SNMPTN #2

Pos kali ini saya khususkan untuk membahas mengenai komentar-komentar seputar SNMPTN yang seringkali terdengar saat pendaftaran seleksi itu dibuka. Saya di sini akan menanggapi komentar-komentar mereka. Saya rasa komentar mereka itu terlalu mengecilkan mental peserta SNMPTN sehingga mereka takut memilih PTN ataupun jurusan yang benar-benar mereka inginkan. Tapi, saya tegaskan di awal kalau tulisan ini tidak sepenuhnya benar karena selama ini guru saya di sekolah pun tidak tahu sistem seleksi di SNMPTN itu seperti apa. Di situs snmptn.ac.id pun hanya dituliskan seperti ini:

Prinsip Seleksi
Seleksi dilakukan berdasarkan prinsip:

  • mendapatkan calon mahasiswa yang berkualitas secara akademik dengan menggunakan nilai rapor dan prestasi-prestasi akademik lainnya yang relevan dengan program studi yang dipilih;
  • memperhitungkan rekam jejak kinerja sekolah.
  • menggunakan kriteria seleksi nasional dan kriteria yang ditetapkan oleh masing-masing PTN secara adil, akuntabel, dan transparan.

Sebelumnya saya ingin berkisah mengenai diri saya, entah ini penting atau tidak. Saya hanya ingin hal ini menjadi penguat saja dalam penulisan artikel ini. Alhamdulilah saya ditakdirkan lolos SNMPTN tahun 2017 dan insya Allah bulan Agustus nanti saya memulai dunia baru saya, dunia perkuliahan yang katanya penuh tantangan.

And here are the comments that I heard at that time.

  • Rata-rata raport harus naik terus. Let me get something straight. Honestly, this is wrong, big wrong. If you please, I wanna tell you something. Dari semester 1-4, rata-rata nilai raport saya menunjukkan progres yang baik. Naik terus, tapi tidak semua pelajaran grafiknya naik. Seringnya naik, turun lalu naik lagi, seperti pegunungan lah. Nah, menginjak semester 5 yakni saat kelas 12 karena kondisi tubuh yang bermasalah dan harus sering mengujungi dokter dan rumah sakit, turunlah nilai raport saya di semester ini. Dibilang drastis, drastis banget! Sampai-sampai saat itu, menjelang pembukaan pendaftaran SNMPTN, nyali saya sempat menciut. “Duh, lolos nggak ya dengan nilai segini?” pertanyaan semacam itu sering hinggap tiba-tiba.  Saat itu saya percaya sekali dengan pesan Mas Rifa’i Rif’an, penulis favorit saya, dia bilang seperti ini, “Jadilah muslimah super. Muslimah yang punya impian dan cita-cita yang dahsyat. Jangan pernah takut menargetkan hal yang muluk. Karena pertolongan Tuhan pasti akan hadir bagi hamba-hamba-Nya yang punya niat baik untuk maju dan sukses di masa depan.” Karena berbekal nekad dan saya percaya akan kebesaran Allah, saya mengisi pilihan SNMPTN dengan pilihan yang menurut saya saat itu impossible banget. Pilihan pertama, SITH-S ITB. Pilihan Kedua, Bioteknologi UB. Pilihan Ketiga, Ilmu dan Teknologi Pangan UB. Eh, alhamdulillah yang awalnya pesimis sekali malah bisa keterima di pilihan pertama. Malah ada temen sekelas saya yang dia rutin sekali jadi bintang kelas malah tidak ditakdirkan lolos SNMPTN tapi alhamdulillah dia diterima di FKG UNAIR lewat SBMPTN. Jadi, buat kamu yang nilainya tidak konsisten, jangan berkecil hati, perjuangkan apa yang ingin kamu perjuangkan.

 

  • Pilih jurusan yang sepi peminat. Kalau masalah ini saya sangat tidak menyarankan untuk diikuti. Kenapa? Ya jelas dong ini menyangkut masa depan kamu. Kalau kamu tidak memilih jurusan yang seseuai dengan minat dan bakat kamu dan kamu diterima, mau tidak mau kamu harus mengambil jurusan yang menerima kamu. Kalau kamu tidak daftar ulang di jurusan itu, siap-siap sekolah kamu akan menerima surat teguran dari PTN yang menerima kamu dan bisa-bisa sekolah kamu diblacklist oleh PTN tersebut. Jadi, jangan asal ketika memilih jurusan daripada kamu menyesal nantinya. Dulu sebenarnya saya bimbang antara memilih SITH-R atau SITH-S. Saya ingin di SITH-S karena di fakultas itu ada jurusan mikrobiologi dan saya ingin mengambil jurusan itu. Tapi ada SITH-R yang passing gradenya lebih rendah dari SITH-S dan jurusan di fakultas itu masih berhubungan dengan biologi. Saya bimbang saat itu. Mungkin kamu bertanya kenapa nggak milih dua-duanya saja? Nyali saya saat itu tidak setebal baja, kawan. Fakultas-fakultas itu ada di ITB. Dan ITB di mata orang-orang–termasuk saya sebenarnya–adalah kampus yang susah masuk dan susah keluar di sana. Tapi sebenarnya tidak juga kok. Saat itu saya sudah membuat keputusan. Saya hanya boleh memilih satu pilihan di ITB. Dan karena pertimbangan mikrobiologi ada di fakultas SITH-S, jadi saya memilih SITH-S. Ada lagi kisah dari teman SMP saya. Dia tidak satu SMA dengan saya. Dia diterima di arsitektur UB. Tapi, dia bercerita kalau dia sebenarnya ingin mengambil SAPPK ITB. Karena sama seperti saya, nyalinya kecil, dia urungkan niatan itu dan akhirnya dia menyesal. Dari pengalaman teman saya ini, perjuangkan apa yang ingin kamu dapatkan di SNMPTN, setinggi apa pun passing gradenya. Kalau passing grade jurusan yang kamu minati tinggi, sikat, pilih saja. Masih ada SBMPTN dan kamu bisa memperjuangkan jurusan yang kamu inginkan di sana. Kalau kamu tidak lolos di SNMPTN setidaknya ada perasaan lega karena kamu sudah memperjuangkannya di sana dan tidak ada lagi keraguan kalau kamu mencoba di sana apakah diterima atau tidak.

 

  • Harus ada alumni di jurusan yang dipilih. Seperti yang saya bilang di awal bahwa tidak ada yang tahu sistem seleksi SNMPTN. Jadi, untuk pernyataan ini saya ragukan kebenarannya. Di fakultas saya memang ada alumni tepatnya hanya seorang dan itu sudah lama sekali. Mas yang sefakultas dengan saya itu sampai sudah berkeluarga dan sudah punya anak. Saya juga pernah membaca di web ITB. Kalau tidak salah di usm. Di sana ada FAQ SNMPTN. PERTANYAAN : Sekolah saya belum memiliki alumni di ITB. Apakah saya bisa mengikuti SNMPTN dan memilih ITB? JAWABAN : Sekolah yang siswanya berhak mengikuti SNMPTN adalah SMA/SMK/MA/MAK negeri maupun swasta, termasuk sekolah RI di luar negeri, yang telah memiliki NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional) dan telah mengisi PDSS, serta terdaftar sebagai peserta Ujian Nasional (UN) pada tahun yang bersangkutan, terlepas dari ada atau tidaknya alumni sekolah tersebut di perguruan tinggi tujuan peserta. FAQ SNMPTN di ITB bisa dilihat di sini:  http://usm.itb.ac.id/wp/?page_id=15

 

  • Nilai pelajaran tertentu harus naik terus. Maksudnya di sini, saya kan memilih SITH-S yang erat kaitannya dengan biologi. Nah, apakah nilai biologi saya harus naik terus? Saya jawab, tidak. Nilai biologi saya juga naik turun kok. Saya dulu mengadakan survey terkait SNMPTN untuk teman-teman saya yang lolos SNMPTN atau tidak dan pesertanya dari berbagai sekolah. Dari data, mereka yang nilai pelajaran tertentu itu yang naik turun pun lolos di SNMPTN.

 

  • Harus punya sertifikat prestasi yang berjibun. Memang mitos ini bisa saya katakan benar tapi bisa saya katakan salah. Mengapa? Karena di SNMPTN tidak ada tes. Jadi, bagaimana dong PTN bisa tahu kualitas mahasiswanya? Well, dengan melihat prestasinya juga dong tentunya. Prestasi saya pun bisa dibilang tidak membanggakan. Saat itu sertifikat yang saya cantumkan di SNMPT hanya sertifikat juara harapan 1 lomba menulis cerita rakyat tingkat jatim, juara harapan 1 OSK Biologi, dan sertifikat hafalan yang jumlahnya hanya 2,5 juz. Saya heran, kenapa ITB hanya memilih mahasiswa yang seperti ini. Entahlah, mungkin karena saya hanya beruntung. Tapi, sebanyak apa pun prestasi kamu, itu tidak akan menjamin kelulusan kamu. Ada teman sekelas saya yang saban tahun dia pergi ke ITB untuk babak final olimpiade, kalau tidak salah OKTAN dan prestasinya juga menurut saya mengagumkan, tapi nyatanya dia juga tidak lolos SNMPTN di ITB. Tapi luar bisanya dia tetap memperjuangkan apa yang ia inginkan dan sekarang dia diterima di FTTM ITB melalui SBMPTN. Ada juga teman-teman dari Banyuwangi yang diterima di ITB melalui SNMPTN. Saya tanya banyak hal ke mereka. Menurut kamu mereka semua menyertakan sertifikat prestasi? Tidak. Tidak semua. Tapi mereka yang tidak menyertakan sertifikat. Saya akui prestasi akademik mereka di sekolah saya keren.

Sebenarnya masih banyak mitos-mitos lainnya tapi saya hanya ingin membahas yang ini hehe. Jadi buat kamu yang akan mengikuti SNMPTN, jangan terlalu percaya pada mitos-mitos SNMPTN karena kita tidak tahu pola seleksinya seperti apa. Yang harus kamu percaya adalah kebesaran Tuhan kamu dan kemampuan diri kamu sendiri. Terlepas dari apa yang saya tulis, jangan pesimis duluan sebelum kamu mencoba karena kamu tidak tahu rezeki kamu ada di mana dan juga jangan terlalu berharap di SNMPTN, awas nanti di-PHP-in. Di-PHP-in sama SNMPTN lebih sakit daripada diPHP sama pacar, huee. Siapkan SBMPTN dari awal. Siapkan seakan-akan kamu tidak akan lolos SNMPTN sehingga nanti kalau kamu tidak lolos SNMPTN, setidaknya kamu sudah ada bekal. Tetap semangat!

Banyuwangi, 07-07-2017 | 13 Syawal 1438 H

Advertisements

2 thoughts on “SNMPTN #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s