat sebuah ‘jarak’ antara anak dengan orang tuanya.
Banyuwangi, 29 Juni 2017 | 05 Syawal 1438 H

Books : Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk

Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk adalah buku tulisan Ahmad Rifa’i Rif’an keempat yang saya punya. Saat saya memutuskan membelinya pada tahun 2015 lalu, buku ini telah mengalami beberapa revisi dan telah mencapai cetakan ke-13. Sejauh ini saya selalu menyukai buku besutan Mas Rifa’i. Buku-bukunya selalu berhasil membuat saya ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Sama seperti judulnya, buku yang tebalnya 360-an halaman ini kebanyakan berisi tentang renungan bagi kita–manusia yang merasa sok sibuk sehingga lupa akan kewajibannya sebagai hamba-Nya. Buku ini tersusun atas 4 bab. Bab pertama, menata hati, membenahi nurani. Bab kedua, rumahku, surgaku. Bab  ketiga, memancarkan cahaya surga di tempat kerja. Dan bab keempat,  memperkokoh semangat dan visi hidup.  

Ketika mulai membaca buku ini yakni awal Ramadhan tahun 2017, jujur, ketika mulai membaca lembar awal yang berisi renungan, saya menangis. Renungan yang mas Rifa’i tulis seperti menampar diri saya, menyadarkan diri saya kalau selama ini saya selalu menomor duakan Allah. Saya selalu menunda-nunda dalam beribadah kepadanya padahal Allah tak pernah menunda-nunda kasih sayangnya pada saya. Dan karena itu saya semangat dalam membaca buku ini karena saya berharap saya semakin tersadar akan semua kesalahan saya selama ini.

Benar saja, banyak hal yang saya ketahui setelah membaca buku ini. Gaya penyampaian dan penulisan mas Rifa’i yang ringan sehingga pesan yang ingin ia sampaikan Insya Allah sampai pada pembacanya.

Dan inilah penggalan tulisan yang ada di sampul belakang.

Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan. Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, kami sangat sibuk. Jangankan berjemaah, bahkan munfarid pun kami tunda-tunda. Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajoban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami. Jangankan puasa Senin-Kamis jangankan ayyaamul baith, jangankan puasa nabi Daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh.

Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu. Jangankan sedekah, jangankan jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja sering kali terlupa.

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak. Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukun, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. Tuhan, tolong, jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami. Karena kami masih terlalu sibuk.

Saya saya menyarankan untuk kamu yang sangat sibuk dengan agendamu untuk membaca buku ini sehingga setidaknya kamu sadar kalau kamu tetaplah seorang hamba yang harus meluangkan waktunya untuk beribadah kepada-Nya. Karena seperti firman-Nya, Allah menciptakan jin dan manusia tidak lain adalah agar mereka beribadah kepada-Nya. Semoga saja kalian diberikan kesempatan untuk membaca buku ini. Amin

Banyuwangi, 25 Juni 2017 | 01 Syawal 1438 H

Dibaca saat jadi calon mahasiswa baru.

Untuk Kalian yang Belum Diloloskan di PTN

Jujur, untuk kalian yang belum mendapatkan PTN dan masih harus berjuang untuk mendapatkannya, kalian sungguh sangat keren, keren banget deh. Kenapa? 

1. Allah cinta kalian

Dicintai sama sang pencipta itu hal yang sangat harus disyukuri loh, gak semua orang diistimewakan oleh-Nya. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Ia akan mendatangkan cobaan kepada mereka. Dan barang siapa rela dengan ujian itu, dia akan memperoleh kerelaan-Nya. Barang siapa yang membencinya, dia akan memperoleh kebencian-Nya.” (HR. Tirmizi, 2396 dan Ibnu Majah, 403)

2. Kalian lebih memahami arti perjuangan. Dengan ditundanya kelulusan kalian, kalian gak akan sembrono lagi. Nggak akan lagi mengecewakan orang tua kalian yang udah berharap akan kesuksesan kalian. Kalian akan lebih paham kalau gak ada yang instan dalam kesuksesan dan pastinya tingkat tanggung jawab kalian akan meningkat drastis.

Oh ya, mungkin kalian pernah menyalahkan Allah kenapa kalian gak dilulusin aja, menyalahkan takdir yang Allah buat, atau keputusan-Nya itu salah. (jujur, aku pernah) Tau nggak, saat kalian berfikir seperti itu kalian itu ga lebih dari makhluk yang sok tahu (termasuk saya). Tenang, Allah itu tahu yang terbaik buat kalian. Pasti ada hikmah di balik ujian kalian. Ada kakak dari temenku, 2 tahun yang lalu dia ditolak PTN dan kalian tahu apa yang terjadi setelah 9 bulan kemudian? Dia jadi hafidzah, kuy. Coba kalau dia diterima PTN, mana sempet dia hafalan apalagi jadi hafidzah. Dan jadi hafidzah itu lebih keren dari sekadar kalian diterima di ITB, UI, UGM, dll. 

Semangat untuk kalian. Inget, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Man jadda wajada (Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil, Insya Allah) 😊 

Banyuwangi, 19 Juni 2017 | 24 Ramadhan 1438 H

SNMPTN #1

Di Indonesia–negara tercinta kita–ada 3 jenis jalur masuk yang umum di perguruan tinggi negeri. Apa saja?

  • Pertama, SNMPTN. SNMPTN adalah kependekan dari Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau kata orang biasa disebut dengan jalur undangan.
  • Kedua, SBMPTN. SBMPTN adalah kependekan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Seleksi ini mengandalkan tes tulis untuk penyaringan mahasiswa barunya.
  • Ketiga, mandiri. Tidak semua perguruan tinggi negeri di Indonesia membuka jalur mandiri. Sebut saja ITB. Dulu ITB ada ujian mandiri, namanya USM dan saya tidak tahu mengapa sekarang ITB meniadakan jalur mandiri. Jalur mandiri yang sering saya dengar dari teman-teman saya–maaf, saya tidak ikut mandiri sehingga saya kurang tau infonya–adalah SIMAK UI yang diadakan oleh UI, UTUL yang diadakan oleh UGM, SBMPTR yang diadakan oleh perguruan tinggi negeri yang ada di Regio Besuki seperti Universitas Jember dan Universitas Airlangga kampus Banyuwangi. Tahun ini–2017–ada beberapa PTN yang menggunakan nilai SBMPTN sebagai acuan seleksi mandiri misalnya Universitas Brawijaya dan ITS. Seperti yang kalian tahu, kalau kalian ingin mengikuti jalur mandiri, pasti ada uang lebih yang harus kalian bayar ketika kalian keterima. Jadi, gunakan jalur mandiri sebagai pilihan akhir kalian.

Karena saya diterima di PTN melalui jalur SNMPTN maka saya akan membahasnya lebih lanjut. Ada beberapa info yang harus kalian ketahui seputar SNMPTN. What are those?

  • SNMPTN itu seleksi pertama yang akan kalian lalui sebelum seleksi lain di PTN biasanya awal tahun. Kalau tahun saya seleksinya mulai bulan Februari.
  • Tidak semua siswa kelas 12 di sekolah kamu bisa ikut seleksi ini, tergantung kebijakan Dikti dan PTN di tahun seleksi kalian. Biasanya hanya berapa puluh persen saja dari siswa di sekolah kalian yang boleh mengikuti SNMPTN.
  • Seleksinya gratis karena ditanggung pemerintah.
  • Kalau kamu berencana mendaftar Bidikmisi, usahakan untuk menyelesaikan berkas pendaftaranmu sebelum pendaftaran SNMPTN dibuka. Ini untuk memudahkan seleksi Bidikmisimu ke depannya
  • Alumni tidak diperkenankan mengikuti SNMPTN. Jadi, sainganmu hanya teman seangkatanmu di seluruh Indonesia.
  • For further information, you can search in Google and type SNMPTN. And tadaa, all of informations you need will have already been available. Or you can visit http://www.snmptn.ac.id

Seperti yang telah saya jelaskan tadi kalau SNMPTN itu tidak lain adalah jalur undangan alias tanpa tes. Nah loh, kalau tanpa tes bagaimana dong sistem seleksinya?

  • Rapot. Nah, rapot ini menjadi andalan PTN untuk menyeleksi calon mahasiswa karena ketiadaan tes tulis. Nilai rapot yang dibutuhkan untuk seleksi berasal dari semester 1 hingga 5. Kamu tidak perlu lagi repot-repot memasukkan nilai rapot kamu karena PTN akan melihat nilai rapot kamu di PDSS–sejenis pangkalan data yang berisi nilai rapot kamu. Biasanya sekolah tiap semester sudah menyerahkan nilai kamu ke PDSS. Jadi, kamu tinggal menyocokkan kesesuaian data di PDSS dengan nilai rapot asli kamu.
  • Prestasi. Kalau kamu punya sertifikat di berbagai kejuaraan atau pelatihan atau apapun​, kamu wajib banget menyertakan sertifikat kamu dalam seleksi SNMPTN. Kenapa? Karena PTN akan lebih mempertimbangkan calon mahasiswa yang tidak hanya pintar di akademik saja tapi juga di non-akademik juga oke. Termasuk juga bagi kamu yang sering ikut lomba di bidang akademik seperti kimia, fisika, dan biologi boleh banget mengirimkan bukti keaktifan kamu ke panitia SNMPTN.
  • Akreditasi sekolah. Tingkat akreditasi sekolah kamu menentukan berapa banyak siswanya yang berhak mengikuti SNMPTN dan tiap tahun sepertinya selalu berubah kebijakannya–tergantung panitia SNMPTN. Jadi, jumlah siswa yang diterima di SNMPTN di sekolah yang akreditasinya A tentu berbeda dengan akreditasi B dan seterusnya.

    Info seputar seleksi PTN akan bersambung di post selanjutnya.
    Banyuwangi, 19 Juni 2017 | 24 Ramadhan 1438 H

    Education

    Since childhood, I live in an area which access to education is limited. There’re some of my childmates have got married and they already have a baby. My friends who have a baby don’t graduate from junior high school. It’s because financial problem. They must sacrifice their education for their family. It’s easier for get ting married than getting education. Why does it happen? Well, because in my country, if we want to get education, we must sacrifice everything. You know, in here, education is just for some group that they have a lot of money. For us, education is expensive. And if we want to get that, we must give all of our efforts to get that. For my friends, if you have easy access to education, you must make use of this for getting knowledge well. You must study hard. Don’t be lazy. Don’t even give up. You must be successful, so you can help us to get good education. If we don’t have opportunity to deserve that, at least, our descent will have opportunity to study in school, even in college. 
    Banyuwangi, 17 Juni 2017 | 22 Ramadhan 1438 H