Category Archives: Surat

Surat : Surat saat Ramadhan Untuk-Mu

Ya Allah, Tuhan pemilik langit dan bumi beserta isinya, maaf, selama ini kami terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga seringkali lalai akan perintah-Mu.

Maaf, kami belum mau untuk menghafal surat cinta-Mu yang ada di kitab suci kami padahal kami tahu kedudukan kami nanti ditentukan oleh sejauh mana firman-Mu ada di dada kami. Jangankan menghafal, Ya Allah, membacanya saja kami masih enggan. Surat cinta-Mu tak pernah kami sentuh karena ia berada di rak yang jauh dari jangkauan.

Maaf, kami tak sempat untuk menuntut ilmu agama, kami lebih suka mencari ilmu dunia karena kami rasa ilmu itu akan menjamin hidup kami. Dulu, kami pernah mempelajari agama kami, itu pun hanya di bangku sekolah. Dan jika ada yang berdebat mengenai ibadah, misalnya saja mengenai masalah isbal, cadar, jenggot, kami akan berubah menjadi manusia yang sok bijak seraya berkata, “Sudahlah, kenapa kalian masih terus membahas masalah ini? Orang barat sudah pergi ke bulan dan kita masih sibuk berkutat dengan masalah remeh temeh ini”

Ya Allah, maaf, selama ini kami lebih suka mendengarkan musik daripada mendengarkan lantunan surat cinta-Mu. Jumlah surat dalam kitab suci kami yang benar-benar ada di dada kami bisa dihitung dengan jari. Ketika firman-Mu dibacakan, hati kami tidak pernah bergetar karena hati kami penuh dengan urusan dunia yang tiada ujungnya. Ketika firman-Mu dibacakan, kami lebih suka mengobrol dengan orang disebelah kami.

Maaf, untuk urusan memperjuangkan agama-Mu, kami masih enggan. Kami tak ingin dianggap ekstrimis karena terlalu saklek dengan ajaran agama kami. Menjadi ekstrimis di zaman sekarang ini susah, Ya Allah. Ketika kitab agama kami dihina, kami masih pikir-pikir untuk turun ke jalan untuk membelanya. Kami tak ingin dianggap warga negara yang tidak cinta tanah air kami sendiri.

Maaf, Ya Allah, jangankan menyatuni anak yatim, menyisihkan 2,5 % dari penghasilan kami saja sangat berat kami laksanakan. Kebutuhan kami banyak. Kami lebih suka membelanjakan uang kami di pusat-pusat perbelanjaan dari pada di rumah-Mu.

Maaf Ya Allah, kami lebih suka membaca timeline social media kami daripada membaca kumpulan firman-Mu. Kami tak ingin dianggap kudet  karena tak tahu berita terbaru. Kami merasakan membaca timeline sosmed terasa lebih asyik daripada membaca ayat-ayat suci di kitab kami.

Ya Allah, dengan segala kerendahan hati, kami meminta maaf pada-Mu. Kami begitu mengharap surga-Mu tapi kami belum mampu untuk menjalankan syariat-Mu. Maafkanlah kelakuan kami. Kami sadar kelakuan kami lebih cocok menjadikan kami sebagai penghuni neraka-Mu, bukan surga-Mu. Tapi Ya Allah, kami takut menanggung siksa-Mu. Kami ingin terus merasakan karunia-Mu, bukan murka-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami makhluk yang dengan mudah menghamba pada-Mu bukan pada selain-Mu. Jauhkanlah kami dari perbuatan yang memperberat timbangan dosa kami. Mudahkanlah kami menjalankan perintah-Mu. Pantaskanlah kami supaya kami layak menempati sebaik-baik tempat istirahat–surga.

Banyuwangi, 15 Juni 2107 | 20 Ramadhan 1438

 

Banyuwangi, 14 Juni 2107 | 19 Ramadhan 1438

Curahan Hati Wanita yang Kehormatannya Telah Ternoda

Untuk : Semua anak cucu nabi Adam yang merasa dirinya diftrahkan sebagai lelaki

Dari : wanita yang merasa kehormatannya telah dinodai

Aku menulis ini lantaran kekecewaanku yang sudah tak mampu ku bendung kembali. Kalian, para lelaki, jika memanggil kami -wanita-  dengan panggilan yang tidak semestinya, contohnya sayang, beb, atau sejenisnya dengan maksud bercanda, tolong dengan segala hormat, hentikan sekarang juga. Aku tahu itu hanya bercanda. Oh ayolah, aku terluka dengan panggilan yang kau anggap candaan itu. Kau tahu, saat panggilan ‘sayang’ itu keluar dan kau tujukan padaku, orang lain bisa salah menafsirkan. Orang lain mungkin akan menganggapku sebagai wanita yang tak tahu batasan. Yang pekerjaan sehari-harinya hanya bergumal dengan lelaki. Tolong hentikan. Selama ini aku mencoba mengerti batasannku saat bergaul dengan pria. Dan kau sekarang memanggilku dengan panggilan muda-mudi yang sedang kasmaran? Panggilan ‘itu’ telah menodai kehormatanku sebagai wanita. Aku ingin jadi wanita baik-baik. Tak ingin ku jadi wanita jalang. Dengan panggilan itu, secara tidak langsung, kamu telah memasangkan gelar wanita nista itu padaku. Kau jadikan aku, dengan panggilan itu sebagai bahan guyonan dengan teman-temanmu. Ingat suatu ayat di kitab sucimu, “laki-laki baik-baik itu untuk perempuan baik-baik begitu sebaliknya”. Dengan kamu memanggilku dengan kata yang merendahkanku itu, pantaskah ku sebut kau lelaki baik-baik? Ku kira kau tahu sendiri jawabannya. Satu lagi, lelaki yang baik tidak akan pernah melukai kehormatan dan perasaan seorang wanita karena jika ia melakukannya sama saja ia telah melukai kehormatan dan perasaan ibunya. Tolong, kau pikirkan lagi sebelum kau berucap. Bercandalah dengan candaan yang baik. Jika tidak mampu, diamlah. Diam adalah emas.
Satu lagi, jika kau bermaksud menggoda kami dengan mengakatan kalian menyukai kami dan sedang berusaha mendapatkan hati kami di depan khalayak ramai, aku rasa itu dusta. Lelaki yang benar-benar mencintai seorang perempuan, akan selalu menyebut nama gadis yang ia sukai dalam setiap doanya kepada Tuhannya bukan malah diumbar di depan teman-temannya. Hentikan godaanmu, jika tidak, engkau akan dengan mudahnya menggoda wanita lain saat engkau telah beristri. Semua karena biasa, teman. Dan pikirkan lagi, jika nanti engkau memiliki anak gadis dan anak gadismu yang engkau jaga baik-baik malah digoda oleh lelaki, apakah kau rela? Ingat, aku anak gadis dari ayahku yang berusaha beliau jaga. Kau tahu bukan kalau di dunia ini hukum ketiga Newton selalu berlaku? aksi dan reaksi. “…and every action there is always an equal and opposite or contrary, reaction…”  Tolong kalian pikirkan kembali, para lelaki.

Terakhir. Di kitab sucimu, di surat Al-Hujurat ayat 11, Tuhanmu berfirman, “…janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk…”

Terima kasih atas kesediaan kalian membaca curahan hatiku yang terdalam.
Banyuwangi, 6 Mei 2017