Tag Archives: Islam

Keep Writing

I don’t know when I start to write. Maybe it begins at junior high school when I know this phrase, “Dear diary”. Through that word I have a diary book. I write everything that have happened during all day on it, about my feeling, how I spent my time, my madness, and another.

As time goes by, I realize that writing is not only to express my feeling, bigger than that. Writting is for inspiring others. Inspiring others for good things is remarkable. Maybe you’re not a leader but you have a dream to make this world become a better place, you still can make your dream comes true. Write. You don’t have to scream in front of many people to express your opinion, just write and they will know it. Writing is spreading goodness if what you write is good things.

At first it is so hard. You don’t know what will you write. You don’t have any ideas. You don’t know how to arrange words become a good sentece. Your grammar is so bad. Your knowledge is limited. How if other people don’t like my writing. Never mind, just keep writing. Do you know baobabs? Before they grow so big, they start out by being little. So do you. Great writer never come up suddenly. They are faithful to the process. Because process can make them great.

If you find comment like “Why do you still writing even though it is bad?”. Don’t give up. As long as you want to inspire others, go ahead. You don’t know wheter your writing will make a change or not. Intend it for goodness, Insya Allah goodness will follow you.

“The best of people are those who are the most beneficial to people”. I am used to make this hadith be my encouragement for doing goodness. And spreading kindness to others is one of beneficial activities. If you are beneficial to others so that you are the best people on this world.

 

Banyuwangi, 05 Juli 2017 | 11 Syawal 1438 H

Advertisements

Books : Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk

Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk adalah buku tulisan Ahmad Rifa’i Rif’an keempat yang saya punya. Saat saya memutuskan membelinya pada tahun 2015 lalu, buku ini telah mengalami beberapa revisi dan telah mencapai cetakan ke-13. Sejauh ini saya selalu menyukai buku besutan Mas Rifa’i. Buku-bukunya selalu berhasil membuat saya ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Sama seperti judulnya, buku yang tebalnya 360-an halaman ini kebanyakan berisi tentang renungan bagi kita–manusia yang merasa sok sibuk sehingga lupa akan kewajibannya sebagai hamba-Nya. Buku ini tersusun atas 4 bab. Bab pertama, menata hati, membenahi nurani. Bab kedua, rumahku, surgaku. Bab  ketiga, memancarkan cahaya surga di tempat kerja. Dan bab keempat,  memperkokoh semangat dan visi hidup.  

Ketika mulai membaca buku ini yakni awal Ramadhan tahun 2017, jujur, ketika mulai membaca lembar awal yang berisi renungan, saya menangis. Renungan yang mas Rifa’i tulis seperti menampar diri saya, menyadarkan diri saya kalau selama ini saya selalu menomor duakan Allah. Saya selalu menunda-nunda dalam beribadah kepadanya padahal Allah tak pernah menunda-nunda kasih sayangnya pada saya. Dan karena itu saya semangat dalam membaca buku ini karena saya berharap saya semakin tersadar akan semua kesalahan saya selama ini.

Benar saja, banyak hal yang saya ketahui setelah membaca buku ini. Gaya penyampaian dan penulisan mas Rifa’i yang ringan sehingga pesan yang ingin ia sampaikan Insya Allah sampai pada pembacanya.

Dan inilah penggalan tulisan yang ada di sampul belakang.

Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan. Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, kami sangat sibuk. Jangankan berjemaah, bahkan munfarid pun kami tunda-tunda. Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajoban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami. Jangankan puasa Senin-Kamis jangankan ayyaamul baith, jangankan puasa nabi Daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh.

Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu. Jangankan sedekah, jangankan jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja sering kali terlupa.

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak. Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukun, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. Tuhan, tolong, jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami. Karena kami masih terlalu sibuk.

Saya saya menyarankan untuk kamu yang sangat sibuk dengan agendamu untuk membaca buku ini sehingga setidaknya kamu sadar kalau kamu tetaplah seorang hamba yang harus meluangkan waktunya untuk beribadah kepada-Nya. Karena seperti firman-Nya, Allah menciptakan jin dan manusia tidak lain adalah agar mereka beribadah kepada-Nya. Semoga saja kalian diberikan kesempatan untuk membaca buku ini. Amin

Banyuwangi, 25 Juni 2017 | 01 Syawal 1438 H

Dibaca saat jadi calon mahasiswa baru.

Surat : Surat saat Ramadhan Untuk-Mu

Ya Allah, Tuhan pemilik langit dan bumi beserta isinya, maaf, selama ini kami terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga seringkali lalai akan perintah-Mu.

Maaf, kami belum mau untuk menghafal surat cinta-Mu yang ada di kitab suci kami padahal kami tahu kedudukan kami nanti ditentukan oleh sejauh mana firman-Mu ada di dada kami. Jangankan menghafal, Ya Allah, membacanya saja kami masih enggan. Surat cinta-Mu tak pernah kami sentuh karena ia berada di rak yang jauh dari jangkauan.

Maaf, kami tak sempat untuk menuntut ilmu agama, kami lebih suka mencari ilmu dunia karena kami rasa ilmu itu akan menjamin hidup kami. Dulu, kami pernah mempelajari agama kami, itu pun hanya di bangku sekolah. Dan jika ada yang berdebat mengenai ibadah, misalnya saja mengenai masalah isbal, cadar, jenggot, kami akan berubah menjadi manusia yang sok bijak seraya berkata, “Sudahlah, kenapa kalian masih terus membahas masalah ini? Orang barat sudah pergi ke bulan dan kita masih sibuk berkutat dengan masalah remeh temeh ini”

Ya Allah, maaf, selama ini kami lebih suka mendengarkan musik daripada mendengarkan lantunan surat cinta-Mu. Jumlah surat dalam kitab suci kami yang benar-benar ada di dada kami bisa dihitung dengan jari. Ketika firman-Mu dibacakan, hati kami tidak pernah bergetar karena hati kami penuh dengan urusan dunia yang tiada ujungnya. Ketika firman-Mu dibacakan, kami lebih suka mengobrol dengan orang disebelah kami.

Maaf, untuk urusan memperjuangkan agama-Mu, kami masih enggan. Kami tak ingin dianggap ekstrimis karena terlalu saklek dengan ajaran agama kami. Menjadi ekstrimis di zaman sekarang ini susah, Ya Allah. Ketika kitab agama kami dihina, kami masih pikir-pikir untuk turun ke jalan untuk membelanya. Kami tak ingin dianggap warga negara yang tidak cinta tanah air kami sendiri.

Maaf, Ya Allah, jangankan menyatuni anak yatim, menyisihkan 2,5 % dari penghasilan kami saja sangat berat kami laksanakan. Kebutuhan kami banyak. Kami lebih suka membelanjakan uang kami di pusat-pusat perbelanjaan dari pada di rumah-Mu.

Maaf Ya Allah, kami lebih suka membaca timeline social media kami daripada membaca kumpulan firman-Mu. Kami tak ingin dianggap kudet  karena tak tahu berita terbaru. Kami merasakan membaca timeline sosmed terasa lebih asyik daripada membaca ayat-ayat suci di kitab kami.

Ya Allah, dengan segala kerendahan hati, kami meminta maaf pada-Mu. Kami begitu mengharap surga-Mu tapi kami belum mampu untuk menjalankan syariat-Mu. Maafkanlah kelakuan kami. Kami sadar kelakuan kami lebih cocok menjadikan kami sebagai penghuni neraka-Mu, bukan surga-Mu. Tapi Ya Allah, kami takut menanggung siksa-Mu. Kami ingin terus merasakan karunia-Mu, bukan murka-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami makhluk yang dengan mudah menghamba pada-Mu bukan pada selain-Mu. Jauhkanlah kami dari perbuatan yang memperberat timbangan dosa kami. Mudahkanlah kami menjalankan perintah-Mu. Pantaskanlah kami supaya kami layak menempati sebaik-baik tempat istirahat–surga.

Banyuwangi, 15 Juni 2107 | 20 Ramadhan 1438

 

Banyuwangi, 14 Juni 2107 | 19 Ramadhan 1438

Cerpen : Insya Allah itu Lebih Baik

Sejak lahir hingga saat ini aku besar, tumbuh, dan berkembang di negeri tercinta, Indonesia. Sehingga aku paham benar bagaimana karakter manusia di negeri ini. Perlukah aku sebutkan satu persatu? Kurang apresiasi, tidak tepat waktu, suka ingkar janji, konsumtif, dan masih banyak lagi. Maaf, bukannya aku tak ingin beberkan semua penyakit yang menjangkiti manusia di negeri ini-termasuk aku, tapi aku rasa tidak etis membicarakan aib sendiri.

Ya, manusia di negeriku suka ingkar janji-mungkin termasuk diriku juga. Seperti kalian tahu di negeriku mayoritas penghuninya menganut agama Islam. Maka jangan heran ketika ada penghuninya membuat sebuah janji, ‘insya Allah’ menjadi jawaban wajibnya.

“Eh, sungguhan loh! Jangan insya Allah doang!” Aku memprotes Rini saat ia hanya menjawab Insya Allah atas janji yang telah kami buat seperti kebanyakan orang. Oh ayolah, bagi kami-penghuni negeri ini insya Allah hanya pemanis bibir belaka kepada para pembuat janji. Mengenai pemenuhan janji? Yah, tergantung suasana hati pelaksana janji. Seperti itulah manusia penghuni negeri ini.

“Janji! Aku  gak mau ucapan Insya Allah!” Aku berkata setengah teriak kepadamu. Aku tentu tak ingin terus dikhianati oleh orang yang terus saja meluncurkan yang memiliki arti ‘jika Allah menghendaki’ itu termasuk dirimu.

“Tak perlu janji, Rosa. Dan aku pun tak ingin membuat sebuah janji denganmu. Insya Allah itu sudah lebih dari cukup. Karena kita tak tahu apa yang akan terjadi esok lusa.”

“Bukankah kau sudah faham dengan perkara ini? Allah sendiri pun telah memerintahkannya. InsyaAllah itu sebaik-baiknya jawaban atas suatu janji.”

Aku mendengar jawaban itu keluar dari mulutmu. Dan seketika wajahku berubah menjadi merah padam.
Banyuwangi, 8 Juni 2017 | 13 Ramadhan 1438 H

Teman(lagi)

Berulang kali saya memikirkan hal ini : bentuk dan rupa kamu akan selalu mengikuti orang-orang di sekitarmu. Disadari atau tidak, jika kamu–anggap saja kamu seorang wanita yang berhijab tertutup sesuai syariat–berada di tengah-tengah temanmu yang berkerudung minim, berpakaian tetapi telanjang, perkataannya masih belum mampu ia tata, dan hal lain semisalnya, lambat laun kamu akan mengikuti mereka. Kenapa? Karena memang manusia tidak mau tampak berbeda dari kalangannya apalagi jika ia hanya seorang diri.

Bahkan Rasulullah pun telah mengumpamakan sosok teman yang kita miliki.

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Hal seperti itulah yang tengah saya rasakan saat ini. Mayoritas teman-teman yang liqo dengan saya menggunakan hijab yang sangat rapi bahkan ada beberapa yang bercadar. Saya yang hijabnya masih belum sempurna ketika berada di tengah-tengah mereka rasanya bagai butiran debu. Dengan ilmu agama yang cetek. Kemampuan bacaan Al Quran masih belepotan. Parahnya lagi selalu saja memikirkan dunia sebagai tujuan utamanya. 

Meskipun begitu, saya bersyukur hadir di antara orang-orang baik berdasarkan versi saya. Karena semua ini merupakan nikmat yang Allah berikan ke saya. Keberadaan mereka secara tidak langsung senantiasa mengingatkan saya untuk terus memperbaiki diri, berbenah, menata hati, dan terus mengkaji agama yang saya yakini. 

Saya merasakan semangat untuk terus dalam kebaikan. Malah pernah terbersit di hati saya, ingin rasanya berhijab seperti mereka. Dengan begitu saya perlu lagi mengenakan mukenah ketika hendak sholat. Tapi, apalah daya saya. Saya kira saya masih belum siap untuk menjadi seperti mereka. Saya belum siap dengan ukuran-ukuran mereka. Tapi saya harap suatu hari nanti saya disiapkan oleh Allah dengan ukuran-ukuran yang mulia itu. Amin.


Banyuwangi, 31 Mei 2017 | 05 Ramadhan 1438H

Islam

Saya terlahir menjadi seorang muslim. Dulu saat kanak-kanak saya hanya mengikuti apa yang orang tua saya imani, Islam. Saya tak pernah bertanya kepada mereka kenapa harus Islam karena lambat laun saya memahami mengapa mereka memilih Islam sebagai jalan hidup mereka. Sampai akhirnya saya sendiri pun memilih Islam sebagai pilihan hidup saya. Meskipun saya terlahir sebagai seorang muslim, saya tak ingin hanya sekedar mewarisi gelar keislaman dari orang tua saya. Saya ingin memahami dan menjalankan esensi dari Islam itu sendiri. Saya ingin menjalankan Islam secara kaffah.

Saya tahu dengan terus berpegang teguh pada keislaman yang kaffah, saya harus menghiasi diri saya dengan kesabaran. Rasulullah saw pun sudah menggambarkan kehidupan di zaman ini, seperti memegang bara api. Panas? Tentu saja. Apa dengan melepaskannya lantas menjadi dingin? Ya, awalnya memang seperti itu. Tapi, semakin lama, semakin panas yang akan dirasakan.

Saya merasakan, dunia ini begitu melenakan. Benar dan salah seakan berbaur. Menjadi bias. Sulit untuk dibedakan.

Pun, jika kita menemukan sebuah kebenaran, memangnya kita akan dengan mudah melaksanakannya? Entahlah. Iman kita tidak setebal Rasulullah. Kecaman, sindiran, tatapan aneh akan selalu datang saat kita berusaha menegakkan kebenaran.

Semoga saja, di bulan Ramadhan ini, keimanan kita bisa menyamai panutan kita, Rasulullah. Jika tidak, setidaknya iman yang masih tersisa di dalam hati masih mampu kita rawat sepanjang usia kita. Amin

Banyuwangi, 28 Mei 2017 | 02 Ramadhan 1438 H

Untukmu yang Sedang Menghafal Alquran

Apa yang ada di benak kalian jika berbicara mengenai musik? Dunia muda mudi? Kekinian? Surga dunia? Pembangkit semangat? Penyebar virus galau? Baiklah, aku akui semuanya benar. Aku pun telah mengalaminya sendiri. Aku pernah mengalami di mana sepanjang hidupku seakan tiada hari tanpa musik. Hidup jadi hampa tanpa musik seperti sayur tanpa garam. Aku pun seakan mendoktrin diriku sendiri kalau aku pasti mengantuk saat belajar tanpa diiringi dengan musik. Ya, anggap saja saat itu musik adalah temanku yang paling setia.

Dulu saat aku mulai mendapat hidayah-Nya dan mulai menghafal Al-Quran tepatnya saat kenaikan kelas 10 ke kelas 11, dengan kerelaan diri – karena saat itu ingin sekali hafal banyak juz di Al-Quran – semua musik aku ganti dengan murottal. Lagu Inggris berganti menjadi lantunan ayat suci dengan Qari’ favoritku, Syaikh Mishary Rashid Alafasy. Karena ambisiku yang begitu besar, maklum lah masih baru hijrah jadi bawaannya ingin jadi baik terus, tiap hari dari no day without music beralih menjadi no day without murottal. 

Sebagai manusia, kita sudah diftrahkan untuk bosan terhadap sesuatu. Saat itu, celakanya, aku bosan mendengarkan murottal. Ya sudah, di samping mendengarkan murottal aku juga mendengarkan musik. Oh ayolah, aku anak muda dan bagi kami, our life will be flat without music. Dan akhirnya, aku keterusan mendengarkan musik sehingga murottal menjadi hal yang tersisihkan.

Seperti yang pernah guru agamaku katakan, sedzalim apa pun perbuatan seseorang, sehina apa pun perbuatan keturunan Nabi Adam, pasti hati kecilnya pernah berbisik kalau perbuatan itu salah. Saat itu, mungkin masih terselip inginku di dalam hati kecilku. Well, actually I have a dream become a hafidzah. And then, tentu hati kecilku berontak, “kalau mau jadi hafidzah, ada konsekuensinya. Musik harus kamu tinggal. Itu sangat menggangu konsentrasi kamu” Saat itu hafalanku masih satu juz, jadi aku tidak merasa hafalanku hilang lantaran keterusan mendengarkan musik. Sehingga aku tidak heran, sebentar-sebentar aku kembali ke jalan yang lurus dan kemudian ke jalan yang dimurkai-Nya.

Sampai kelas 12, awal semester tepatnya. Alhamdulillah, bisa dikatakan hafalanku lumayan. Tapi sayangnya, aku tidak amanah dalam menjaganya. 1 juz melayang dan aku harus mengulanginya kembali. Kau tahu kenapa? Semua karena musik. 

Saat kelas 12, tekanan dan tingkat stress kami sudah berada di level dewa. Untuk sedikit menghambat kerja hormon adrenalin, tiap jam kosong atau istirahat, kelas ku berubah menjadi studio musik. Saat pelajaran matematika pun seperti itu. Musik selalu menemani kami. Awalnya aku anggap angin lalu saja musik yang diputar di kelas seiring peningkatan kejenuhan, kepenatan, aku pun mulai mengikuti lantunan musik yang diputar oleh teman-temanku. 

Singkat cerita, setelah keterima di PTN, aku memutuskan untuk murojaah. Dari sini aku tahu, hafalanku telah hilang sejuz.

Nah, untuk teman-teman yang sedang menghafal Al-Quran atau sedang berusaha menjaga hafalannya. Sebisa mungkin hindari musik. Sayang sekaliz, surah demi surah yang susah payah kalian hafalkan berakhir dengan sia-sia. Kalau kalian masih susah menghilangkan kebiasaan mendengarkan musik, camkan kalau musik itu haram. 

Akan datang pada umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina sutra, khamr (minuman keras) dan alat musik, dan sungguh akan menetap beberapa kaum di sisi gunung, di mana (para pengembala) akan datang kepada mereka dengan membawa gembalaannya, datang kepada mereka -yakni si fakir- untuk sebuah keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah menghancurkan mereka pada malam hari, menghancurkan gunung dan merubah sebagian mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat.” Shahiih al-Bukhari, kitab ash-Shalaah, bab Bun-yaanul Masjid (I/539, al-Fat-h).
Bandung, 14 Mei 2017