Curhat, Kuy!

Sebenarnya, aku tak suka dengan orang yang berinteraksi satu sama lain dalam koridor pacaran. Tapi, di sini aku tidak berniat untuk membahasa pacaran, di luar itu.

Aku punya seorang kawan (dia perempuan). Sebut saja namanya bunga, tapi kisah hidupnya tidak receh seperti yang sering kalian lihat di TV. Bunga punya teman laki-laki sejak dia SMA. Mereka bertambah dekat sejak mereka tergabung ke dalam sebuah projek di sekolah mereka. Apa mereka pacaran? Entahlah, aku pun tak tahu. Aku pernah bertanya pada Bunga, dia menjawab, “Kita ga pacaran kok!” Aneh. Biar ku ceritakan padamu.
Sejak hubungan mereka yang semakin erat, mereka membuat komitmen untuk menjadi produktif bersama, sukses bersama, dan menjadi lebih baik bersama. Jangan harap ada kencan, nongkrong, ngobrol tidak berfaedah di antara mereka. Mereka jauh dari apa yang orang pacaran biasanya lakukan. Apa yang biasanya lelaki berikan kepada pacarnya? Bunga? Coklat? Itu hanya barang remeh remeh bagi dua sejoli ini. Yang kekasih hati Bunga berikan adalah buku. Ya, buku. Mereka suka sekali tenggelam dalam lautan kata-kata. Mengisi kembali semangat dengan deretan buku self-help.

Jika dibilang iri, jujur aku iri. Tapi, aku tak ingin punya pacar saat ini. Aku menginginkannya setelah aku mengikrarkan janji suci dengannya. Yang aku ingin, aku punya seorang teman, seorang partner, yang kita bisa seperti Bunga dengan kekasih hatinya.

Tiap harinya mereka saling menguatkan, saling mendukung satu sama lain, saling mengingatkan mimpi masing-masing.

Aku ingin punya teman seperti itu. Setidaknya teman yang selalu mengingatkanku untuk jadi pribadi yang produktif. Ya, ya, aku sadar. Seharusnya, aku tak mengharapkan lebih dari temanku. Aku jangan mengharapkan mereka melakukan itu padaku. Tapi, seharusnya aku melakukan apa yang kekasih hatinya Bunga lakukan untuk sahabatku.

*Sorry, curhat.
Depok, 29 Desember 2017

Advertisements

Catatan Perjalanan : Transportasi dari Depok ke Bandara Soekarno-Hatta

Kemarin lusa saya memutuskan untuk pulang dari Depok ke Banyuwangi. Karena alasan menghemat waktu, biaya, dan tenaga kakak saya menyarankan untuk menggunakan pesawat saja. Ya sudah saya memutuskan untuk naik pesawat dari Soekarno-Hatta ke Surabaya.

Saat itu saya sudah memesan tiket pesawat Lion jam 10.00 WIB pada hari Senin, 22 Mei 2017. Karena teman-teman tahu, kalau Depok rawan macet, jadi saya berangkat dari tempat kos kakak saya jam 05.30 WIB. Tempat kos kakak saya berada di Jalan Margonda. Kami menunggu angkot di Jalan Margonda untuk menuju Terminal Depok. Mengapa saya naik di terminal? Karena di terminal informasi yang kamu butuhkan tentang transportasi tersedia dengan lengkap dan insyaallah angkutannya pun telah tersedia.

Sesampainya di Terminal Depok saya langsung menghampiri tempat di mana ada kumpulan bis Hiba Utama. Bis ini akan mengantarkan saya langsung ke Bandara Suta dan terminal di mana saya akan naik.

Sebelum saya menaiki bis ini, saya membeli tiket dulu di loket tak jauh dari tempat kumpulan bis itu. Saya tidak tahu tahu loket itu miliknya siapa, entah itu milik Hiba Utama atau terminal. Setelah itu saya langsung berpamitan dengan kakak saya dan segera masuk ke dalam bis karena waktu keberangkatan sebentar lagi. yakni jam 06.00 WIB.

Menurut saya kondisi bisnya nyaman. ACnya berfungsi dengan baik. Meskipun kursinya tidak terlalu empuk. Tapi, overall fasilitasnya mendukung. Yang sangat disayangkan, bis ini tidak dilengkapi dengan wifi.

Benar saja seperti dugaan awal kalau selama perjalanan, kami seringkali harus bergumul dengan kemacetan meskipun itu di dalam tol dan termasuk di area Bandara Soekarno-Hatta juga.

Saya sampai di Terminal 1A tempat boarding saya pukul 08.45 WIB. Berarti perjalanan saya dari Depok ke Bandara Soekarno-Hatta membutuhkan waktu 2 jam 45 menit. Jadi, untuk teman-teman yang akan ke Bandara Suta dari manapun, jangan lupa perkirakan waktu kemacetan dan jangan sampai kamu ketinggalan pesawat karena terjebak macet.

Banyuwangi, 24 Mei 2017