Category Archives: Kumpulan Cerita

Cerpen : Insya Allah itu Lebih Baik

Sejak lahir hingga saat ini aku besar, tumbuh, dan berkembang di negeri tercinta, Indonesia. Sehingga aku paham benar bagaimana karakter manusia di negeri ini. Perlukah aku sebutkan satu persatu? Kurang apresiasi, tidak tepat waktu, suka ingkar janji, konsumtif, dan masih banyak lagi. Maaf, bukannya aku tak ingin beberkan semua penyakit yang menjangkiti manusia di negeri ini-termasuk aku, tapi aku rasa tidak etis membicarakan aib sendiri.

Ya, manusia di negeriku suka ingkar janji-mungkin termasuk diriku juga. Seperti kalian tahu di negeriku mayoritas penghuninya menganut agama Islam. Maka jangan heran ketika ada penghuninya membuat sebuah janji, ‘insya Allah’ menjadi jawaban wajibnya.

“Eh, sungguhan loh! Jangan insya Allah doang!” Aku memprotes Rini saat ia hanya menjawab Insya Allah atas janji yang telah kami buat seperti kebanyakan orang. Oh ayolah, bagi kami-penghuni negeri ini insya Allah hanya pemanis bibir belaka kepada para pembuat janji. Mengenai pemenuhan janji? Yah, tergantung suasana hati pelaksana janji. Seperti itulah manusia penghuni negeri ini.

“Janji! Aku  gak mau ucapan Insya Allah!” Aku berkata setengah teriak kepadamu. Aku tentu tak ingin terus dikhianati oleh orang yang terus saja meluncurkan yang memiliki arti ‘jika Allah menghendaki’ itu termasuk dirimu.

“Tak perlu janji, Rosa. Dan aku pun tak ingin membuat sebuah janji denganmu. Insya Allah itu sudah lebih dari cukup. Karena kita tak tahu apa yang akan terjadi esok lusa.”

“Bukankah kau sudah faham dengan perkara ini? Allah sendiri pun telah memerintahkannya. InsyaAllah itu sebaik-baiknya jawaban atas suatu janji.”

Aku mendengar jawaban itu keluar dari mulutmu. Dan seketika wajahku berubah menjadi merah padam.
Banyuwangi, 8 Juni 2017 | 13 Ramadhan 1438 H

Kalian Luar Biasa, Teman

Orang bijak berkata, waktu akan merubah seseorang. Mungkin perkataan mereka benar. Ya,aku merasakannya saat ini. Orang-orang yang pernah ku kenal telah bermetamorfosis menjadi seorang yang luar biasa. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya jika mereka akan sehebat itu. Ya aku tahu, mereka telah berusaha dan berdoa sebaik mungkin untuk mencapainya. Aku percaya tidak ada yang bisa menghianati usaha dan doa. Dan pada akhirnya waktu lah yang akan menunjukkan siapa yang terbaik.

Untuk teman SMP-ku, Gangsar Lintas Damai, aku mengucapkan selamat atas pencapaianmu saat ini. Jangan pernah menyerah. Meskipun kamu hanya menjadi peserta OSN Biologi 2016, bagiku kamulah yang telah mengalungi medali emas yang paling bersinar. Jalanmu masih panjang teman. Jangan menyerah. Terus belajar. Aku percaya suatu saat ada perubahan besar dalam peradaban manusia karena pemikiranmu.


Untuk teman yang memiliki lapisan tekad sekuat baja, yang memiliki semangat sepanas bara api, Alfani. Maaf aku tidak tahu nama lengkapmu. Hehe. Jangan pernah lagi kamu ragu untuk bermimpi. Sekarang kamu telah membuktikan pada semua jika kamu mampu. Aku ingat kamu pernah bilang, “Duuh bisa nggak ya ikut OSN?” tanyamu ketika H-1 OSK. Sekarang kamu lihat kan, Allah telah menjawab semua doa dan usahamu. Perjuanganmu masih panjang teman. Aku harap kamu bisa jadi lebih baik, lebih baik di segala bidang lah. Jangan kemayu lagi ya, biar tidak ada lagi manusia-manusia yang akan meremehkanmu. Semangat.

Untuk Prima, maaf aku tak punya sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Karena ya, aku belum pernah mengenalmu. Baru-baru ini aku mengena namamu setelah Dentine 2016. Selamat ya kamu telah diberi kesempatan oleh Allah untuk merasakan bagaimana rasanya bertemu orang-oramg hebat dari seluruh Indonesia. Semangat. Jangan menyerah.

Pokoknya kalian putra terbaik Banyuwangi teman-teman. Kalian lah orang-orang hebat dan luar biasa yang pernah ku kenal. Dan aku janji aku tak ingin kalah dari kalian. Semangat. Man Jadda Wajada!

Kamar, 21 Mei 2016
(efek setelah melihat pengumuman OSN Biologi)

Cerita : Dunia OSN

Sangat ku ingat balasan surat sahabatku ketika aku bercerita kepadanya tentang kemalangannku dalam dunia OSN. “Memang dunia perOSNan itu sangat kejam”. Benarkah apa yang ia katakan? Mungkin iya. Karena aku masih memendam kekecewaanku hingga saat ini.

Saat itu aku ingat betul bagaimana guruku yang begitu menginspirasi berucap padaku, “Ingat, ada harga buat kamu yang telah terdzolimi” Apakah aku terdzolimi? Aku tak tahu jawaban pastinya. Dan aku yakin guruku itulah yang lebih mengetahui dunia OSN. Pak Jat, terima kasih ya pak. Sudah mau meluangkan waktu untuk saya. Meyakinkan saya bahwa saya mampu. Saya akan selalu mengingat pesan bapak, “Saya pasti bisa bukan saya harus bisa!”

Untuk temanku yang telah membantuku dalam perjuanganku meperebutkan kursi di provinsi, aku doakan kelancaranmu dalam perlombaanmu di tingkat nasional hari ini. Aku yakin kamu bisa. Dan kamu harus membawa kejuaraan untuk SMAN 1 Glagah. Kamu harus buktikan ke Pak Ganef kalau kamu bisa dan jangan lupa, kamu harus buktikan juga kalau bidang biologi juga bisa mendapatkan medali emas. Semoga Allah memudahkan langkahmu teman. Selamat berjuang.

Kamar, 17 Mei 2016

Cerita : Mimpi

Aku selalu percaya pada mimpi. Maka jangan kau heran kawan jika aku punya segunung mimpi yang jika disusun satu persatu pada akhirnya ia akan menyentuh langit ke tujuh. Saking tingginya aku merasa apakah mungkin mimpi ini bisa tercapai? Ah, entahlah. Aku tak tahu impian ini bisa terwujud atau tidak. Tapi aku harus percaya akan mimpiku. Ini mimpiku. Ketika aku sudah menuliskannya di proposal hidupku, aku yakin impian ini tak hanya angan-angan belaka. Ya aku yakin aku bisa diterima di SITH-S ITB. Karena setiap kali aku ragu akan mimpiku, aku akan meyakinkan diriku kembali jika :

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi. Tidak ada pemimpi yang terlalu rendah. Yang ada hanyalah usaha yang setengah-setengah

Banyuwangi, 16 Mei 2016

Madinah Namanya

Aku baru tahu nama gadis itu. Madinah namanya. Singkat dan sangat jelas menurutku. Nama yang istimewa untuk gadis yang istimewa. Kau tahu kawan, dia adik kelasku. Tepatnya ia baru bergabung menjadi anggota keluarga besar sekolahku.

Wajahnya sangat jelas menyiratkan wajah seseorang yang selalu terbasuh air wudhu. Sangat menentramkan ketika dipandang. Terlihat dari gaya berpakaiannya, dia bukan perempuan yang suka neka-neko. Dan hal yang selalu membuatku tersenyum simpul ketika bertemu dengannya yaitu, ia selalu menjulurkan kerudungnya di dadanya. Mungkin kau menganggapku aneh kawan. Tapi coba kau pikirikan dahulu, kalau perempuan yang dalam tanda kutip meskipun dia berkerudung, tak kan pernah menjulurkan kerudungnya sampai kancing ketiga di bajunya. Dan kesimpulannya, dia perempuan baik-baik.

Dan selama ujian akhir semester ini aku akan sering bertemu dengannya. Atau bahkan aku akan sering bertukar pikiran dengannya dalam sepekan ini. Hanya sepekan. Tak lebih dan tak kurang. Kau tahu kawan mengapa? Karena aku duduk semeja dan berbeda kursi dengannya.

Kamar, 03 Desember 2015
Late post 😀

Cerita: Lelaki yang Menatap Tuhannya

Sore beranjak. Semburat merah berpadu dengan biru tua khas malam terlukis begitu indah di lagit. Pemandangan indah tak bercela untuk mengawali malam. Similir angin malam mengelus-ngelus tubuh yang mulai letih karena aktivitas yang kian menggila.

Aku berjalan dari bilik masjid itu. Aku usai menunaikan kewajibanku sebagai hamba Tuhanku. Aku sering mendatangi masjid ini untuk menunaikan sholat magrib. Aku sering terlambat untuk menunaikan sholat yang satu ini. Karena setiap hari sabtu sore aku harus les kimia, dan kau tau kawan, kapan lesnya berakhir? Yaitu saat kumandang azan magrib telah berlalu. Jika aku memaksa untuk pulang, mengingat rumahku yang jauh terbentang dari rumah guruku, maka ku putuskan untuk beribadah di masjid ini.

Ku turuni tangga di masjid itu. Hanya ada 3 anak tangga. Aku berjalan sembari membenarkan posisi tas punggungku. Ketika kakiku menginjak anak tangga terakhir. Berrrr…. Angin segar menerpa wajahku. Ku lihat sosok laki-laki berjalan di depanku. Menoleh ke arahku. Ia terus berjalan. Aku menatapnya hingga tubuhnya menghilang di balik pintu masjid. Aku tak mengenal laki-laki itu karena aku belum pernah bertemu dengannya. Wajahnya teduh. Langkah kakinya penuh perhitungan. Dan semua terlihat mengesankan.

Aku suka dengan tipikal laki-laki seperti itu. Wajahnya teduh karena selalu terbasuh oleh air wudhu. Langkahnya penuh perhitungan karena ia tak ingin salah mengambil keputusan. Aku selalu terkesan dengan semua lelaki di dunia ini ketika ia sholat berjamaah di masjid. Bagiku laki-laki ini sebenar-benarnya laki-laki. Kesetiaannya tak tertangguhkan. Pengorbanannya tak diragukan. Bagiku, lelaki yang dengan sukarela bertatap muka dengan Tuhannya di masjid adalah mengesankan.

Cerita : Mereka Memilih Layang-Layang

Aku tinggal di kampung. Saat musim kemarau tiba, ada sebuah tradisi yang tak boleh terlewatkan. Bermain layang-layang. Ya, bermain layang-layang. Permainan yang bisa disebut gampang-gampang susah. Gampangnya sih saat si layang-layangnya sudah melayang bebas di angkasa nan luas. Susahnya itu, saat berusaha menaikkan atau menerbangkan layang-layangnya. Menurutku hal yang satu ini sangat susah. Tapi bagi mereka (sudah ahli layang-layang) ini masalah kecil.

Permainan ini tak memandang usia dan gender. Mulai dari anak TK sampai bapak-bapak suka sekali dengan layang-layang. Bahkan permainan layang-layang ini tak hanya dimainkan oleh lelaki saja, ada kok perempuan yang memainkan permainan ini. Dia tetangga belakang rumah. Penampilannya mirip sekali dengan laki-laki. Sebelas-dua belaslah. Wajar dia seperti itu, ya karena dia tak pernah bermain dengan anak perempuan. Dia selalu saja bermain dengan anak laki-laki. Seringkali aku temui, dia sedang berebut layang-layang yang sudah putus dengan teman lawan jenisnya.

Aku heran, kenapa mereka tergila-gila sekali dengan rangka bambu yang dilapisi kertas ini. Mereka rela bermain dengannya dari pagi hingga menjelang sore daripada membaca kitab sucinya. Haha… Aku tak akan tahu, karena aku tak bisa memainkannya. Mungkin mereka bahagia dengan kertas berangka itu daripada kertas bertuliskan firman Allah. Entah…

Cerita : Anak Kota

Suara murrottal terdengan mengalun lembut di telingaku. Begitu juga dengan suara ibuku yang mengikuti lantunan ayat-ayat suci itu. Berbeda dengan suaraku, tak jelas nadanya, makhrojnya, tajwidnya, dan semuanya lah, singkatnya kemampuan membaca qalam Allah itu masih belum sempurna. Tapi aku sedang berusaha untuk menuju kesempurnaan itu.

Tok… Tok… Terdengar suara pintu rumahku diketuk. Sontak aku memanggil ibu untuk membukakan pintu. Ibu langsung memakai kerudungnya dan segera membuka pintu rumah. Aku penasaran siapa yang bertamu di petang hari menjelang isya’ ini. Oh ternyata, saudara sepupuku.

Ibu menyuruhku memakai kerudungku untuk bersalaman dengan mereka. Aku hanya menurut. Kini aku sudah menutup aurat. Aku segera memanggil kakakku yang ada di dalam kamar untuk segera keluar. Aku tahu kalau kakakku paling tak suka jika saudara-saudara sepupuku ini berkunjung. Tapi aku tetap memaksa agar kakakku ini keluar. Aku ingin dia menghormati tamu dan lebih dekat dengan saudaranya.

Kami pun berbincang-bincang ringan, layaknya keluarga yang lama tak bertemu. Memang baru kali ini aku bertemu mereka sejak lebaran tahun lalu. Mungkin ini hikmah lebaran, bisa mempertemukan saudara-saudara yang terpisah.

Saudara sepupuku ini ada 3. Satu laki-laki yang merupakan mas tertua di antara saudaranya yang lain. Dia kuliah di Bogor. Tepatnya di IPB. Dan sepertinya insyaallah 2 tahun lagi aku akan menyusul ke kampus yang mempunyai banyak nama plesetan itu. Mas ini sepantaran dengan Mbakku.

Mas itu punya adik perempuan kembar. Mereka sekarang sedang kuliah di Malang dan Surabaya.

Mereka pun akhirnya pamit undur diri. Setelah batang hidung mereka tak tampak lagi, Mbakku menggerutu, “Namanya juga anak kota, gaya bicaranya sudah keliatan” dia langsung masuk kamar.

Aku berpikir, 2 tahun lagi insyaallah aku akan pergi ke Bogor untuk menyusul Mas itu. Itu berarti aku akan menjadi anak kota. Dan apakah gaya bicaraku akan berubah seperti anak kota? Ah… Entahlah. Aku tak tahu. Jika hal itu terjadi, gaya bicaraku menjadi gaya anak kota, kabar buruknya mbakku pasti tak akan menyukai. Dia tidak suka gaya bicara “anak kota”.