Category Archives: Pelajaran Hidup

Pelajaran Hidup Tanggal 09 November 2016

“duh, sepertinya bakalan hujan deh hari ini. Nggak les lagi nih jadinya, ” kata seorang teman ketika langit mendung begitu gelapnya . 

“jangan gitu. Harusnya kamu bersyukur dong, berarti dengan datangnya hujan, Allah ngasih kamu waktu untuk istirahat sebentar. ” timpal temanku yang lain. 

Kawan, entah kamu sadari atau tidak. Mungkin kita sering melakukan apa yang teman pertamaku lakukan. Mengeluh dan hanya mengeluh. Kita selalu saja berfikiran buruk akan segala sesuatu. Kita selalu saja tak pernah mau tahu apa yang sebenarnya ada dibalik segala sesuatu. Dan pada akhirnya itu membuat kita mengeluh dan pada akhirnya akan selalu menyalahkan segala sesuatu . 

Sekolah, 09 November 2016

Advertisements

Berita di Pagi Hari

Takdir memang selalu punya cara tak terduga agar selalu tampak mengejutkan.

Aku tak pernah menyangka kalau dia akan pergi secepat ini. Baru kemarin ku dengar dia sudah agak baikan. Dan baru tadi pagi pintu rumahku diketuk oleh sepasang perempuan di saat ayam belum berkokok. Aku heran ada kepentingan apa hingga mereka harus bertandang di rumahku jam setengah tiga pagi.

Di balik kamar, ku dengarkan lamat-lamat mereka berbicara. Mataku sudah dalam keadaan prima. Tak ada rasa kantuk menggelayut di kelopak mataku. Karena aku sudah terbiasa bangun di saat orang lain terlelap.

“Arofah sudah pulang, Mbak” katanya dalam bahasa Jawa.
Itu saja kalimat yang sangat jelas ditangkap oleh telingaku.

Aku tak menyangka kenapa bisa secepat ini. Dia masih muda. Seumuran kakakku. Satu hal yang akan selalu ku catat, takdir selalu punya cara agar tampak mengejutkan.

Saat itu juga aku, ibu, dan kakak perempuanku pergi ke rumah duka. Dia termasuk kerabatku, jadi jangan heran pagi-pagi buta kami sudah ke sana.

Ku lihat sudah banyak orang fi sana, meskipun gelap tak kunjuk beranjak. Di sana aku tak mau melihat keadaan mbak itu. Aku takut. Takut sekali. Karena aku takut jika ada orang meninggal. Satu hal yang selalu terfikir saat aku melihat orang meninggal, “bagaimana aku bisa tidur nanti”.
Ada satu hal yang membuatku termenung, mbak itu pulang saat malam jum’at, bagaimana denganku diriku nanti?

Lagi. Ada hal yang paling membuat hatiku ngilu sejadi-jadinya, saat ku lihat ibu dari mbak itu seakan masih menganggap kalau mbak itu masih hidup. Tak pergi ke mana-mana, “Ia hanya tidur. Nanti juga akan bangun” Hal yang terbanyang di benakku detik itu juga, bagaimana nanti kalau aku jadi seorang ibu, apakah aku sama tak relanya melepas kepergian anakku nanti? Apakah aku akan tampak seperti orang gila? Wallahua’lam.

kamar, 04 November 2015