Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan. (HR. Bukhari)

Advertisements

Untuk Kalian yang Belum Diloloskan di PTN

Jujur, untuk kalian yang belum mendapatkan PTN dan masih harus berjuang untuk mendapatkannya, kalian sungguh sangat keren, keren banget deh. Kenapa? 

1. Allah cinta kalian

Dicintai sama sang pencipta itu hal yang sangat harus disyukuri loh, gak semua orang diistimewakan oleh-Nya. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Ia akan mendatangkan cobaan kepada mereka. Dan barang siapa rela dengan ujian itu, dia akan memperoleh kerelaan-Nya. Barang siapa yang membencinya, dia akan memperoleh kebencian-Nya.” (HR. Tirmizi, 2396 dan Ibnu Majah, 403)

2. Kalian lebih memahami arti perjuangan. Dengan ditundanya kelulusan kalian, kalian gak akan sembrono lagi. Nggak akan lagi mengecewakan orang tua kalian yang udah berharap akan kesuksesan kalian. Kalian akan lebih paham kalau gak ada yang instan dalam kesuksesan dan pastinya tingkat tanggung jawab kalian akan meningkat drastis.

Oh ya, mungkin kalian pernah menyalahkan Allah kenapa kalian gak dilulusin aja, menyalahkan takdir yang Allah buat, atau keputusan-Nya itu salah. (jujur, aku pernah) Tau nggak, saat kalian berfikir seperti itu kalian itu ga lebih dari makhluk yang sok tahu (termasuk saya). Tenang, Allah itu tahu yang terbaik buat kalian. Pasti ada hikmah di balik ujian kalian. Ada kakak dari temenku, 2 tahun yang lalu dia ditolak PTN dan kalian tahu apa yang terjadi setelah 9 bulan kemudian? Dia jadi hafidzah, kuy. Coba kalau dia diterima PTN, mana sempet dia hafalan apalagi jadi hafidzah. Dan jadi hafidzah itu lebih keren dari sekadar kalian diterima di ITB, UI, UGM, dll. 

Semangat untuk kalian. Inget, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Man jadda wajada (Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil, Insya Allah) 😊 

Banyuwangi, 19 Juni 2017 | 24 Ramadhan 1438 H

SNMPTN #1

Di Indonesia–negara tercinta kita–ada 3 jenis jalur masuk yang umum di perguruan tinggi negeri. Apa saja?

  • Pertama, SNMPTN. SNMPTN adalah kependekan dari Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau kata orang biasa disebut dengan jalur undangan.
  • Kedua, SBMPTN. SBMPTN adalah kependekan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Seleksi ini mengandalkan tes tulis untuk penyaringan mahasiswa barunya.
  • Ketiga, mandiri. Tidak semua perguruan tinggi negeri di Indonesia membuka jalur mandiri. Sebut saja ITB. Dulu ITB ada ujian mandiri, namanya USM dan saya tidak tahu mengapa sekarang ITB meniadakan jalur mandiri. Jalur mandiri yang sering saya dengar dari teman-teman saya–maaf, saya tidak ikut mandiri sehingga saya kurang tau infonya–adalah SIMAK UI yang diadakan oleh UI, UTUL yang diadakan oleh UGM, SBMPTR yang diadakan oleh perguruan tinggi negeri yang ada di Regio Besuki seperti Universitas Jember dan Universitas Airlangga kampus Banyuwangi. Tahun ini–2017–ada beberapa PTN yang menggunakan nilai SBMPTN sebagai acuan seleksi mandiri misalnya Universitas Brawijaya dan ITS. Seperti yang kalian tahu, kalau kalian ingin mengikuti jalur mandiri, pasti ada uang lebih yang harus kalian bayar ketika kalian keterima. Jadi, gunakan jalur mandiri sebagai pilihan akhir kalian.

Karena saya diterima di PTN melalui jalur SNMPTN maka saya akan membahasnya lebih lanjut. Ada beberapa info yang harus kalian ketahui seputar SNMPTN. What are those?

  • SNMPTN itu seleksi pertama yang akan kalian lalui sebelum seleksi lain di PTN biasanya awal tahun. Kalau tahun saya seleksinya mulai bulan Februari.
  • Tidak semua siswa kelas 12 di sekolah kamu bisa ikut seleksi ini, tergantung kebijakan Dikti dan PTN di tahun seleksi kalian. Biasanya hanya berapa puluh persen saja dari siswa di sekolah kalian yang boleh mengikuti SNMPTN.
  • Seleksinya gratis karena ditanggung pemerintah.
  • Kalau kamu berencana mendaftar Bidikmisi, usahakan untuk menyelesaikan berkas pendaftaranmu sebelum pendaftaran SNMPTN dibuka. Ini untuk memudahkan seleksi Bidikmisimu ke depannya
  • Alumni tidak diperkenankan mengikuti SNMPTN. Jadi, sainganmu hanya teman seangkatanmu di seluruh Indonesia.
  • For further information, you can search in Google and type SNMPTN. And tadaa, all of informations you need will have already been available. Or you can visit http://www.snmptn.ac.id

Seperti yang telah saya jelaskan tadi kalau SNMPTN itu tidak lain adalah jalur undangan alias tanpa tes. Nah loh, kalau tanpa tes bagaimana dong sistem seleksinya?

  • Rapot. Nah, rapot ini menjadi andalan PTN untuk menyeleksi calon mahasiswa karena ketiadaan tes tulis. Nilai rapot yang dibutuhkan untuk seleksi berasal dari semester 1 hingga 5. Kamu tidak perlu lagi repot-repot memasukkan nilai rapot kamu karena PTN akan melihat nilai rapot kamu di PDSS–sejenis pangkalan data yang berisi nilai rapot kamu. Biasanya sekolah tiap semester sudah menyerahkan nilai kamu ke PDSS. Jadi, kamu tinggal menyocokkan kesesuaian data di PDSS dengan nilai rapot asli kamu.
  • Prestasi. Kalau kamu punya sertifikat di berbagai kejuaraan atau pelatihan atau apapun​, kamu wajib banget menyertakan sertifikat kamu dalam seleksi SNMPTN. Kenapa? Karena PTN akan lebih mempertimbangkan calon mahasiswa yang tidak hanya pintar di akademik saja tapi juga di non-akademik juga oke. Termasuk juga bagi kamu yang sering ikut lomba di bidang akademik seperti kimia, fisika, dan biologi boleh banget mengirimkan bukti keaktifan kamu ke panitia SNMPTN.
  • Akreditasi sekolah. Tingkat akreditasi sekolah kamu menentukan berapa banyak siswanya yang berhak mengikuti SNMPTN dan tiap tahun sepertinya selalu berubah kebijakannya–tergantung panitia SNMPTN. Jadi, jumlah siswa yang diterima di SNMPTN di sekolah yang akreditasinya A tentu berbeda dengan akreditasi B dan seterusnya.

    Info seputar seleksi PTN akan bersambung di post selanjutnya.
    Banyuwangi, 19 Juni 2017 | 24 Ramadhan 1438 H

    Education

    Since childhood, I live in an area which access to education is limited. There’re some of my childmates have got married and they already have a baby. My friends who have a baby don’t graduate from junior high school. It’s because financial problem. They must sacrifice their education for their family. It’s easier for get ting married than getting education. Why does it happen? Well, because in my country, if we want to get education, we must sacrifice everything. You know, in here, education is just for some group that they have a lot of money. For us, education is expensive. And if we want to get that, we must give all of our efforts to get that. For my friends, if you have easy access to education, you must make use of this for getting knowledge well. You must study hard. Don’t be lazy. Don’t even give up. You must be successful, so you can help us to get good education. If we don’t have opportunity to deserve that, at least, our descent will have opportunity to study in school, even in college. 
    Banyuwangi, 17 Juni 2017 | 22 Ramadhan 1438 H

    Surat : Surat saat Ramadhan Untuk-Mu

    Ya Allah, Tuhan pemilik langit dan bumi beserta isinya, maaf, selama ini kami terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga seringkali lalai akan perintah-Mu.

    Maaf, kami belum mau untuk menghafal surat cinta-Mu yang ada di kitab suci kami padahal kami tahu kedudukan kami nanti ditentukan oleh sejauh mana firman-Mu ada di dada kami. Jangankan menghafal, Ya Allah, membacanya saja kami masih enggan. Surat cinta-Mu tak pernah kami sentuh karena ia berada di rak yang jauh dari jangkauan.

    Maaf, kami tak sempat untuk menuntut ilmu agama, kami lebih suka mencari ilmu dunia karena kami rasa ilmu itu akan menjamin hidup kami. Dulu, kami pernah mempelajari agama kami, itu pun hanya di bangku sekolah. Dan jika ada yang berdebat mengenai ibadah, misalnya saja mengenai masalah isbal, cadar, jenggot, kami akan berubah menjadi manusia yang sok bijak seraya berkata, “Sudahlah, kenapa kalian masih terus membahas masalah ini? Orang barat sudah pergi ke bulan dan kita masih sibuk berkutat dengan masalah remeh temeh ini”

    Ya Allah, maaf, selama ini kami lebih suka mendengarkan musik daripada mendengarkan lantunan surat cinta-Mu. Jumlah surat dalam kitab suci kami yang benar-benar ada di dada kami bisa dihitung dengan jari. Ketika firman-Mu dibacakan, hati kami tidak pernah bergetar karena hati kami penuh dengan urusan dunia yang tiada ujungnya. Ketika firman-Mu dibacakan, kami lebih suka mengobrol dengan orang disebelah kami.

    Maaf, untuk urusan memperjuangkan agama-Mu, kami masih enggan. Kami tak ingin dianggap ekstrimis karena terlalu saklek dengan ajaran agama kami. Menjadi ekstrimis di zaman sekarang ini susah, Ya Allah. Ketika kitab agama kami dihina, kami masih pikir-pikir untuk turun ke jalan untuk membelanya. Kami tak ingin dianggap warga negara yang tidak cinta tanah air kami sendiri.

    Maaf, Ya Allah, jangankan menyatuni anak yatim, menyisihkan 2,5 % dari penghasilan kami saja sangat berat kami laksanakan. Kebutuhan kami banyak. Kami lebih suka membelanjakan uang kami di pusat-pusat perbelanjaan dari pada di rumah-Mu.

    Maaf Ya Allah, kami lebih suka membaca timeline social media kami daripada membaca kumpulan firman-Mu. Kami tak ingin dianggap kudet  karena tak tahu berita terbaru. Kami merasakan membaca timeline sosmed terasa lebih asyik daripada membaca ayat-ayat suci di kitab kami.

    Ya Allah, dengan segala kerendahan hati, kami meminta maaf pada-Mu. Kami begitu mengharap surga-Mu tapi kami belum mampu untuk menjalankan syariat-Mu. Maafkanlah kelakuan kami. Kami sadar kelakuan kami lebih cocok menjadikan kami sebagai penghuni neraka-Mu, bukan surga-Mu. Tapi Ya Allah, kami takut menanggung siksa-Mu. Kami ingin terus merasakan karunia-Mu, bukan murka-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami makhluk yang dengan mudah menghamba pada-Mu bukan pada selain-Mu. Jauhkanlah kami dari perbuatan yang memperberat timbangan dosa kami. Mudahkanlah kami menjalankan perintah-Mu. Pantaskanlah kami supaya kami layak menempati sebaik-baik tempat istirahat–surga.

    Banyuwangi, 15 Juni 2107 | 20 Ramadhan 1438

     

    Banyuwangi, 14 Juni 2107 | 19 Ramadhan 1438

    Cerpen : Insya Allah itu Lebih Baik

    Sejak lahir hingga saat ini aku besar, tumbuh, dan berkembang di negeri tercinta, Indonesia. Sehingga aku paham benar bagaimana karakter manusia di negeri ini. Perlukah aku sebutkan satu persatu? Kurang apresiasi, tidak tepat waktu, suka ingkar janji, konsumtif, dan masih banyak lagi. Maaf, bukannya aku tak ingin beberkan semua penyakit yang menjangkiti manusia di negeri ini-termasuk aku, tapi aku rasa tidak etis membicarakan aib sendiri.

    Ya, manusia di negeriku suka ingkar janji-mungkin termasuk diriku juga. Seperti kalian tahu di negeriku mayoritas penghuninya menganut agama Islam. Maka jangan heran ketika ada penghuninya membuat sebuah janji, ‘insya Allah’ menjadi jawaban wajibnya.

    “Eh, sungguhan loh! Jangan insya Allah doang!” Aku memprotes Rini saat ia hanya menjawab Insya Allah atas janji yang telah kami buat seperti kebanyakan orang. Oh ayolah, bagi kami-penghuni negeri ini insya Allah hanya pemanis bibir belaka kepada para pembuat janji. Mengenai pemenuhan janji? Yah, tergantung suasana hati pelaksana janji. Seperti itulah manusia penghuni negeri ini.

    “Janji! Aku  gak mau ucapan Insya Allah!” Aku berkata setengah teriak kepadamu. Aku tentu tak ingin terus dikhianati oleh orang yang terus saja meluncurkan yang memiliki arti ‘jika Allah menghendaki’ itu termasuk dirimu.

    “Tak perlu janji, Rosa. Dan aku pun tak ingin membuat sebuah janji denganmu. Insya Allah itu sudah lebih dari cukup. Karena kita tak tahu apa yang akan terjadi esok lusa.”

    “Bukankah kau sudah faham dengan perkara ini? Allah sendiri pun telah memerintahkannya. InsyaAllah itu sebaik-baiknya jawaban atas suatu janji.”

    Aku mendengar jawaban itu keluar dari mulutmu. Dan seketika wajahku berubah menjadi merah padam.
    Banyuwangi, 8 Juni 2017 | 13 Ramadhan 1438 H

    Menjadi Baik

    Sebagai manusia pasti kita sering merasa malas untuk melakukan sesuatu bahkan termasuk sesuatu yang telah kita rencanakan sebelumnya. Misalnya shalat tarawih.

    Memang ya jalan menuju kebaikan itu sering kali terjal, menanjak, berliku-liku. Tapi kalau difikirkan dengan seksama kalau jalan menuju kebaikan itu lurus, mulus saja, nama sih bukan perjuangan. Padahal menuju kebaikan itu adalah perjuangan. Perjuangan yang perlu dibiasakan. Bukannya ujug-ujug langsung berubah menjadi baik.

    Seperti kata orang, “Semua itu butuh proses.” Dan kadang menjadi baik itu perlu dipaksakan agar kelak menjadi kebiasaan. Semoga saja kita bisa istiqamah menuju jalan kebaikan.

    Banyuwangi, 6 Juni 2017 | 11 Ramadhan 1438 H

    Menjadi Jujur

    Kau tahu kejujuran, bukan? Sebuah kata benda yang kita saya ingin berpegang teguh padanya, saya harus rela menjadi golongan yang sedikit. Merasakan kekecewaan, berderai air mata bahkan kadang harus rela dihadiahi cemoohan.

    Saya hidup-tumbuh dan berkembang-di masyarakat yang kurang menanamkan kejujuran. Bagi mereka prioritas kejujuran itu adalah nomor ke sekian. Maka jangan heran jika generasi saya nantinya yang kelak jadi pemimpin bangsa, mungkin akan akan terjerat kasus yang berkaitan dengan lembaga anti rausuah.

    Memang menjadi jujur adalah pilihan. Saya tahu itu. Dan dulu sebelum saya mengenal agama saya seperti saat  ini, saya sempat  jatuh ke lubang hitam itu dan menjadi golongan mayoritas.

    Tapi bagaima kita menjadi jujur jika panutan kami-guru kami-membiarkan ketidakjujuran itu sendiri atau bahkan sering menjadi tidak jujur. “Guru itu digugur dan ditiru” begitulah yang saya dapatkan dari pelajaran bahasa Jawa. Semua tingkah polah guru bisa dengan mudah ditiru oleh anak didiknya, karena gambaran di masyarakat seperti itu.

    Tapi, kami punya nurani yang jelas mengatakan bahwa perbuatan itu salah. Bodohnya kami, jeritan itu malah kami abaikan. Kami senantiasa dituntut di tempat belajar kami. Mendapat nilai jelek dicap sebagai siswa yang bodoh lah, malas belajar lah, dan kalian tahu istilah lainnya. Maka jangan heran jika kami menempatkan kejujuran di bagian ekor tidak di dalam kepala kami apalagi hati kami.

    Setiap manusia itu berbeda kadar kecerdasannya dan mereka tak mungkin pintar di segala bidang. Jadi, tolong lah jangan menekan kami seperti itu. Dengan kalian semakin menekan kami, semakin kami berani untuk menjadi tidak jujur. Dan kalian tahu dengan tekanan itu, siswa yang awalnya bertekad untuk memegang nilai-nilai kejujuran dibuat menjadi tidak berdaya. Jelas, jika dia tetap mempertahankannya, dia akan tampak berbeda dengan lingkungannya. Mau tak mau dia harus menyerah.

    Ini sebuah pelajaran untuk teman-teman yang bercita-cita untuk menjadi pendidik di masa depan. Karena nanti anak cucu saya akan dididik oleh manusia-manusia macam kalian. Tolong, jangan menilai siswa hanya dari nilai yang dia dapat saja, tapi juga bagaimana ia bersusah payah untuk mendapatkannya. Dan tentu saja tolong berikan penghargaan kepada siapa saja yang selalu memegang teguh kejujuran.

    Banyuwangi, 03 Juni 2017 | 08 Ramadhan 1438H

    Asas Manfaat Bukannya Uang

    Saya heran mengapa manusia di sekitar saya-kebanyakan-menggunakan uang sebagai ukuran kebehagiannya. Oh ayolah, uang bukan sumber kebahagiaan. Ia hanya media yang kita gunakan untuk menjadi bahagia. Sumber kebahagiaan yang hakiki itu ada di hati kalian. Semakin banyak kamu bersyukur akan nikmat yang Tuhanmu berikan, semakin tentram dan bahagia hatimu.

    Memang manusia diciptakan untuk tidak pernah puas dengan apa yang telah ia miliki. Tapi, itu bukan menjadi alasan untuk selalu mendewakan uang, bukan?

    Generasi saya, ini yang saya rasakan, telah dididik untuk menentukan dan memilih segala sesuatu berdasarkan atas asas uang bukan kebermanfaatannya.

    “Mau jadi apa kamu kalau kuliah di jurusan A?” Seperti itulah kira-kira kami dididik. Mau jadi apa kamu? Jelas, kami ingin jadi orang yang bermanfaat seperti yang nabi kami perintahkan. ‘sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya’

    Dan hal inilah yang mengantarkan kenapa saya memilih kampus gajah itu sebagai tempat melanjutkan pendidikan saya. Sejak SMP saya ingin mendedikasikan hidup saya pada pertanian dan saya ingin melanjutkan di kampus dengan gelar pertaniannya. Apa daya saya yang hanya berstatus ‘anak’. Bapak saya seorang petani. Jadi, beliau tahu seluk-beluk dunia pertanian di Indonesia. Bagaimana musim menjadi tak menentu, serangan hama tak mudah dibasmi, harga panen tak bisa diprediksi, dan lain sebagainya. Sampailah pada satu keputusan, “jangan kuliah di pertanian” Kenapa? Pertanian tak akan menjamin masa depanmu.

    Lagi dan lagi. Mereka takut akan masa depan anaknya. Saya paham, mereka ingin anaknya hidup nyaman di masa depan. Mereka tak ingin anaknya kesusahan dalam segela hal. Tapi, apa yang menjamin kalau misalnya, anak pertambangan dan perminyakan yang katanya gajinya fantastis akan hidup tentram di masa depan?

    Tenanglah, sudah ada Dzat yang mengatur masa depan kami. Kami ingin bermanfaat untuk bangsa kami.

    Memang kami lahir dengan sudah menyandang gelar agama rahmatan lil alamin. Tapi, apa yang sudah kami lakukan? Sejauh ini tak ada. Saya rasa karena kami dididik bukan berdasarkan asas kebermanfaatan, melainkan uang.

    Insyaallah, kalau kami bisa bermanfaat untuk orang lain, keberkahan akan menghampiri kami. Ingatlah kalau nikmat Tuhan akan datang kepada orang-orang yang senantiasa menebar manfaat.
    Banyuwangi, 2 Juni 2017 | 07 Ramadhan 1438H