Category Archives: Tulisan

Pantaskah Mereka Didahulukan?

Siang tadi, sepanjang perjalanan dari Bandara Juanda ke rumah saudara saya yang letaknya di Kletek, saya menemukan sebuah peristiwa yang menggelitik hati. Sekitar pukul 12-an tadi, jalanan sedang penuh dengan kendaraan besar–truk dan sejenisnya sehingga macet tak bisa dihindarkan. Semakin lama, sumpek makin saya rasakan di tembak lagi matahari yang memanaskan ubun-ubun. 

Di tengah perjalanan dari kejauhan saya mendengar bunyi sirene. Awalnya samar-samar makin lama makin nyata bunyinya. Saya kira sirene itu berasal dari ambulance ternyata berasal dari mobil polisi yang sedang mengawal rombongan P*S yang sedang tour. Mobil polisi itu terus mengklakson mengisyaratkan agar kendaraan di depannya menyediakan jalan bagi mereka.

Saya tidak habis pikir dengan apa yang mereka lakukan. Mereka adalah politisi. Slogan pro rakyat selalu digambarkan gemborkan. Tapi apa kenyataannya? Oh ayolah, itu hanya omong kosong. Pemanis bibir saja. 

Kalau memang mereka pro rakyat, setidaknya mereka rela berpanas-panasan ria dan bermacet-macetan ria dengan rakyatnya. Katanya ingin merakyat? Ingin dekat dengan rakyatnya? Kok malah tindakannya seakan tidak mengerti rakyat?

Berdasarkan pelajaran PPKn yang pernah saya dapatkan di bangku sekolah, meski sejujurnya saya tidak begitu memperhatikan, kedudukan seluruh rakyat Indonesia sama. Jadi, di jalan raya seharusnya berlaku juga. Tak ada yang perlu diprioritaskan kecuali ambulance, menurut saya. Menurut Anda, apakah rombongan politisi yang sedang melancong harus didahulukan? Saya rasa Anda tahu jawabannya.
Sidoarjo, 22 Mei 2017

Merantaulah

Dulu memang pernah terbersit di benakku untuk merantau. Di pikiranku yang waktu itu masih berseragam biru putih itu, merantau sangatlah keren. Jauh dari orang tua, merasakan kebebasan, melancong ke mana-mana, dan menjadi anak kota. Pikiranku yang masih lugu mengesampingkan kenyataan bagaimana jika nanti aku merasa kesepian, rindu yang membuncah, dan kudapati diriku berbeda dengan pribadiku yang dulu.

Kata orang, merantau lah dengan begitu engkau akan merasakan betapa sakitnya kerinduan dan merasakan betapa manisnya perjumpaan. 

Perkataan Imam Syafi’i seakan telah merasuki hatiku. “Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang (Imam Syafi’I 787-820 M)”

Memang aku belum sepenuhnya merantau. Tapi aku dapatkan sebuah kesimpulan dari mahasiswa perantau yang telah aku temui. Tanggung jawab. Itu lah yang harus kau emban jika kau memutuskan untuk menjadi seorang perantau. Tanggung jawab akan dirimu sendiri, tanggung jawab terhadap amanah yang kau emban, akan pendidikanmu di tanah rantau, dan tentunya akan kepercayaan yang telah orang tuamu berikan. 

Satu hal yang aku takutkan, aku tak mampu menjaga tanggung jawab itu. Semoga saja Allah membantuku dalam menjaga tanggung jawab yang telah diamanahkan kepadaku.
Soekarno Hatta Airport, May 22 2017

The Kind of You is Determined by Your Friends

I have no idea. Right now, I just want to share about what I have read, friends. Yeah, they are who always around you whenever and wherever you are. They are is a place for you to share everything. They are who always support you when you are lazy, unmotivated, and when you feel bored. Those are the positive effect from friends. While the negative impacts from friends which I feel for so long are lead to me to something worse. For so long after thinking so hard, I assume that the kind of you in the future is determined by what kind of your friends are. So, if you wanna be a good person, please make a friendship with good one too. While if you wanna be a bad person, you will make a friendship with a bad one too. I think you can choose a kind of friendship which you want.

Because I’ll be a freshman in two months and I must live in hostel, I hope I’ll have a good friend that will accompany me to be a better person. Amin

Untukmu yang Sedang Menghafal Alquran

Apa yang ada di benak kalian jika berbicara mengenai musik? Dunia muda mudi? Kekinian? Surga dunia? Pembangkit semangat? Penyebar virus galau? Baiklah, aku akui semuanya benar. Aku pun telah mengalaminya sendiri. Aku pernah mengalami di mana sepanjang hidupku seakan tiada hari tanpa musik. Hidup jadi hampa tanpa musik seperti sayur tanpa garam. Aku pun seakan mendoktrin diriku sendiri kalau aku pasti mengantuk saat belajar tanpa diiringi dengan musik. Ya, anggap saja saat itu musik adalah temanku yang paling setia.

Dulu saat aku mulai mendapat hidayah-Nya dan mulai menghafal Al-Quran tepatnya saat kenaikan kelas 10 ke kelas 11, dengan kerelaan diri – karena saat itu ingin sekali hafal banyak juz di Al-Quran – semua musik aku ganti dengan murottal. Lagu Inggris berganti menjadi lantunan ayat suci dengan Qari’ favoritku, Syaikh Mishary Rashid Alafasy. Karena ambisiku yang begitu besar, maklum lah masih baru hijrah jadi bawaannya ingin jadi baik terus, tiap hari dari no day without music beralih menjadi no day without murottal. 

Sebagai manusia, kita sudah diftrahkan untuk bosan terhadap sesuatu. Saat itu, celakanya, aku bosan mendengarkan murottal. Ya sudah, di samping mendengarkan murottal aku juga mendengarkan musik. Oh ayolah, aku anak muda dan bagi kami, our life will be flat without music. Dan akhirnya, aku keterusan mendengarkan musik sehingga murottal menjadi hal yang tersisihkan.

Seperti yang pernah guru agamaku katakan, sedzalim apa pun perbuatan seseorang, sehina apa pun perbuatan keturunan Nabi Adam, pasti hati kecilnya pernah berbisik kalau perbuatan itu salah. Saat itu, mungkin masih terselip inginku di dalam hati kecilku. Well, actually I have a dream become a hafidzah. And then, tentu hati kecilku berontak, “kalau mau jadi hafidzah, ada konsekuensinya. Musik harus kamu tinggal. Itu sangat menggangu konsentrasi kamu” Saat itu hafalanku masih satu juz, jadi aku tidak merasa hafalanku hilang lantaran keterusan mendengarkan musik. Sehingga aku tidak heran, sebentar-sebentar aku kembali ke jalan yang lurus dan kemudian ke jalan yang dimurkai-Nya.

Sampai kelas 12, awal semester tepatnya. Alhamdulillah, bisa dikatakan hafalanku lumayan. Tapi sayangnya, aku tidak amanah dalam menjaganya. 1 juz melayang dan aku harus mengulanginya kembali. Kau tahu kenapa? Semua karena musik. 

Saat kelas 12, tekanan dan tingkat stress kami sudah berada di level dewa. Untuk sedikit menghambat kerja hormon adrenalin, tiap jam kosong atau istirahat, kelas ku berubah menjadi studio musik. Saat pelajaran matematika pun seperti itu. Musik selalu menemani kami. Awalnya aku anggap angin lalu saja musik yang diputar di kelas seiring peningkatan kejenuhan, kepenatan, aku pun mulai mengikuti lantunan musik yang diputar oleh teman-temanku. 

Singkat cerita, setelah keterima di PTN, aku memutuskan untuk murojaah. Dari sini aku tahu, hafalanku telah hilang sejuz.

Nah, untuk teman-teman yang sedang menghafal Al-Quran atau sedang berusaha menjaga hafalannya. Sebisa mungkin hindari musik. Sayang sekaliz, surah demi surah yang susah payah kalian hafalkan berakhir dengan sia-sia. Kalau kalian masih susah menghilangkan kebiasaan mendengarkan musik, camkan kalau musik itu haram. 

Akan datang pada umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina sutra, khamr (minuman keras) dan alat musik, dan sungguh akan menetap beberapa kaum di sisi gunung, di mana (para pengembala) akan datang kepada mereka dengan membawa gembalaannya, datang kepada mereka -yakni si fakir- untuk sebuah keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah menghancurkan mereka pada malam hari, menghancurkan gunung dan merubah sebagian mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat.” Shahiih al-Bukhari, kitab ash-Shalaah, bab Bun-yaanul Masjid (I/539, al-Fat-h).
Bandung, 14 Mei 2017

Don’t Waste Your Food

All human being need food to life. Like what I have learned in my school, especially in Biology that people need glucose to succeed metabolism process in their body. Whitout metabolism our body can’t produce energy to do our activities like running, reading, studying, walking, and so on. Unfortunately, most of people around the world throw away their foof that is still good enough to eat whereas they can feed millions of other people.

Be honest, I often throw away my food. When I want to dawn for fasting, unfortunately  I am late to wake up so I eat my food in hurry and sometime I can’t eat all of my food because the time is limited so I throw away them. Sometimes I feel gulty to throw away my food because there is a lot of people in other world still can’t eat. As child I also thought by my mother that I may not throw away my food because they will cry if I do that.`

You know, food is a sustenance from Allah. So if we throw away food, it means we also refuse the sustenance from Allah too. You need to know, not every people get sustenance from Allah.

If you throw away your food, it means you are not grateful or other word, you are kufr.  “And [remember] when your Lord proclaimed, ‘If you are grateful, I will surely increase you [in favor]; but if you deny, indeed, My punishment is severe.’ ” (Surah Ibrahim : 7)

So, from now, let’s try to not throw away our food. Instead of throwing the food, you can give your extra food the other people that need your food. Therefore your food will not be in vain and you can also be rewarded by God.

So [Solomon] smiled, amused at her speech, and said, “My Lord, enable me to be grateful for Your favor which You have bestowed upon me and upon my parents and to do righteousness of which You approve. And admit me by Your mercy into [the ranks of] Your righteous servants.” (Surah An-Naml : 19)

Aplikasi untuk Membantu Menghafal Al-Quran

Bismillahirrahmanirrahim.

Berhubung iklan sirup sudah mulai menjamur di TV maka ku putuskan untuk menulis ini. Loh, apa hubungannya iklan sirup dengan tulisan? Ada dong. Iklan sirup di TV biasanya muncul saat apa? Menjelang Ramadhan. Nah, karena Ramadhan itu setahun sekali, untuk menyambutnya perlu dilakukan persiapan-persiapan yang matang dan sistematis. Kalian tak ingin bukan Ramadhan kali ini berakhir percuma? Karena di bulan Ramadhan pahala dari amal ibadah kita dilipatgandakan, tak heran jika banyak anak cucu Adam yang berlomba-lomba dalam kebaikan sebut saja misalnya tilawah Al Qur’an. Dari tahun-tahun kemarin, tiap kali Ramadhan, aku biasanya ikut Pesantren Qur’an yang diadakan oleh Pondok Qur’an. Di sana, biasanya sekitar 20 hari, aku menghafalkan kalam Allah yang paling indah. Lumayan lah, bisa mengisi Ramadhan dan tiap tahunnya selalu ada kenangan saat berusaha menghafalkannya. 

Ngomong-ngomong mengenai hafalan, aku mau berbagi ke kalian aplikasi-aplikasi yang sangat membantu aku selama hafalan. Ok. Check this out!

Pertama, beHafizh

Dulu, aku dapat info dari aplikasi ini dari sebuah akun di LINE. Menurut informasi yang aku dapatkan, aplikasi ini dibuat oleh lulusan UGM. Karena menurutku aplikasi ini akan membantu, ya sudah aku install di hp.

Apa saja fiturnya?

– Bisa untuk penanda surat dan ayat mana saja yang sudah kalian hafal.

– Bisa untuk memutar murottal berdasarkan ayat yang ingin kita ulang dan dengarkan.

– Ada fitur Memorization Test. Melalui fitur ini, kalian bisa menguji seberapa kuat hafalan kalian. Ada 2 jenis tes di aplikasi ini yaitu kita menebak nama surat berdasarkan ayat yang kita dengar dan melanjutkan 2 ayat berikutnya berdasarkan ayat yang disajikan. Ada kelemahan juga, aku rasa ada kesalahan di jawaban Memorization Test ini sehingga aku tidak menggunakannya lagi.

Panduan penggunaan aplikasi ini secara keseluruhan seperti di bawah ini.

Kedua, Haafiz

Aku tak tahu aplikasi ini dibuat oleh siapa tapi sepertinya bukan pribumi. Terlepas dari siapa yang membuat, aplikasi ini sungguh bermanfaat. Mungkin aplikasi ini cocok untuk kalian yang tergolong auditori. Sebenarnya di Haafiz ini ada dua jenis mode : reading mode and listening mode. Sejauh ini yang aku gunakan hanya listening mode karena reading modenya tidak sama dengan Al Qur’an biasa. Kalau kalian pernah membaca Al-Quran pojok, seperti itu tampilannya. Jadi, di sini aku hanya mau membahas yang listening mode saja.

Lalu apa sajakah fitur-fiturnya?

– Bebas memilih Qari. Ada banyak Qari yang disediakan. Tapi yang aku gunakan hanya Mishary Rashid Alafasy. Kenapa? Karena menurutku cocok untuk hafalan. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Lagu yang beliau gunakan juga sederhana tapi enak didengar. 

– Bisa memutar murottal sesuai ayat yang ingin kita ulang. Mulai dari surat apa. Ayat berapa sampai berapa. Diulang berapa kali sampai tiap ayatnya diulang berapa kali.

Semoga aplikasi tadi bisa membantu teman-teman yang ingin menghafalkan Al-Quran sehingga makin banyak generasi Qurani yang bertebaran di muka bumi. Amin

Laugh

Laugh.

verb [no obj.] make the spontaneous sounds and movements of the face and body that are the instinctive expressions of lively amusement and sometimes also of derision – oxford dictionary.

We all like to laugh. I mean, most of us do!

Some people said that laugh is good for our health, but laugh can also be harmful. There’s a phrase, saying that laughter is the best medicine. Talking of medicine, there are many medical studies which examine the benefits of laughter – it reduces stress, it’s good for your heart, things like that. But Professor Robin Ferner said that laughter has many negative effects like heart rhythm disturbance which had stopped their heart, fainting, burst gullets, dislocated their jaws or burst their lungs. Some of those sound quite nasty. I think they will not happen if we aren’t over laughing.

Surely, there are some benefits of laughing like you can lose your weight by laughing because you use enrgy when you laugh. You move your diaphragm, you expand your lungs. Laughing for quarter of an hour will burn up 40 kcal, and if you laugh all day you’d use up about 2,000 calories which is what most people consume in a day. And also laughing make people feel better, and it can reduce the chance of having a heart attack.

Moving on, I have two questions for you. First, Which Greek word means the study of laughter and its effect on the body? It’s gelotology-which comes from the Greek word, gelos which means laughter. Second, at what age do babies begin to laugh? The answer is at 3-6 months and they start to simel at 0-3 months.

Alright then.

We rarely laugh when we’re on our own. You know why? Because laughter is a social thing that we generally like to share with other people. Anyway, some researchers believe that the purpose of laughter is related to the way we bond with each other. And the more we laugh, the more we bond as a group.

So, if you wanna happy, let’s join in groups and share with others! Unfortunately, I didn’t spend lots of my time with my friends in groups. You know me, I’m sometime an introvert and ambivert so I spend most of my time in home with loneliness. When my classmate travell to somewhere, I didn’t join them. I just joined them one time. And finally, I feel regret not spend my high school time with them.

Your Appearance

Have you experienced when your friends say, “You’re not looking in great shape.”? Honestly, I often experience it. “You’re too thin, Risa! Come on, please eat a lot of food! Would you like be a living corpse?” I’m annoyed everytime I hear that. Yeah, I know that I’m thin. But I think I’m not too thin. I’m ideal. So, please don’t force me to eat too much! I hate it. Once more, everytime I work out, don’t ask me, ” Why do you work out? Your body has already been thin.” Oh, come on! This is my right. I have the right to decide to work out or not.

I’m asking you not to judge people according to the way they look. Appearance can fool you. Unfortunately, most of people still do that. Well, I admit I still often judge the people by their appearance, but I try to eliminate that although it’s difficult. Now, It’s not only people who make quick decisions about others based on their appearance, some animals do this too. Did you know peahens? That is a female peacock. During breeding season, they prefer male peacocks with lots of eyespots on their tail. Why’s that? Well. one theory is that a male peacock’s tail is a sign of his genes-part of the DNA in a cell that controls the physical development and behaviour of living creatures. It takes lots of energy to grow a big tail, and to carry it around, so only the strongest, healthiest males can afford to do this. By the way, this information has been exist on SIMAK UI 2016th test.

Based on research, the traits of men that attract women are a deep voice and a square jaw. Oh, come on, It doesn’t make sense. In my opinion, attractive man is a man who memorize 30 juz – Ya Allah, I hope I can have a hafidz husband -, has good attitude, knows Islam well, and can accompany me to the jannah. Amin.

Can you imagine that in the past men quite often to wear corsets? No, I can’t. Between 18th and 19th century, men quite often would wear corsets to enhance their physical appearance and display their status and rank. Sorry men, I don’t need your physical appearance. I just need your heart, your love.

But, come to think of it, the way we dress is still important. Just imagine a woman wearing not appropriate chlotes and a woman wearing good chlotes – I mean she wears hijab. Which one do you like? I’d like to say a woman wearing good chlotes of course. At lease, she knows Islam well than the other.

Well, sometimes we need to judge people by their appearance and sometimes we don’t need it. It depends on situations and the people whom we judge. I hope I can judge at a suitable time.

 

Banyuwangi, 03 Mei 2017

-Latihan nulis essay buat Incoming test ITB-

Kota yang Ku Impikan

Sore itu masih dalam euforia pengumuman SNMPTN, ku katakan padamu dengan rasa bahagia, sedih, haru, bangga, dan semua emosi berbaur jadi satu mungkin jika dicampur bisa menjadi rujak sayur 😂, “Secepatnya aku akan mengunjungi kotamu.” Ya kotamu. Kota yang begitu ku rindukan. Kota yang pesonanya mampu menyihir pasang mata yang memandang. Kota di mana aku pernah berjanji akan mengunjunginya kembali suatu hari nanti.

Aku tak menyangka rasa inginku yang begitu dalam untuk melanjutkan pendidikanku berhasil membawaku untuk mengunjungi kota itu, Bandung. Kota di mana kembang-kembang menawan bermekaran. Kota di mana semua asa dan impiku akan ku susun menjadi tangga yang mengantarkanku ke kesuksesan, insyaallah. 
Banyuwangi, 03 Mei 2017