Category Archives: Books

The Little Prince

The little prince, buku berbahasa Inggris pertama yang benar-benar saya rampungkan sampai halaman akhir. Sebenarnya banyak buku berbahasa Inggris yang telah saya baca, tapi tidak semua benar-benar mencapai halaman akhir. Saya rasa buku ini berbeda. Ceritanya unik dan tidak terlalu membutuhkan analisis. Sejatinya buku ini adalah buku cerita anak-anak. Tapi jangan pernah kamu berfikir ini sebuah buku yang bercerita tentang seorang pangeran yang menyelamatkan putri dan kemudian menikah, actually it’s wrong. Buku ini–sepunuhnya berisi sindiran kepada orang dewasa. Entah mengenai perilakunya, pemikirannya tapi yang paling ditekankan adalah pemikirannya. Bagaimana pemikirannya tidak pernah menghargai anak kecil, bagaimana mereka selalu memaksa mereka untuk melakukan apa yang baik menurut mereka, bagaimana mereka selalu memandang apa pun berdasarkan uang, dan bagaimana mereka tidak pernah tulus dalam melakukan sesuatu.

Ada penggalan tentang persahabatan yang saya suka :

“One only understands the things that one tames,” said the fox. “Men have no more time to understand anything. They buy things all ready made at the shops. But there is no shop anywhere where one can buy friendship, and so men have no friends any more. If you want a friend, tame me…” “What must I do, to tame you?” asked the little prince.

To forget a friend is sad.

 Not every one has had a friend. 

And if I forget him, I may become 

like the grown-ups who are no 

longer interested in anything but 

figures…  



Bagi kamu yang ingin memahami hidup melalui kisah yang mudah dicerna, saya rasa buku ini cocok. Happy reading 😉 

Banyuwangi, 29 Juni 2017 | 05 Syawal 1438 H

Books : Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk

Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk adalah buku tulisan Ahmad Rifa’i Rif’an keempat yang saya punya. Saat saya memutuskan membelinya pada tahun 2015 lalu, buku ini telah mengalami beberapa revisi dan telah mencapai cetakan ke-13. Sejauh ini saya selalu menyukai buku besutan Mas Rifa’i. Buku-bukunya selalu berhasil membuat saya ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Sama seperti judulnya, buku yang tebalnya 360-an halaman ini kebanyakan berisi tentang renungan bagi kita–manusia yang merasa sok sibuk sehingga lupa akan kewajibannya sebagai hamba-Nya. Buku ini tersusun atas 4 bab. Bab pertama, menata hati, membenahi nurani. Bab kedua, rumahku, surgaku. Bab  ketiga, memancarkan cahaya surga di tempat kerja. Dan bab keempat,  memperkokoh semangat dan visi hidup.  

Ketika mulai membaca buku ini yakni awal Ramadhan tahun 2017, jujur, ketika mulai membaca lembar awal yang berisi renungan, saya menangis. Renungan yang mas Rifa’i tulis seperti menampar diri saya, menyadarkan diri saya kalau selama ini saya selalu menomor duakan Allah. Saya selalu menunda-nunda dalam beribadah kepadanya padahal Allah tak pernah menunda-nunda kasih sayangnya pada saya. Dan karena itu saya semangat dalam membaca buku ini karena saya berharap saya semakin tersadar akan semua kesalahan saya selama ini.

Benar saja, banyak hal yang saya ketahui setelah membaca buku ini. Gaya penyampaian dan penulisan mas Rifa’i yang ringan sehingga pesan yang ingin ia sampaikan Insya Allah sampai pada pembacanya.

Dan inilah penggalan tulisan yang ada di sampul belakang.

Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan. Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, kami sangat sibuk. Jangankan berjemaah, bahkan munfarid pun kami tunda-tunda. Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajoban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami. Jangankan puasa Senin-Kamis jangankan ayyaamul baith, jangankan puasa nabi Daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh.

Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu. Jangankan sedekah, jangankan jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja sering kali terlupa.

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak. Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukun, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. Tuhan, tolong, jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami. Karena kami masih terlalu sibuk.

Saya saya menyarankan untuk kamu yang sangat sibuk dengan agendamu untuk membaca buku ini sehingga setidaknya kamu sadar kalau kamu tetaplah seorang hamba yang harus meluangkan waktunya untuk beribadah kepada-Nya. Karena seperti firman-Nya, Allah menciptakan jin dan manusia tidak lain adalah agar mereka beribadah kepada-Nya. Semoga saja kalian diberikan kesempatan untuk membaca buku ini. Amin

Banyuwangi, 25 Juni 2017 | 01 Syawal 1438 H

Dibaca saat jadi calon mahasiswa baru.