Tag Archives: Ramadhan

Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan. (HR. Bukhari)

Advertisements

Surat : Surat saat Ramadhan Untuk-Mu

Ya Allah, Tuhan pemilik langit dan bumi beserta isinya, maaf, selama ini kami terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga seringkali lalai akan perintah-Mu.

Maaf, kami belum mau untuk menghafal surat cinta-Mu yang ada di kitab suci kami padahal kami tahu kedudukan kami nanti ditentukan oleh sejauh mana firman-Mu ada di dada kami. Jangankan menghafal, Ya Allah, membacanya saja kami masih enggan. Surat cinta-Mu tak pernah kami sentuh karena ia berada di rak yang jauh dari jangkauan.

Maaf, kami tak sempat untuk menuntut ilmu agama, kami lebih suka mencari ilmu dunia karena kami rasa ilmu itu akan menjamin hidup kami. Dulu, kami pernah mempelajari agama kami, itu pun hanya di bangku sekolah. Dan jika ada yang berdebat mengenai ibadah, misalnya saja mengenai masalah isbal, cadar, jenggot, kami akan berubah menjadi manusia yang sok bijak seraya berkata, “Sudahlah, kenapa kalian masih terus membahas masalah ini? Orang barat sudah pergi ke bulan dan kita masih sibuk berkutat dengan masalah remeh temeh ini”

Ya Allah, maaf, selama ini kami lebih suka mendengarkan musik daripada mendengarkan lantunan surat cinta-Mu. Jumlah surat dalam kitab suci kami yang benar-benar ada di dada kami bisa dihitung dengan jari. Ketika firman-Mu dibacakan, hati kami tidak pernah bergetar karena hati kami penuh dengan urusan dunia yang tiada ujungnya. Ketika firman-Mu dibacakan, kami lebih suka mengobrol dengan orang disebelah kami.

Maaf, untuk urusan memperjuangkan agama-Mu, kami masih enggan. Kami tak ingin dianggap ekstrimis karena terlalu saklek dengan ajaran agama kami. Menjadi ekstrimis di zaman sekarang ini susah, Ya Allah. Ketika kitab agama kami dihina, kami masih pikir-pikir untuk turun ke jalan untuk membelanya. Kami tak ingin dianggap warga negara yang tidak cinta tanah air kami sendiri.

Maaf, Ya Allah, jangankan menyatuni anak yatim, menyisihkan 2,5 % dari penghasilan kami saja sangat berat kami laksanakan. Kebutuhan kami banyak. Kami lebih suka membelanjakan uang kami di pusat-pusat perbelanjaan dari pada di rumah-Mu.

Maaf Ya Allah, kami lebih suka membaca timeline social media kami daripada membaca kumpulan firman-Mu. Kami tak ingin dianggap kudet  karena tak tahu berita terbaru. Kami merasakan membaca timeline sosmed terasa lebih asyik daripada membaca ayat-ayat suci di kitab kami.

Ya Allah, dengan segala kerendahan hati, kami meminta maaf pada-Mu. Kami begitu mengharap surga-Mu tapi kami belum mampu untuk menjalankan syariat-Mu. Maafkanlah kelakuan kami. Kami sadar kelakuan kami lebih cocok menjadikan kami sebagai penghuni neraka-Mu, bukan surga-Mu. Tapi Ya Allah, kami takut menanggung siksa-Mu. Kami ingin terus merasakan karunia-Mu, bukan murka-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami makhluk yang dengan mudah menghamba pada-Mu bukan pada selain-Mu. Jauhkanlah kami dari perbuatan yang memperberat timbangan dosa kami. Mudahkanlah kami menjalankan perintah-Mu. Pantaskanlah kami supaya kami layak menempati sebaik-baik tempat istirahat–surga.

Banyuwangi, 15 Juni 2107 | 20 Ramadhan 1438

 

Banyuwangi, 14 Juni 2107 | 19 Ramadhan 1438

Cerpen : Insya Allah itu Lebih Baik

Sejak lahir hingga saat ini aku besar, tumbuh, dan berkembang di negeri tercinta, Indonesia. Sehingga aku paham benar bagaimana karakter manusia di negeri ini. Perlukah aku sebutkan satu persatu? Kurang apresiasi, tidak tepat waktu, suka ingkar janji, konsumtif, dan masih banyak lagi. Maaf, bukannya aku tak ingin beberkan semua penyakit yang menjangkiti manusia di negeri ini-termasuk aku, tapi aku rasa tidak etis membicarakan aib sendiri.

Ya, manusia di negeriku suka ingkar janji-mungkin termasuk diriku juga. Seperti kalian tahu di negeriku mayoritas penghuninya menganut agama Islam. Maka jangan heran ketika ada penghuninya membuat sebuah janji, ‘insya Allah’ menjadi jawaban wajibnya.

“Eh, sungguhan loh! Jangan insya Allah doang!” Aku memprotes Rini saat ia hanya menjawab Insya Allah atas janji yang telah kami buat seperti kebanyakan orang. Oh ayolah, bagi kami-penghuni negeri ini insya Allah hanya pemanis bibir belaka kepada para pembuat janji. Mengenai pemenuhan janji? Yah, tergantung suasana hati pelaksana janji. Seperti itulah manusia penghuni negeri ini.

“Janji! Aku  gak mau ucapan Insya Allah!” Aku berkata setengah teriak kepadamu. Aku tentu tak ingin terus dikhianati oleh orang yang terus saja meluncurkan yang memiliki arti ‘jika Allah menghendaki’ itu termasuk dirimu.

“Tak perlu janji, Rosa. Dan aku pun tak ingin membuat sebuah janji denganmu. Insya Allah itu sudah lebih dari cukup. Karena kita tak tahu apa yang akan terjadi esok lusa.”

“Bukankah kau sudah faham dengan perkara ini? Allah sendiri pun telah memerintahkannya. InsyaAllah itu sebaik-baiknya jawaban atas suatu janji.”

Aku mendengar jawaban itu keluar dari mulutmu. Dan seketika wajahku berubah menjadi merah padam.
Banyuwangi, 8 Juni 2017 | 13 Ramadhan 1438 H

Menjadi Baik

Sebagai manusia pasti kita sering merasa malas untuk melakukan sesuatu bahkan termasuk sesuatu yang telah kita rencanakan sebelumnya. Misalnya shalat tarawih.

Memang ya jalan menuju kebaikan itu sering kali terjal, menanjak, berliku-liku. Tapi kalau difikirkan dengan seksama kalau jalan menuju kebaikan itu lurus, mulus saja, nama sih bukan perjuangan. Padahal menuju kebaikan itu adalah perjuangan. Perjuangan yang perlu dibiasakan. Bukannya ujug-ujug langsung berubah menjadi baik.

Seperti kata orang, “Semua itu butuh proses.” Dan kadang menjadi baik itu perlu dipaksakan agar kelak menjadi kebiasaan. Semoga saja kita bisa istiqamah menuju jalan kebaikan.

Banyuwangi, 6 Juni 2017 | 11 Ramadhan 1438 H

Menjadi Jujur

Kau tahu kejujuran, bukan? Sebuah kata benda yang kita saya ingin berpegang teguh padanya, saya harus rela menjadi golongan yang sedikit. Merasakan kekecewaan, berderai air mata bahkan kadang harus rela dihadiahi cemoohan.

Saya hidup-tumbuh dan berkembang-di masyarakat yang kurang menanamkan kejujuran. Bagi mereka prioritas kejujuran itu adalah nomor ke sekian. Maka jangan heran jika generasi saya nantinya yang kelak jadi pemimpin bangsa, mungkin akan akan terjerat kasus yang berkaitan dengan lembaga anti rausuah.

Memang menjadi jujur adalah pilihan. Saya tahu itu. Dan dulu sebelum saya mengenal agama saya seperti saat  ini, saya sempat  jatuh ke lubang hitam itu dan menjadi golongan mayoritas.

Tapi bagaima kita menjadi jujur jika panutan kami-guru kami-membiarkan ketidakjujuran itu sendiri atau bahkan sering menjadi tidak jujur. “Guru itu digugur dan ditiru” begitulah yang saya dapatkan dari pelajaran bahasa Jawa. Semua tingkah polah guru bisa dengan mudah ditiru oleh anak didiknya, karena gambaran di masyarakat seperti itu.

Tapi, kami punya nurani yang jelas mengatakan bahwa perbuatan itu salah. Bodohnya kami, jeritan itu malah kami abaikan. Kami senantiasa dituntut di tempat belajar kami. Mendapat nilai jelek dicap sebagai siswa yang bodoh lah, malas belajar lah, dan kalian tahu istilah lainnya. Maka jangan heran jika kami menempatkan kejujuran di bagian ekor tidak di dalam kepala kami apalagi hati kami.

Setiap manusia itu berbeda kadar kecerdasannya dan mereka tak mungkin pintar di segala bidang. Jadi, tolong lah jangan menekan kami seperti itu. Dengan kalian semakin menekan kami, semakin kami berani untuk menjadi tidak jujur. Dan kalian tahu dengan tekanan itu, siswa yang awalnya bertekad untuk memegang nilai-nilai kejujuran dibuat menjadi tidak berdaya. Jelas, jika dia tetap mempertahankannya, dia akan tampak berbeda dengan lingkungannya. Mau tak mau dia harus menyerah.

Ini sebuah pelajaran untuk teman-teman yang bercita-cita untuk menjadi pendidik di masa depan. Karena nanti anak cucu saya akan dididik oleh manusia-manusia macam kalian. Tolong, jangan menilai siswa hanya dari nilai yang dia dapat saja, tapi juga bagaimana ia bersusah payah untuk mendapatkannya. Dan tentu saja tolong berikan penghargaan kepada siapa saja yang selalu memegang teguh kejujuran.

Banyuwangi, 03 Juni 2017 | 08 Ramadhan 1438H

Asas Manfaat Bukannya Uang

Saya heran mengapa manusia di sekitar saya-kebanyakan-menggunakan uang sebagai ukuran kebehagiannya. Oh ayolah, uang bukan sumber kebahagiaan. Ia hanya media yang kita gunakan untuk menjadi bahagia. Sumber kebahagiaan yang hakiki itu ada di hati kalian. Semakin banyak kamu bersyukur akan nikmat yang Tuhanmu berikan, semakin tentram dan bahagia hatimu.

Memang manusia diciptakan untuk tidak pernah puas dengan apa yang telah ia miliki. Tapi, itu bukan menjadi alasan untuk selalu mendewakan uang, bukan?

Generasi saya, ini yang saya rasakan, telah dididik untuk menentukan dan memilih segala sesuatu berdasarkan atas asas uang bukan kebermanfaatannya.

“Mau jadi apa kamu kalau kuliah di jurusan A?” Seperti itulah kira-kira kami dididik. Mau jadi apa kamu? Jelas, kami ingin jadi orang yang bermanfaat seperti yang nabi kami perintahkan. ‘sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya’

Dan hal inilah yang mengantarkan kenapa saya memilih kampus gajah itu sebagai tempat melanjutkan pendidikan saya. Sejak SMP saya ingin mendedikasikan hidup saya pada pertanian dan saya ingin melanjutkan di kampus dengan gelar pertaniannya. Apa daya saya yang hanya berstatus ‘anak’. Bapak saya seorang petani. Jadi, beliau tahu seluk-beluk dunia pertanian di Indonesia. Bagaimana musim menjadi tak menentu, serangan hama tak mudah dibasmi, harga panen tak bisa diprediksi, dan lain sebagainya. Sampailah pada satu keputusan, “jangan kuliah di pertanian” Kenapa? Pertanian tak akan menjamin masa depanmu.

Lagi dan lagi. Mereka takut akan masa depan anaknya. Saya paham, mereka ingin anaknya hidup nyaman di masa depan. Mereka tak ingin anaknya kesusahan dalam segela hal. Tapi, apa yang menjamin kalau misalnya, anak pertambangan dan perminyakan yang katanya gajinya fantastis akan hidup tentram di masa depan?

Tenanglah, sudah ada Dzat yang mengatur masa depan kami. Kami ingin bermanfaat untuk bangsa kami.

Memang kami lahir dengan sudah menyandang gelar agama rahmatan lil alamin. Tapi, apa yang sudah kami lakukan? Sejauh ini tak ada. Saya rasa karena kami dididik bukan berdasarkan asas kebermanfaatan, melainkan uang.

Insyaallah, kalau kami bisa bermanfaat untuk orang lain, keberkahan akan menghampiri kami. Ingatlah kalau nikmat Tuhan akan datang kepada orang-orang yang senantiasa menebar manfaat.
Banyuwangi, 2 Juni 2017 | 07 Ramadhan 1438H

Kamu Istimewa

Mungkin di antara kita punya tokoh idola, panutan, atau sejenisnya. Semua tindak tanduk tokoh tersebut selalu atau paling tidak berusaha kita ikuti.

Termasuk saya, saya pun punya tokoh idola sendiri. Alhamdulillah sekarang saya bisa sealmamater dengannya. Setidaknya saya akan bahagia karena bisa seinstitut dengannya. Tiap hari saya sempatkan membaca tulisannya. Menghayati tiap pesan dibalik rangkaian kata-katanya.

Tiap apa-apa yang telah si tokoh idola lakukan, kita akan berusaha melakukannya juga dengan usaha terbaik agar bisa menyamainya.

Mungkin kita kadang lupa kalau tiap individu itu diciptakan seistimewa-istimewanya. Tak ada yang menyamainya. Kalian ingat bukan kalau DNA tiap manusia itu berbeda? Nah, seperti itu.

Kita tak perlu tampak semirip mungkin dengan tokoh idola kita. Meniru boleh saja. Tapi tak usah menjiplak. Tiap diri manusia punya jalannya sendiri kawan. Kamu tak akan tampak istimewa dengan menirunya. Tapi, kamu akan tampak istimewa dengan jadi dirimu sendiri.
Banyuwangi, 01 Juni 2017 | 06 Ramadhan 1438H

Islam

Saya terlahir menjadi seorang muslim. Dulu saat kanak-kanak saya hanya mengikuti apa yang orang tua saya imani, Islam. Saya tak pernah bertanya kepada mereka kenapa harus Islam karena lambat laun saya memahami mengapa mereka memilih Islam sebagai jalan hidup mereka. Sampai akhirnya saya sendiri pun memilih Islam sebagai pilihan hidup saya. Meskipun saya terlahir sebagai seorang muslim, saya tak ingin hanya sekedar mewarisi gelar keislaman dari orang tua saya. Saya ingin memahami dan menjalankan esensi dari Islam itu sendiri. Saya ingin menjalankan Islam secara kaffah.

Saya tahu dengan terus berpegang teguh pada keislaman yang kaffah, saya harus menghiasi diri saya dengan kesabaran. Rasulullah saw pun sudah menggambarkan kehidupan di zaman ini, seperti memegang bara api. Panas? Tentu saja. Apa dengan melepaskannya lantas menjadi dingin? Ya, awalnya memang seperti itu. Tapi, semakin lama, semakin panas yang akan dirasakan.

Saya merasakan, dunia ini begitu melenakan. Benar dan salah seakan berbaur. Menjadi bias. Sulit untuk dibedakan.

Pun, jika kita menemukan sebuah kebenaran, memangnya kita akan dengan mudah melaksanakannya? Entahlah. Iman kita tidak setebal Rasulullah. Kecaman, sindiran, tatapan aneh akan selalu datang saat kita berusaha menegakkan kebenaran.

Semoga saja, di bulan Ramadhan ini, keimanan kita bisa menyamai panutan kita, Rasulullah. Jika tidak, setidaknya iman yang masih tersisa di dalam hati masih mampu kita rawat sepanjang usia kita. Amin

Banyuwangi, 28 Mei 2017 | 02 Ramadhan 1438 H

Aplikasi untuk Membantu Menghafal Al-Quran

Bismillahirrahmanirrahim.

Berhubung iklan sirup sudah mulai menjamur di TV maka ku putuskan untuk menulis ini. Loh, apa hubungannya iklan sirup dengan tulisan? Ada dong. Iklan sirup di TV biasanya muncul saat apa? Menjelang Ramadhan. Nah, karena Ramadhan itu setahun sekali, untuk menyambutnya perlu dilakukan persiapan-persiapan yang matang dan sistematis. Kalian tak ingin bukan Ramadhan kali ini berakhir percuma? Karena di bulan Ramadhan pahala dari amal ibadah kita dilipatgandakan, tak heran jika banyak anak cucu Adam yang berlomba-lomba dalam kebaikan sebut saja misalnya tilawah Al Qur’an. Dari tahun-tahun kemarin, tiap kali Ramadhan, aku biasanya ikut Pesantren Qur’an yang diadakan oleh Pondok Qur’an. Di sana, biasanya sekitar 20 hari, aku menghafalkan kalam Allah yang paling indah. Lumayan lah, bisa mengisi Ramadhan dan tiap tahunnya selalu ada kenangan saat berusaha menghafalkannya. 

Ngomong-ngomong mengenai hafalan, aku mau berbagi ke kalian aplikasi-aplikasi yang sangat membantu aku selama hafalan. Ok. Check this out!

Pertama, beHafizh

Dulu, aku dapat info dari aplikasi ini dari sebuah akun di LINE. Menurut informasi yang aku dapatkan, aplikasi ini dibuat oleh lulusan UGM. Karena menurutku aplikasi ini akan membantu, ya sudah aku install di hp.

Apa saja fiturnya?

– Bisa untuk penanda surat dan ayat mana saja yang sudah kalian hafal.

– Bisa untuk memutar murottal berdasarkan ayat yang ingin kita ulang dan dengarkan.

– Ada fitur Memorization Test. Melalui fitur ini, kalian bisa menguji seberapa kuat hafalan kalian. Ada 2 jenis tes di aplikasi ini yaitu kita menebak nama surat berdasarkan ayat yang kita dengar dan melanjutkan 2 ayat berikutnya berdasarkan ayat yang disajikan. Ada kelemahan juga, aku rasa ada kesalahan di jawaban Memorization Test ini sehingga aku tidak menggunakannya lagi.

Panduan penggunaan aplikasi ini secara keseluruhan seperti di bawah ini.

Kedua, Haafiz

Aku tak tahu aplikasi ini dibuat oleh siapa tapi sepertinya bukan pribumi. Terlepas dari siapa yang membuat, aplikasi ini sungguh bermanfaat. Mungkin aplikasi ini cocok untuk kalian yang tergolong auditori. Sebenarnya di Haafiz ini ada dua jenis mode : reading mode and listening mode. Sejauh ini yang aku gunakan hanya listening mode karena reading modenya tidak sama dengan Al Qur’an biasa. Kalau kalian pernah membaca Al-Quran pojok, seperti itu tampilannya. Jadi, di sini aku hanya mau membahas yang listening mode saja.

Lalu apa sajakah fitur-fiturnya?

– Bebas memilih Qari. Ada banyak Qari yang disediakan. Tapi yang aku gunakan hanya Mishary Rashid Alafasy. Kenapa? Karena menurutku cocok untuk hafalan. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Lagu yang beliau gunakan juga sederhana tapi enak didengar. 

– Bisa memutar murottal sesuai ayat yang ingin kita ulang. Mulai dari surat apa. Ayat berapa sampai berapa. Diulang berapa kali sampai tiap ayatnya diulang berapa kali.

Semoga aplikasi tadi bisa membantu teman-teman yang ingin menghafalkan Al-Quran sehingga makin banyak generasi Qurani yang bertebaran di muka bumi. Amin