Category Archives: Inspiration

Pacaran (?)

“Pacarnya orang mana?” Tanya temen ibuk suatu waktu.

“Masih disimpan sama Allah, Pak” Jawabku sok bijak. But actually, that’s​ just an excuse. You know, I don’t have any boyfriend at all even ex-boyfriend. And, of course I don’t wanna have them in the rest of my life.

Tahu kenapa sekarang generasi muda negeri ini seakan hina kalau nggak punya pacar? Guess what?

  1. Banyak om-om dan tante-tante yang tanya, “udah punya pacar belom?” Dari pertanyaan mereka sih aroma-aromanya mereka lagi nyindir “masih jomblo aja nih?” Hm. Kalau tiap ketemu ditanya dengan hal yang sama, siapa yang betah coba? Dengan pertanyaan mereka itu mereka secara tidak langsung memaksa kita buat pacaran dan tentu saja mereka setuju dengan pacaran. Coba aja mereka tanya dengan pertanyaan yang pernah seorang dokter tanyakan ke aku, “hafalannya udah sampek mana?” Mantab kan pertanyaan ini? Seketika kesindir tuh diri kamu, “miris banget, hafalan gue udah sampek mana nih? Boro-boro hafalan, murojaah aja kagak”
  2. Sinetron Indonesia isinya pacaran mulu. Coba, konten yang ada di sinetron itu dikerenin dikit, sci-fi gitu, cerita gimana hidupnya orang-orang yang punya kontribusi besar di dunia ini. Gimana perjuangan mereka, gimana mereka mengatasi masalah-masalah sulit di hidupnya. Kalau enggak cerita tentang serunya menuntut ilmu di luar negeri. Mungkin aja nanti banyak anak muda yang nonton, terus mereka jadi kepingin kuliah di sana.

Intinya, buat kamu yang masih jomblo, eh maksudku single, teruskan aja ke-single-lan kalian. Jangan biarkan waktumu yang berharga itu kalian korbankan untuk orang yang mungkin aja nanti nyakitin kalian. Jadilah orang baik. Jaga diri baik-baik. Karena orang yang baik akan berjodoh dengan orang yang baik juga. 

Banyuwangi, 28 Juli 2017

Keep Writing

I don’t know when I start to write. Maybe it begins at junior high school when I know this phrase, “Dear diary”. Through that word I have a diary book. I write everything that have happened during all day on it, about my feeling, how I spent my time, my madness, and another.

As time goes by, I realize that writing is not only to express my feeling, bigger than that. Writting is for inspiring others. Inspiring others for good things is remarkable. Maybe you’re not a leader but you have a dream to make this world become a better place, you still can make your dream comes true. Write. You don’t have to scream in front of many people to express your opinion, just write and they will know it. Writing is spreading goodness if what you write is good things.

At first it is so hard. You don’t know what will you write. You don’t have any ideas. You don’t know how to arrange words become a good sentece. Your grammar is so bad. Your knowledge is limited. How if other people don’t like my writing. Never mind, just keep writing. Do you know baobabs? Before they grow so big, they start out by being little. So do you. Great writer never come up suddenly. They are faithful to the process. Because process can make them great.

If you find comment like “Why do you still writing even though it is bad?”. Don’t give up. As long as you want to inspire others, go ahead. You don’t know wheter your writing will make a change or not. Intend it for goodness, Insya Allah goodness will follow you.

“The best of people are those who are the most beneficial to people”. I am used to make this hadith be my encouragement for doing goodness. And spreading kindness to others is one of beneficial activities. If you are beneficial to others so that you are the best people on this world.

 

Banyuwangi, 05 Juli 2017 | 11 Syawal 1438 H

Rehatlah Sejenak dari Sosmedmu!

Saya hidup di mana semua penghuninya sibuk mengumbar atau bisa saya sebut ‘pamer’ dengan apa yang ia punya. Bagaimana tidak? Sekarang social media sudah banyak jenisnya dan yang paling dahsyat pengaruhnya adalah instagram. Di sana semua orang bisa mengunggah gambar apa pun tanpa kecuali dan bahkan sekarang ada fitur insta story yang setelah saya amati banyak digunakan oleh generasi saya untuk menunjukkan “ini loh yang gue lakukan sekarang” “gue lagi makan nih” dan kalimat senada. Memang saya sempat ingin melakukan apa yang teman-teman saya lakukan. Tapi, saya sadar, kebahagiaan itu tidak selayaknya diumbar, dia hanya perlu disyukuri karena tidak semua orang merasakan kebahagiaan yang tengah kita rasakan saat ini. Kita tidak tahu hati manusia. Mungkin ketika ada anak adam yang tengah melihat apa yang kita umbar timbul perasaan iri, dengki, dan perasaan buruk lainnya. Mungkin mereka juga ingin sekali merasakan kebahagian kita sehingga ia memaksakan dirinya untuk mendapatkannya.

Janganlah terlalu menceritakan kehidupan kalian di dunia maya karena kalian tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Dunia maya bukanlah buku diary kalian dan tidak semua orang ingin tahu kisah kalian.

Cobalah untuk lepas dari social media. Carilah teman yang benar-benar nyata. Ada banyak orang baik di sekitar kalian. Dekati mereka dan cobalah berinteraksi dengan mereka. Jika kamu hanya berkutat dengan social media, teman kamu tidak lain tidak bukan hanyalah seonggok foto manis yang dipasang pemilikinya. Dan jika nanti kamu terkena suatu masalah, akankah dia bersedia menolongmu?

Oh ayolah, coba tinggalkan social mediamu dan mulai berbagi dengan orang di sekitarmu. Kamu bisa bercerita kepada mereka apa saja dan kamu bisa berdiskusi apa saja. Dunia ini luas. Jika kamu hanya bertemankan social media, bagaimana kamu tahu dunia yang sebenarnya, apa adanya. Dunia nyata itu berbeda dengan social media. Mungkin mereka lebih beragam. Lebih kejam. Lebih menyenangkan. Siapa yang tahu?

Saya tahu mengapa kamu lebih banyak menghabiskan harimu dengan teman-teman dunia mayamu, kamu terlalu banyak waktu luang bukan? Dan waktu luangmu kamu habiskan dengan percuma untuk mengikuti tren yang sedang terdengung dengan kuat di telingamu. Coba ganti aktivitasmu dengan membaca, menulis, belajar, menjelajah, membantu sesama, atau yang lainnya. Habiskan masa mudamu dengan sesuatu yang bermanfaat. Buat dirimu jadi hebat. Jangan pernah mencari jati dirimu melalui social media karena dia akan menyetirmu menjadi golongan yang sudah biasa di lihat di mana-mana.

Banyuwangi, 01 Juli 2017 | 07 Syawal 1438 H

Mendidik Anak-anak

Di benak saya yang suka anak-anak, merawat anak-anak itu mudah. Ketika mereka rewel–seperti yang pernah saya baca–kita hanya perlu mengiming-imingi mereka dengan gula-gula dan seketika mereka akan jinak kembali. Dan asas praduga saya itu salah. Salah besar. Ya, ini bukan salah saya karena memang saya anak terakhir sehingga tak ada yang namanya ‘adik’ dalam hidup saya.

Lebaran tahun ini memang berbeda, selain saya telah menyandang status camaba, saya juga merasakan untuk memiliki adik untuk beberapa saat. Memang ‘adik’ itu bukan adik saya, dia sebatas sepupu saya. Di usianya yang lima tahunan, semua yang ada di dunianya harus tunduk padanya dan dialah yang menjadi rajanya. Semua keinginan harus dipenuhi. Semua yang tidak ia inginkan tidak boleh dilakukan. Dan jika semuanya berjalan tidak sesuai keinginannya senjata ampuhnya akan ia keluarkan–tangisannya.

Saya pernah membaca kalau dalam mendidik anak tidak boleh dilakukan kekerasan sedikit pun. Saya pun setuju dengannya. Jika anak-anak nakal, ya biarkanlah, toh mereka hanya anak-anak. Yang ada dipikirannya hanyalah bermain tanpa mau membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Ketika saya melihat ada anak-anak yang sedang ‘dididik’ oleh orang tuanya dengan cara sedikit ‘kekerasan’ seperti dicubit, dipukul, atau sebagainya, saya rasa tindakannya itu salah. Iya memang jika anak-anak sedang rewel kita menjadi sangat tidak sabar, ingin segera hentikan tangisannya. Tapi, kalau anak-anak makin dikerasi, dia pun akan semakin rewel. Mengapa kita tidak buat sebuah janji dengan mereka, misalkan mereka mau melakukan ini mereka akan mendapatkan ini. Itu lebih baik daripada memukuli mereka. Dengan memukuli mereka seperti itu mungkin nantinya akan membuat anak-anak itu takut pada orang tuanya, takut berbagi ketika dia sudah besar, takut jika ia curhat dia akan kena amukan kedua orang tuanya. Dan intinya mendidik anak-anak dengan kekerasan hanya akan membuat sebuah ‘jarak’ antara anak dengan orang tuanya.
Banyuwangi, 29 Juni 2017 | 05 Syawal 1438 H

Menjadi Baik

Sebagai manusia pasti kita sering merasa malas untuk melakukan sesuatu bahkan termasuk sesuatu yang telah kita rencanakan sebelumnya. Misalnya shalat tarawih.

Memang ya jalan menuju kebaikan itu sering kali terjal, menanjak, berliku-liku. Tapi kalau difikirkan dengan seksama kalau jalan menuju kebaikan itu lurus, mulus saja, nama sih bukan perjuangan. Padahal menuju kebaikan itu adalah perjuangan. Perjuangan yang perlu dibiasakan. Bukannya ujug-ujug langsung berubah menjadi baik.

Seperti kata orang, “Semua itu butuh proses.” Dan kadang menjadi baik itu perlu dipaksakan agar kelak menjadi kebiasaan. Semoga saja kita bisa istiqamah menuju jalan kebaikan.

Banyuwangi, 6 Juni 2017 | 11 Ramadhan 1438 H

Menjadi Jujur

Kau tahu kejujuran, bukan? Sebuah kata benda yang kita saya ingin berpegang teguh padanya, saya harus rela menjadi golongan yang sedikit. Merasakan kekecewaan, berderai air mata bahkan kadang harus rela dihadiahi cemoohan.

Saya hidup-tumbuh dan berkembang-di masyarakat yang kurang menanamkan kejujuran. Bagi mereka prioritas kejujuran itu adalah nomor ke sekian. Maka jangan heran jika generasi saya nantinya yang kelak jadi pemimpin bangsa, mungkin akan akan terjerat kasus yang berkaitan dengan lembaga anti rausuah.

Memang menjadi jujur adalah pilihan. Saya tahu itu. Dan dulu sebelum saya mengenal agama saya seperti saat  ini, saya sempat  jatuh ke lubang hitam itu dan menjadi golongan mayoritas.

Tapi bagaima kita menjadi jujur jika panutan kami-guru kami-membiarkan ketidakjujuran itu sendiri atau bahkan sering menjadi tidak jujur. “Guru itu digugur dan ditiru” begitulah yang saya dapatkan dari pelajaran bahasa Jawa. Semua tingkah polah guru bisa dengan mudah ditiru oleh anak didiknya, karena gambaran di masyarakat seperti itu.

Tapi, kami punya nurani yang jelas mengatakan bahwa perbuatan itu salah. Bodohnya kami, jeritan itu malah kami abaikan. Kami senantiasa dituntut di tempat belajar kami. Mendapat nilai jelek dicap sebagai siswa yang bodoh lah, malas belajar lah, dan kalian tahu istilah lainnya. Maka jangan heran jika kami menempatkan kejujuran di bagian ekor tidak di dalam kepala kami apalagi hati kami.

Setiap manusia itu berbeda kadar kecerdasannya dan mereka tak mungkin pintar di segala bidang. Jadi, tolong lah jangan menekan kami seperti itu. Dengan kalian semakin menekan kami, semakin kami berani untuk menjadi tidak jujur. Dan kalian tahu dengan tekanan itu, siswa yang awalnya bertekad untuk memegang nilai-nilai kejujuran dibuat menjadi tidak berdaya. Jelas, jika dia tetap mempertahankannya, dia akan tampak berbeda dengan lingkungannya. Mau tak mau dia harus menyerah.

Ini sebuah pelajaran untuk teman-teman yang bercita-cita untuk menjadi pendidik di masa depan. Karena nanti anak cucu saya akan dididik oleh manusia-manusia macam kalian. Tolong, jangan menilai siswa hanya dari nilai yang dia dapat saja, tapi juga bagaimana ia bersusah payah untuk mendapatkannya. Dan tentu saja tolong berikan penghargaan kepada siapa saja yang selalu memegang teguh kejujuran.

Banyuwangi, 03 Juni 2017 | 08 Ramadhan 1438H

Asas Manfaat Bukannya Uang

Saya heran mengapa manusia di sekitar saya-kebanyakan-menggunakan uang sebagai ukuran kebehagiannya. Oh ayolah, uang bukan sumber kebahagiaan. Ia hanya media yang kita gunakan untuk menjadi bahagia. Sumber kebahagiaan yang hakiki itu ada di hati kalian. Semakin banyak kamu bersyukur akan nikmat yang Tuhanmu berikan, semakin tentram dan bahagia hatimu.

Memang manusia diciptakan untuk tidak pernah puas dengan apa yang telah ia miliki. Tapi, itu bukan menjadi alasan untuk selalu mendewakan uang, bukan?

Generasi saya, ini yang saya rasakan, telah dididik untuk menentukan dan memilih segala sesuatu berdasarkan atas asas uang bukan kebermanfaatannya.

“Mau jadi apa kamu kalau kuliah di jurusan A?” Seperti itulah kira-kira kami dididik. Mau jadi apa kamu? Jelas, kami ingin jadi orang yang bermanfaat seperti yang nabi kami perintahkan. ‘sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya’

Dan hal inilah yang mengantarkan kenapa saya memilih kampus gajah itu sebagai tempat melanjutkan pendidikan saya. Sejak SMP saya ingin mendedikasikan hidup saya pada pertanian dan saya ingin melanjutkan di kampus dengan gelar pertaniannya. Apa daya saya yang hanya berstatus ‘anak’. Bapak saya seorang petani. Jadi, beliau tahu seluk-beluk dunia pertanian di Indonesia. Bagaimana musim menjadi tak menentu, serangan hama tak mudah dibasmi, harga panen tak bisa diprediksi, dan lain sebagainya. Sampailah pada satu keputusan, “jangan kuliah di pertanian” Kenapa? Pertanian tak akan menjamin masa depanmu.

Lagi dan lagi. Mereka takut akan masa depan anaknya. Saya paham, mereka ingin anaknya hidup nyaman di masa depan. Mereka tak ingin anaknya kesusahan dalam segela hal. Tapi, apa yang menjamin kalau misalnya, anak pertambangan dan perminyakan yang katanya gajinya fantastis akan hidup tentram di masa depan?

Tenanglah, sudah ada Dzat yang mengatur masa depan kami. Kami ingin bermanfaat untuk bangsa kami.

Memang kami lahir dengan sudah menyandang gelar agama rahmatan lil alamin. Tapi, apa yang sudah kami lakukan? Sejauh ini tak ada. Saya rasa karena kami dididik bukan berdasarkan asas kebermanfaatan, melainkan uang.

Insyaallah, kalau kami bisa bermanfaat untuk orang lain, keberkahan akan menghampiri kami. Ingatlah kalau nikmat Tuhan akan datang kepada orang-orang yang senantiasa menebar manfaat.
Banyuwangi, 2 Juni 2017 | 07 Ramadhan 1438H

Kamu Istimewa

Mungkin di antara kita punya tokoh idola, panutan, atau sejenisnya. Semua tindak tanduk tokoh tersebut selalu atau paling tidak berusaha kita ikuti.

Termasuk saya, saya pun punya tokoh idola sendiri. Alhamdulillah sekarang saya bisa sealmamater dengannya. Setidaknya saya akan bahagia karena bisa seinstitut dengannya. Tiap hari saya sempatkan membaca tulisannya. Menghayati tiap pesan dibalik rangkaian kata-katanya.

Tiap apa-apa yang telah si tokoh idola lakukan, kita akan berusaha melakukannya juga dengan usaha terbaik agar bisa menyamainya.

Mungkin kita kadang lupa kalau tiap individu itu diciptakan seistimewa-istimewanya. Tak ada yang menyamainya. Kalian ingat bukan kalau DNA tiap manusia itu berbeda? Nah, seperti itu.

Kita tak perlu tampak semirip mungkin dengan tokoh idola kita. Meniru boleh saja. Tapi tak usah menjiplak. Tiap diri manusia punya jalannya sendiri kawan. Kamu tak akan tampak istimewa dengan menirunya. Tapi, kamu akan tampak istimewa dengan jadi dirimu sendiri.
Banyuwangi, 01 Juni 2017 | 06 Ramadhan 1438H

Teman(lagi)

Berulang kali saya memikirkan hal ini : bentuk dan rupa kamu akan selalu mengikuti orang-orang di sekitarmu. Disadari atau tidak, jika kamu–anggap saja kamu seorang wanita yang berhijab tertutup sesuai syariat–berada di tengah-tengah temanmu yang berkerudung minim, berpakaian tetapi telanjang, perkataannya masih belum mampu ia tata, dan hal lain semisalnya, lambat laun kamu akan mengikuti mereka. Kenapa? Karena memang manusia tidak mau tampak berbeda dari kalangannya apalagi jika ia hanya seorang diri.

Bahkan Rasulullah pun telah mengumpamakan sosok teman yang kita miliki.

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Hal seperti itulah yang tengah saya rasakan saat ini. Mayoritas teman-teman yang liqo dengan saya menggunakan hijab yang sangat rapi bahkan ada beberapa yang bercadar. Saya yang hijabnya masih belum sempurna ketika berada di tengah-tengah mereka rasanya bagai butiran debu. Dengan ilmu agama yang cetek. Kemampuan bacaan Al Quran masih belepotan. Parahnya lagi selalu saja memikirkan dunia sebagai tujuan utamanya. 

Meskipun begitu, saya bersyukur hadir di antara orang-orang baik berdasarkan versi saya. Karena semua ini merupakan nikmat yang Allah berikan ke saya. Keberadaan mereka secara tidak langsung senantiasa mengingatkan saya untuk terus memperbaiki diri, berbenah, menata hati, dan terus mengkaji agama yang saya yakini. 

Saya merasakan semangat untuk terus dalam kebaikan. Malah pernah terbersit di hati saya, ingin rasanya berhijab seperti mereka. Dengan begitu saya perlu lagi mengenakan mukenah ketika hendak sholat. Tapi, apalah daya saya. Saya kira saya masih belum siap untuk menjadi seperti mereka. Saya belum siap dengan ukuran-ukuran mereka. Tapi saya harap suatu hari nanti saya disiapkan oleh Allah dengan ukuran-ukuran yang mulia itu. Amin.


Banyuwangi, 31 Mei 2017 | 05 Ramadhan 1438H

Islam

Saya terlahir menjadi seorang muslim. Dulu saat kanak-kanak saya hanya mengikuti apa yang orang tua saya imani, Islam. Saya tak pernah bertanya kepada mereka kenapa harus Islam karena lambat laun saya memahami mengapa mereka memilih Islam sebagai jalan hidup mereka. Sampai akhirnya saya sendiri pun memilih Islam sebagai pilihan hidup saya. Meskipun saya terlahir sebagai seorang muslim, saya tak ingin hanya sekedar mewarisi gelar keislaman dari orang tua saya. Saya ingin memahami dan menjalankan esensi dari Islam itu sendiri. Saya ingin menjalankan Islam secara kaffah.

Saya tahu dengan terus berpegang teguh pada keislaman yang kaffah, saya harus menghiasi diri saya dengan kesabaran. Rasulullah saw pun sudah menggambarkan kehidupan di zaman ini, seperti memegang bara api. Panas? Tentu saja. Apa dengan melepaskannya lantas menjadi dingin? Ya, awalnya memang seperti itu. Tapi, semakin lama, semakin panas yang akan dirasakan.

Saya merasakan, dunia ini begitu melenakan. Benar dan salah seakan berbaur. Menjadi bias. Sulit untuk dibedakan.

Pun, jika kita menemukan sebuah kebenaran, memangnya kita akan dengan mudah melaksanakannya? Entahlah. Iman kita tidak setebal Rasulullah. Kecaman, sindiran, tatapan aneh akan selalu datang saat kita berusaha menegakkan kebenaran.

Semoga saja, di bulan Ramadhan ini, keimanan kita bisa menyamai panutan kita, Rasulullah. Jika tidak, setidaknya iman yang masih tersisa di dalam hati masih mampu kita rawat sepanjang usia kita. Amin

Banyuwangi, 28 Mei 2017 | 02 Ramadhan 1438 H