Lamun Lestari, Sejahteralah Penduduk Bumi

Mengenal Padang Lamun

            Sudah kenalkah kamu dengan padang lamun? Atau jangan-jagan selama ini kamu salah mengira lamun sebagai rumput laut dan begitu sebaliknya. Dalam bahasa Inggris, lamun dikenal sebagai seagrass sedangkan rumput laut dikenal sebagai seaweed. Padang lamun adalah angisperma (tumbuhan berbiji) yang hidup di laut dan biasanya membentuk gerombolan lamun monospesifik (satu spesies) atau multispesifik (banyak spesies) (Kuriandewa et al., 2003). Spesies lamun tumbuh secara berkoloni dan menyebar melalui penjuluran rizoma speerti Cymodocea serrulata dan Posidonia oceanica. Akan tetapi, ada juga spesies lamun yang berkembang biak dengan cara seksual seperti Zostera marina dan Enhalus acoroides (Duarte, 2002).

           seagrass1-768x456Seagrass (sumber : http://www.floridasportsman.com)

 

3dcaa54a-f0dd-4e06-97e3-39e3f29e119f_zeewier_sh_448581877_e9d220f2_490x330

Seaweed (sumber:https://www.wur.nl)

            Sama seperti tumbuhan pada umumnya, lamun memerlukan sinar matahari untuk melakukan fotosintesis untuk pertumbuhan dan metabolismenya. Pada umumnya lamun yang hidup di wilayah tropis lebih dinamis  dibandingkan lamun yang hidup di lingkungan subtropis. Mereka cenderung untuk tumbuh lebih cepat dan adaptif terhadap perubahan di sekitarnya.

 

Pentingnya Padang Lamun

            Richard Unsworth, ahli biologi kelautan dari Universitas Swansea mengatakan bhawa padang lamun memiliki peranan penting seperti halnya hutan mangrove dan terumbu karang. Wilayah perairan Indonesia berada dalam Coral Triangle yang memiliki keanekaragam yang tinggi yang menyediakan sumber pangan bagi lebih dari 350 juta orang. Habitat di Coral Triangle sangat berhubungan satu dengan lainnya. Jika satu habitat terganggu makan habitat yang lainny akan terganggu juga. Meskipun terumbu karang memiliki penampilan yang lebih menarik dibandingkan padang lamun, tanpa kehadiran padang lamun, terumbu karang akan mengalami kerusakan karena padang lamun melindung terumbu karang dari patogen dan menyerap karbon dioksida dari laut.

               Menurut Kennedy da Bjork (2009), tanaman yang ada di laut bisa menyerap 2 juta ton karbon dioksida dari atmosfer setiap tahunnya. Meskipun seluruh padang lamun hanya menutupi 1% dari seluruh basin, mereka dapat menahan lebih dari setengah dari karbon yang terkubur di dasar laut (Kawaroe, 2009). Fourqurean et al. (2012) menemukan bahwa padang lamun bisa menyimpan 83.000 ton CO2/km2. Sebagai bandingannya, hutan biasanya hanya bisa menyimpan 30.000 ton CO2/km2 (Jorda et al., 2012).

             Richard beserta timnya pada tahun 2011 dan 2014 melakukan penelitian di Wakatobi dan menemukan bahwa padang lamun menyediakan habitat untuk setidaknya 70% dari spesies yang dikonsumsi oleh masyarakat lokal atau sekitar 407 spesies. Kerusakan dari ekosistem laut akan menyebabkan masalah serius dalam hal pangan karena jumlah populasi penduduk Indonesia terus meningkat secara tidak langsung jumlah kebutuhan pangan nasional akan meningkat juga. Penelitian tersebut menunujkkan betapa pentingnya padang lamun untuk menjaga ketersedian pangan untuk masyarakat lokal dan kebutuhan ekspor ikan untuk menunjang perekonomian Indonesia.

       Selain itu, padang lamun memiliki peranan sebagai stabilator dari proses sedimentasi di perairan. Daun dan sistem akar lamu dapat memerangkap sedimen dan mengendapkannya di dasar perairan sehingga air di atasnya akan menjadi lebih jernih serta terjaga kualitasnya.

            Fungsi padang lamun selanjutnya yaitu sebagai pelindung dari pantai terhadap gelombang atau arus laut sehingga mencegah terjadinya abrasi. Daun lamun yang lebat membantu menahan dan memperlambat arus dan ombat laut sehingga abrasi pantai bisa dikurangi.

         Dari sisi ekologi, lamun bertindak sebagai produsen dari zat organik yang mendukung keberlangsungan hidup fauna lain, sebagai habitat dari banyak hewan laut, sebagai substrat untuk beberapa jenis epibentos, dan juga sebagai tempat untuk pembibitan dari larva binatang laut dan ikan muda (Nontji et al., 2012).

Dae_09iVQAAfoXz

Fungsi padang lamun (sumber : twitter DSCP Indonesia)

Video Kisah Lamun dan Dugong

 

Distribusi padang lamun di Indonesia

            Keberadaan padang lamun bisa hampir ditemukan di seluruh Indonesia dari Sumatera hingga Papua dan dari Sulawesi Utara hingga Nusa Tenggara. Berdasarkan kriteria Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 200 Tahun 2004, diperkirakan total area padang lamun di Indonesia mencapai sekitar 1.507 kilometer persegi. Dari total area tersebut, tercatat 5% masih tergolong sehat, 80% tergolong kurang sehat, dan 15% tergolong tidak sehat.

            Menurut Azkab (2006), melaporkan bahwa di dunia tercatat ada 58 jenis lamun sedangkan Indonesia mempunyai 12 dari 58 jenis lamun tersebut. Kedua belas jenis lamun ini tergolong pada 7 genus. Ketujuh genus ini terdiri dari 3 genus dari family Hydrocharitaceae yaitu Enhalus, Thalassia dan Halophila, dan 4 genus dari family Potamogetonaceae yaitu Syringodium, Cymodocea, Halodule dan Thalassodendron (Nontji, 1987 dalam Fauziyah, 2004).

3

Persebaran lamun di dunia (sumber: Grazie)

 

Apa Hubungan Dugong dengan Lamun?

            Keberadaan dugong sangatlah krusial bagi ekosistem lamun begitu sebaliknya. Karena hubungan lamun dan dugong merupakan simbiosis mutualisme. Selain sebagai indikator masih sehatnya kondisi padang lamun di wilayah tersebut, dugong memiliki andil dalam menjaga sikus nutrien di padang lamun tetap berjalan. Pada saat ritual makan, memang dugong terkesan malah merusak padang lamun, akan tetapi dengan perilakunya mengacak-ngacak padang lamun itulah terjadi pengadukan substrat dan hasil ekskresinya terjadi. Hal ini yang menjaga padang lamun tetap lestari. Ketika padang lamun rusak, maka kehidupan dugong akan terancam.

            Menurut Preen (1995b), dugong menciptakan area makannya sendiri dengan memanipulasi padang lamun dengan mendorong regenerasi dari spesies lamun yang mereka makan yang disebut dengan “cultivation grazing” . Kelompok dugong dalam jumlah besar secara berkala akan kembali ke daerah yang sama untuk mempertahankan pertumbuhan kembali dari lamun yang mereka suka dengan karakteristik tinggi energi dan rendah serat.

DbhVe5CUwAA6sFb

Fungsi padang lamun (sumber : twitter DSCP Indonesia)

 

Mengenal Dugong

f78f73c2b8d7ba5e6cd38b52d2c30789

Dugong dugon (sumber : pinterest)

Habitat

            Dugong dugon atau yang lebih dikenal dengan sebutan sakoko ka kaot, ikan duyung dan babi laut hidup di perairan pesisir tropis dan subtopis dari Afrika Timur menuju peariran Indo Pasifik di Kepulauan Solomon dan Vanuatu yang mencakup 48 negara yang terbentang antara 26o LU dan 26oLS. Diperkirakan tiga-perempat atau bahkan lebih yakni sekitar 85.000 populasi dugong dunia bisa ditemukan di pantai Australia Utara (Marsh et al., 2002). Populasi terbesar kedua ada di Teluk Arab yang diperkiran pada tahun 1987 terdapat 7.310 dugong (Preen, 1989; Preen et al., 1989)

            Kondisi perairan Indonesia yang tergolong hangat mendukung untuk kekayaan dan keberagamaan variasi dari biota laut (Bleakley and Wells, 1995). Jenis habitat laut yang ada di Indonesai mencakup pantai, laguna, hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun, dan perairan terbuka. Habitat seperti ini menyediakan tempat untuk biota laut bersarang dan mencari makan salah satunya dugong.

            Jumlah populasi dugong di Indonesia tidak tersedia secara akurat. Sebagian besar informasi mengenai dugong sudah sangat lama atau didasarkan dari tuturan masyarakat lokal. Populasi dugong di Indonesia diperkirakan sekitar 10.000 pada tahun 1970-an dan menurun menjadi 1000 pada tahun 1994 (Marsh et al., 2002). Di Indonesia, keberadaan dugong tersebar dari Aceh hingga Papua. Berdasarkan Spalding (2007), diperkirakan populasi tertingginya ada di perairan ekoregion Arafura yakni kurang dari 200 ekor sedangkan di ekoregion papu terdapat 100 ekor, serta ekoregion Lesser Sunda, Paparan Sunda, dan Selat Makasar terdapat masing-maisng kurang dari 100 ekor. Sementara itu untuk ekoregion yang lainnya bisa ditemui dalam jumlah populasi yang lebih kecil.

            Di habitat alaminya, dugong sangat sulit untuk ditemukan karena mereka adalah hewan yang pemalu. Apabila ada gangguan di sekitarnya, mereka akan langsung menyelam dan menghilang di antara padang lamun atau pergi menjauh (Grzimek, 1975).

 

Makanan

            Dugong lebih suka memakan lamun yang mengandung kadar nitrogen yang tinggi (Lanyon, 1991), mengandung serat yang rendah dan tinggi energi (De longh, 1996a). Pada saat dilakukan pembedahan terhadap seekor dugong betina dari Kepulauan Spermonde (Sulawesi), lebih dari 99% saluran pencernaanya mengandung lamun yang berasal dari genus Halophila, Halodule,dan Cymodocea (Erftemeijer et al., 1993). Lamun tersebut sering ditemukan di teluk yang terlindung dan laguna dengan kedalam kurang dari 5 m. Dugong biasanya makan di siang dan malam hari. Karena adanya aktivitas manusia yang menggunakan kapal, mereka merubah pola makannya dari siang hari ke malam hari (Anderson, 1981).

            Saat ini dugong dinilai telah mengembangkan kemampuan adaptasi karena penurunan kualitas diet mereka. Pertama mereka mengembangkan kemampuan untuk mencerna selulosa dengan adaptasi fisiologi yang lebih baik pada saluran pencernaannya (Lomolino dan Ewel, 1984). Kedua, mereka cenderung memilih lamun yang bisa dicerna seperti Halophila ovalis (Preen, 1993; De longh et al., 1995b; mArsh et al., 2002). Ketiga, secara beraturan, dugong memakan tunas-tunas muda dari lamun (Preen, 1995b; De longh et al., 1995b). Keempat, mereka cenderung memakan akar dan rizhoma dari lamun untuk memaksimalkan pengambilan sumber energi (De longh et al., 1995b; Anderson, 1998).

Da4Me3EU8AAc4SM

Fungsi padang lamun (sumber : twitter DSCP Indonesia)

 

Ancaman Pada Dugong

            Dugong di Indonesia telah dimasukkan dalam status perlindungan dalam PP No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dugong juga telah masuk dalam daftar satwa rentan oleh IUCN dan terdaftar dalam CITES Appendix 1 yang berarti jenis satwa liar yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional (CITES, 2007).

            Meskipun telah dilindungi oleh undang-undang, keberadaan dugong masih terancam. Menurut Dwi Suprapti, ancaman ini seperti dugong yang terjerat jaring nelayan secara tidak sengaja, penghancuran dan degradasi habitat padang lamun karena terkena dampak dari industri masyarakat lokal yang berada di tepi pantai, lalu lintas perahu, serta polusi dari pertanian yang ada di daratan, perburuan daging, taring, kulit, serta air mata. Perburuan dugong masih dikarenakan masyarakat lokal masih mengkonsumsi daging dugong serta masih beredar mitos jika air mata dugong bisa digunakan sebagai ajian pengasih atau pelet sedangkan untuk taringnya bisa dijual dengan harga yang mahal yakni berkisar 1-3 juta per taring. Terjeratnya dugong oleh jaring nelayan secara tidak sengaja (bycatch)  masih terjadi di sebgaian besar wilayah Indonesia seperti Bintan, Morowali, Perigi Moutong, dan Tolitoli. Ancaman lainnya yang tidak kalah memilukan berasal dari kasus dugong yang terdampar. Berdasarkan data WWF-Indonesia, pada periode 2009-2016, diperkirakan terdampat 31 kasus dugong terdampar. Kasus ini rata-rata terjadi dari bulan Oktober hingga April yang berada di Ekoregion Selat Makasar.

            Habitat dugong yang berada di dekat tepi pantai yang sering bersinggungan dengan aktivitas manusia serta tingkat reproduksi dari dugong yang lambat membuat dugong sangat rentan terhadap kepunahan. Oleh karena itu diperlukan konservasi dugong untuk menjaga kelestariannya.

dugong

Seekor dugong ditemukan terdampar di Pantai Alue Naga (sumber: http://www.satulaut.com)

Ancaman pada Padang Lamun

            Padang lamun merupakan salah satu ekosistem yang rentan terhadap kerusakan yang ditemukan di pesisir (Green and Hort, 2003; ISC, 2003). Saat ini jumlah padang lamun di dunia terus mengalami penurunan yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pembangunan, eutrofikasi, pendangkalan, akuakultur, dll (Marsh et al., 2002). Menurut Professor Susan Williams, Departemen Evolusi dan Ekologi di UC Davis College of Biological Sciences, padang lamun jumlah terus berkurang sebesar satu lapangan bola setiap setengah jam. Ancaman langsung yang berdampak besar pada lamun adalah gangguan fisik manusia. Sekitar 40% dari populasi manusia berada di wilayah pantai. Aktivitas seperti pengerukan dan reklamasi sangat menggangu kejernihan air laut dan sangat merusak ekosistem padang lamun. Eutrofikasi dari perairan pesisir juga menyebabkan kemerosotan dari kualitas air laut (Suarte, 2002).

            Pembangunan daerah pesisr berdampak besar terhadap penurunan jumlah lamun. Pembangunan daerah pesisir untuk pelabuhan, industri, pemukiman menyebabkan hilangnya habitat dan menurunnya kualitas air. Kegiatan tersebut menyebakan meningkatnya tingkat sedimentasi dan kekeruhan yang sangat berbahaya bagi ekosistem padang lamun. Menurut Tomascik et al., (1997), pembangunan wilayah industri di Teluk Banten telah memusnkahkan sekitar 30% dari padang lamun yang ada di wilayah tersebut.

            Polusi yang ada di daerah pantai juga berpengaruh pada keberlanjutan padang lamun. Sumber polusi sebenarnya tidak hanya berasal dari daratan, akan tetapi juga berasal dari laut. Polusi yang bersumber dari darat berasal dari pembuangan air limbah ke saluran air yang bermuara ke laut, pertanian, dan industri. Kegiatan pariwisata yang tidak dikelola dengan baik juga bisa menjadi sumber polusi bagi pantai. Menurut Nontji et al. (2012), di daerah Bintan, banyak pondok-pondok turis yang dibangun mengarah langsung ke padang lamun dan tidak dilakukannya pengelolaan limbahnya.

            Penebangan hutan dan pertambangan juga memberikan ancaman pada daerah pesisir. Menurt Marsh et al. (2002), di Taman Nasional Teluk Cendrawasih sudah sangat sulit untuk menemukan keberadaan ekosistem padang lamun karena adanya pendangkalan akibat adanya penebangan hutan. Nontji et al. (2012) juga menjelaskan bahwa penambangan pasir laut merusak padang lamun karena meningkatkan kekeruhan air laut sehingga cahaya matahari tidak bisa mengenai lamun yang bisa menghalangi terjadinya fotosintesis. Dulu, aktivitas penambangan pasir laut bisa dijumpai di daerah sekitar Bintan dan Batam.

            Praktik dari penangkapan ikan yang merusak seperti menggunakan natrium sianida dan zat peledak juga mempunyai dampak negatif bagi dugong begitu juga bagi padang lamun. Penggunaan pukat harimau juga merusak ekosistem yang berada di bawah laut . Meskipun telah dilakukkannya pelarangan,praktik-praktik seperti ini masih bisa ditemui di Indonesia (Nontji et al., 2012).

 

Ancaman pada Padang Lamun

            Padang lamun merupakan salah satu ekosistem yang rentan terhadap kerusakan yang ditemukan di pesisir (Green and Hort, 2003; ISC, 2003). Saat ini jumlah padang lamun di dunia terus mengalami penurunan yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pembangunan, eutrofikasi, pendangkalan, akuakultur, dll (Marsh et al., 2002). Menurut Professor Susan Williams, Departemen Evolusi dan Ekologi di UC Davis College of Biological Sciences, padang lamun jumlah terus berkurang sebesar satu lapangan bola setiap setengah jam. Ancaman langsung yang berdampak besar pada lamun adalah gangguan fisik manusia. Sekitar 40% dari populasi manusia berada di wilayah pantai. Aktivitas seperti pengerukan dan reklamasi sangat menggangu kejernihan air laut dan sangat merusak ekosistem padang lamun. Eutrofikasi dari perairan pesisir juga menyebabkan kemerosotan dari kualitas air laut (Suarte, 2002).

            Pembangunan daerah pesisr berdampak besar terhadap penurunan jumlah lamun. Pembangunan daerah pesisir untuk pelabuhan, industri, pemukiman menyebabkan hilangnya habitat dan menurunnya kualitas air. Kegiatan tersebut menyebakan meningkatnya tingkat sedimentasi dan kekeruhan yang sangat berbahaya bagi ekosistem padang lamun. Menurut Tomascik et al., (1997), pembangunan wilayah industri di Teluk Banten telah memusnkahkan sekitar 30% dari padang lamun yang ada di wilayah tersebut.

            Polusi yang ada di daerah pantai juga berpengaruh pada keberlanjutan padang lamun. Sumber polusi sebenarnya tidak hanya berasal dari daratan, akan tetapi juga berasal dari laut. Polusi yang bersumber dari darat berasal dari pembuangan air limbah ke saluran air yang bermuara ke laut, pertanian, dan industri. Kegiatan pariwisata yang tidak dikelola dengan baik juga bisa menjadi sumber polusi bagi pantai. Menurut Nontji et al. (2012), di daerah Bintan, banyak pondok-pondok turis yang dibangun mengarah langsung ke padang lamun dan tidak dilakukannya pengelolaan limbahnya.

            Penebangan hutan dan pertambangan juga memberikan ancaman pada daerah pesisir. Menurt Marsh et al. (2002), di Taman Nasional Teluk Cendrawasih sudah sangat sulit untuk menemukan keberadaan ekosistem padang lamun karena adanya pendangkalan akibat adanya penebangan hutan. Nontji et al. (2012) juga menjelaskan bahwa penambangan pasir laut merusak padang lamun karena meningkatkan kekeruhan air laut sehingga cahaya matahari tidak bisa mengenai lamun yang bisa menghalangi terjadinya fotosintesis. Dulu, aktivitas penambangan pasir laut bisa dijumpai di daerah sekitar Bintan dan Batam.

            Praktik dari penangkapan ikan yang merusak seperti menggunakan natrium sianida dan zat peledak juga mempunyai dampak negatif bagi dugong begitu juga bagi padang lamun. Penggunaan pukat harimau juga merusak ekosistem yang berada di bawah laut . Meskipun telah dilakukkannya pelarangan,praktik-praktik seperti ini masih bisa ditemui di Indonesia (Nontji et al., 2012).

424

Padang Lamun Terkena Polusi (sumber : http://cdnsecakmi.kaltura.com)

Program Konservasi di Perairan Indonesia

            Untuk menjaga kelestarian dugong serta padang lamun perlu diadakannya program konservasi. Terdapat beberapa program perlindungan wilayah laut di Indonesia, pada tahun 2009 terdapat rehabilitasi terumbu karang di bawah Coral Reef Rehabilitation and Management Project (COREMAP). Program ini didukung dan dikoordinasikan oleh pemerintah lokal, LSM baik lokal maupun internasional seperti WWF, TNC, Wetlands International, WCS and IUCN. Program ini juga mencakup habitat dari dugong.  Progam konservasi laut lainnya yang berada pada tahun 1989-1993 yaitu Dugong Management and Conservation Project for the Moluccas. Program ini diadakan dengan dukungan dari Uni Eropa yang menghasilkan rekomendasi untuk pengelolaan dan konservasi dugong (De longh and Persoon, 1991).

            Selain itu terdapat projek lainnya yang dilakukan selama 3 tahun dimulai dari tahun 2016 hingga 2018. Projek ini bernama Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP) yang bertujuan untuk melestarikan dugong dan habitat lamunnya yang ada di 8 negara yang ada di daerah Indo-Pasifik seperti Indonesia, Madagaskar, Malaysia, Maozambique, Kepulauan Solomon, Sri lanka, Timor Leste, dan Vanuatu. Project in dibiayai oleh GEF, diimplementasikan oleh UNEP, didukung secara teknis oleh DUGONG MOU, dan dieksekusi oleh Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund. Disediakan sejumlah $1.213.636 atau sekitar 11 milyar untuk DSCP yang dilakukan di Indonesia. Projek tersebut meliputi penguatan dan pengoperasian peraturan nasional yang tertuang dalam perencanaan strategi dan aksi untuk konservasi dugong dan lamun(ID1), peningkatan kesadaran nasional dan penelitian dari dugong serta lamun di Indonesia (ID2), dan pembentukan komunitas berbasikan konservasi dan pengelolaan dugong dan habitat lamun di Bintan, Alor, Tolitoli, dan Kotawaringin Barat (ID3).

 

Konservasi Dugong

            Menurut Marsh et al. (2002), distribusi dan keberlimpahan populasi serta habitatnya harus diketahui secara jelas di Indonesia meskipun hal tersebut susah dilakukan. Cara yang bisa ditempuh adalah dengan cara melakukan wawancara dengan komunitas lokal dan hasil dari wawancara tersebut bisa digunakan sebagai acuan untuk melakukan survei lebih lanjut seperti survei udara, survei menggunakan kapal, atau melakukan penyelaman.

            Menurut de longh (2009), informasi yang memadai tentang keberadaan dugong sangat penting untuk pendeklarasian wilayah untuk konservasi dugong yang memadupadankan dengan kebudayaan masyarakat lokal seperti “sasi laut” dengan diberlakukannya perlindungan terhadap pesisir dan pembatasan penangkapan ikan di wilayah tersebut. Bisanya tetua atau ketua adat akan menentukan kapan masyarakat bisa menangkap ikan dalam setahun dengan menggunakan kalender penangkapan ikan.  Konsep larangan dan tidak menangkap sumber daya laut pada jangka waktu tertentu bisa memberikan biota laut kesempatan untuk melakukan proses reproduksinya disamping itu konsep ini merupakan konsep yang efektif untuk mengajak masyarakat lokal untuk turut aktif dalam kegiatan konservasi. Menurut Novaczek dan Harkes (1998), budaya sasi telah dilakukan selama 400 tahun di berbagai wilayah yang ada di wilayah Maluku.

Selain itu, dalam program pengkonservasian dugong kita harus memandang dugong sebagai makhluk hidup yang mengalami fluktuasi dari metapopulasi yang dinamis artinya dugong merupakan hewan yang bisa melakukan migrasi dari satu daerah ke daerah yang lainnya (Hines et al. 2005). Untuk melindungi dugong dan kawasan migrasinya, diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana dia bermigrasi dengan cara melakukan survey udara di area skala besar.

            Sebenarnya dugong telah dimasukkan dalam status perlindungan dalam PP No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Akan tetapi perburuan terhadap dugong masih terus terjadi. Hal ini dikarena belum ada pengawasan dan pemberlakuan hukum yang secara tegas serta masih kurangnya jumlah porsenil dan aparat bertanggung jawab terhadap pemberlakuan undang-undang tersebut. Oleh karena itu jika pemerintah masih ingin dugong dan lamun tetap lestari, perlu adanya regulasi yang jelas. Saran yang dapat saya berikan, untuk mencipatakan suasana penerapan regulasi yang tegas, pemerintah dapat membuat poster, baliho, palang, dan sejenisnya yang memberitahukan kepada masyarakat bahwa dugong dilindungi keberadaannya di daerah-daerah yang terindikasi dihuni oleh dugong. Selain sebagai penegas regulasi, cara ini juga bisa mengingatkan dan mengedukasi masyarakat bahwa dugong dilindungi oleh undang-undang.

Video Penanganan Duyung Terdampar Mati

Video Penangan Duyung Terdampar Hidup

 

Konservasi Lamun

            Untuk menjaga kelestarian padang lamun, tidak hanya ditinjau dari aspek biologi saja akan tetapi aspek sosial dan ekonomi harus menyertainya. Menurut Vithayaveroj (2003), manfaat bersih yang  didapatkan dari perikanan yang berasal dari lamun bisa mencapai 2-6 juta bath dalam setahun. Oleh karena itu diperlukan adanya kolaborasi  dari berbagai pihak seperti pemerintah, universitas, dan LSM untuk mengajak masyarakat lokal untuk berkontribusi dalam pelestarian lamun serta untuk memanfaatkan padang lamun secara berkelanjutan. Dengan mengajak masyrakat lokal

            Mungkin tindakan masyrakat yang terlihat bertolak belakang dengan konservasi disebakan ketidaktahuan mereka akan urgensi dari dugong dan lamun. Berdasrkan survei yang telah dilakukan mengenai tingkat kesadaran masyrakat lokal yang ada di Kepulauan Bintan, mengidikasikan bahwa mereka tidak tahu betapa pentingnya keberadaan padang lamun dan mengapa perlu dilakukannya konservasi (Trismades Tech. Report). Oleh karena itu kegiatan edukasi sangat penting dalam program konservasi. Pihak-pihak yang peduli akan konservasi lamun dan dugong bisa membuat poster, buku, komik, dan barang-barang lainnya yang berhubungan dengan dugong dan lamun sebagai sarana untuk mengedukasi masyarakat agar mereka sadar dan tergerak untuk bergabung dalam kegiatan konservasi lamun. Tidak hanya itu, proses pengedukasian masyarakat juga bisa dilakukan melalu media sosial karena kita menyadari, kalangan yang bisa dijangkau oleh media sosial sangatlah luas. Untuk itu kita bisa menyebarkan tulisan, foto, maupun infografis yang mengajar orang lain untuk turun aktif dalam kegiatan konservasi.

            Untuk menyukseskannya program konservasi, kita harus berkerjasama dengan pemerintah untuk membuat aturan dan managemen pegembangan daerah pantai untuk menghindari dilakukannya reklamasi ataupun pengerukan di daerah pantai. Jika kita bergerak sendiri tanpa didukung oleh pemegang kekuasaan yang lebih tinggi, kita seperti melakukan hal yang sia-sia.

            Menurut Professor Susan Williams, Departemen Evolusi dan Ekologi di UC Davis College of Biological Sciences, menanam lamun yang terdiri dari berbagai spesies bisa mempercepat restorasi ekosistem dan meningkatkan kesintasan dan pertumbuhan dari transplantasi lamun.

            Sebagai penghuni bumi, kita juga bisa turun andil bagian dalam konservasi dugong dan lamun dengan melakukan hal-hal yang mungkin terkesan remeh temeh seperti tidak membuang sampah, limbah rumah tangga, maupun limbah industri ke laut serta tidak membeli produk yang berasal dari dugong sehingga laju perburuannya bisa ditekan.

DZ7JaSoWAAIjQy3 (1)

Fungsi padang lamun (sumber : twitter DSCP Indonesia)

    Memang kita bukannlah super hero yang bisa melakukan perubahan besar terhadap bumi. Dan memang kita, manusilah yang telah membuat segala macam kerusakan di muka bumi. Tapi hal itu bukan berarti kita tidak bisa mengambil tindakan dan kontribusi demi kelestarian dugong dan lamun di bumi ini. Asalkan kita mau, kita pasti akan bisa menjaga kelestarian dugong dan lamun demi kesejahteraan penduduk bumi.

#DuyungmeLamun

Referensi :

  • E. B. Barbier, S. D. Hacker, C. Kennedy, E. W. Koch, A. C. Stier, B. R. Silliman, “The Value of Estuarine and Coastal Ecosystem Services,” Ecological Monographs 81, no. 2 (2011): 169–193.
  • J. W. Fourqurean, C. M. Duarte, H. Kennedy, N. Marba, M. Holmer, M. A. Mateo, E. T. Apostolaki, G. A. Kendrick, D. Krause-Jensen, K. J. McGlathery, O. Serrano, “Seagrass Ecosystems as a Globally Significant Carbon Stock,” Nature Geoscience 5, no. 7 (2012): 505–509.
  • F. T. Short, B. Polidoro, S. R. Livingstone, K. E. Carpenter, S. Bandeira, J. S. Bujang, H. P. Calumpong, T. J. B. Carruthers, R. G. Coles, W. C. Dennison, P. L. A. Erftemeijer, M. D. Fortes, A. S. Freeman, T. G. Jagtap, A. M. Kamal, G. A. Kendrick, W. J. Kenworthy, Y. A. La Nafie, I. M. Nasution, R. J. Orth, A. Prathep, J. C. Sanciangco, B. van Tussenbroek, S. G. Vergara, M. Waycott, J. C. Zieman, “Extinction Risk Assessment of the World’s Seagrass Species,” Biological Conservation 144, no. 7 (2011): 1961–1971.
  • E. E. Anderson, “Economic Benefits of Habitat Restoration: Seagrass and the Virginia Hard-Shell Blue Crab Fishery,” North American Journal of Fisheries Management 9, no. 2 (1989): 140–149.
  • Preen, A. R., W. J. Lee Long, and R. G. Coles. 1995. Flood and cyclone related loss and potentialrecovery of more than 1000 km2of seagrass in Hervey Bay (Queensland, Australia).AquaticBotany,52: 3-12.
  • Marsh, H., H. Penrose, C. Eros, and J. Hugues. 2002.Dugong Status Report and Action Plan forCountries and Territories. UNEP. Early Warning and Assessment Report Series: 162 pp.
  • Kiswara, W., M.H. Azkab & L.H. Purnomo, 1997. Komposisi jenis dan sebaran lamun di Kawasan LautCina Selatan. Atlas Oseanologi Laut Cina Selatan. P3O-LIPI, Jakarta.
  • Tomascik, T., A.J. Mah, A. Nontji, and M.K. Moosa. 1997.The Ecology of the Indonesian Seas. TheEcology of Indonesia Series, Volume VIII, Part Two.Periplus Edition: 643-1388.
  • Gales, NJ., McCauley, RD., Lanyon, J., and Holley, DK. (2004). Changes in abundance of dugongs in Shark Bay, Ningaloo and Exmouth Gulf, Western Australian: evidence for large-scale migration. Wildl. Res. 31, 283-290.
  • Hines, E. (2002). Conservation of the Dugong (Dugong dugon) along the Andaman Coast of Thailand: An Example of the Integration of Conservation and Biology in Endangered Species Research. Doctoral Thesis, University of Victoria, BC, Canada
  • Hines, E., and Adulyanukosol, K. (2001). Population and habitat assessment of dugong (Dugong dugon) off the Andaman coast of Thailand. Final Report submitted to the Ocean Park Conservation Foundation, Ocean Park, Aberdeen, Hong Kong. June 10, 2001. 288 pp.
  • Hines, E., Adulyanukosol, K., and Charuchinda, M. (2003). Population and habitat assessment of dugong (Dugong dugon) on the eastern of the Gulf of Thailand. Final Report submitted to the Ocean Park Conservation Foundation, Ocean Park, Aberdeen, Hong Kong. in 2003. 46 p.
  • Hines, E., Adulyanukosol, K., Charuchinda, M., Somany, P., and L. Sam Ath. (2004). Conservation of dugongs (Dugong dugon) along the Eastern Gulf of Thailand in Thailand and Cambodia. Final Report to Ocean Park Conservation Foundation, Hong Kong, and Project Aware, Australia.
  • Hines E., Adulyanukosol, K., and Duffus, D. A. (2005a). Dugong (Dugong dugon) abundance along the Andaman coast of Thailand. Mar. Mamm. Sci. 21(3), 536-549.

 

Sumber Gambar :

Advertisements