Tag Archives: remaja

Pacaran (?)

“Pacarnya orang mana?” Tanya temen ibuk suatu waktu.

“Masih disimpan sama Allah, Pak” Jawabku sok bijak. But actually, that’s​ just an excuse. You know, I don’t have any boyfriend at all even ex-boyfriend. And, of course I don’t wanna have them in the rest of my life.

Tahu kenapa sekarang generasi muda negeri ini seakan hina kalau nggak punya pacar? Guess what?

  1. Banyak om-om dan tante-tante yang tanya, “udah punya pacar belom?” Dari pertanyaan mereka sih aroma-aromanya mereka lagi nyindir “masih jomblo aja nih?” Hm. Kalau tiap ketemu ditanya dengan hal yang sama, siapa yang betah coba? Dengan pertanyaan mereka itu mereka secara tidak langsung memaksa kita buat pacaran dan tentu saja mereka setuju dengan pacaran. Coba aja mereka tanya dengan pertanyaan yang pernah seorang dokter tanyakan ke aku, “hafalannya udah sampek mana?” Mantab kan pertanyaan ini? Seketika kesindir tuh diri kamu, “miris banget, hafalan gue udah sampek mana nih? Boro-boro hafalan, murojaah aja kagak”
  2. Sinetron Indonesia isinya pacaran mulu. Coba, konten yang ada di sinetron itu dikerenin dikit, sci-fi gitu, cerita gimana hidupnya orang-orang yang punya kontribusi besar di dunia ini. Gimana perjuangan mereka, gimana mereka mengatasi masalah-masalah sulit di hidupnya. Kalau enggak cerita tentang serunya menuntut ilmu di luar negeri. Mungkin aja nanti banyak anak muda yang nonton, terus mereka jadi kepingin kuliah di sana.

Intinya, buat kamu yang masih jomblo, eh maksudku single, teruskan aja ke-single-lan kalian. Jangan biarkan waktumu yang berharga itu kalian korbankan untuk orang yang mungkin aja nanti nyakitin kalian. Jadilah orang baik. Jaga diri baik-baik. Karena orang yang baik akan berjodoh dengan orang yang baik juga. 

Banyuwangi, 28 Juli 2017

Advertisements

Pesan 2017 teruntuk 2018

Pesan-pesan yang ada di bawah ini disampaikan oleh teman-teman saya yang sudah menyempatkan diri mengisi form survey saya. Mereka menulis ini untuk kalian, adek-adek yang akan melanjutkan perjuangan melawan kebodohan. We care so that we share.

Buat kamu yang masih SMA, harap tidak membaca pos ini karena dikhawatirkan akan ada efek samping yang ditimbulkan. Kalau kalian masih di sekolah fokuslah belajar dan jangan sekali-kali membaca pos ini. Kalau sudah di rumah baru boleh. (Apaan si?)

And here we go…

  • Jangan terlalu percaya sama omongan sendiri. Turutin maunya orang tua supaya di ridhoi tuhan dan jalan kalian menuju sukses dibuka lebar

 

  • SNMPTN GAK BISA DIANDALKAN. BELAJAR SBM DARI SKRG.

 

  • Terus semangat, jangan suka main-main, belajar yang giat kalau memang pengen masuk di jalur snmptn, karena katanya selain nilai raport, nilai un juga dipertimbangkan, tapi jangan lupa ya untuk jaga jaga sbmptn juga diperlukan, setelah un, kalau bisa jangan main main, daftar buat snmptn, terus daftar juga buat sbmptn, terus belajar juga buat sbmptn, jaga jaga aja guys 😊 jangan sampai terlena ya kaya pengalaman dari temen temenku ada beberapa oke, semangat 💪

 

  • Semangat. Gaada yg ga mungkin. Aku fisika kelas 10 dpt 7 aja masih bisa lolos SNMPTN ITB kok wkwk. Tapi jangan lupa belajar buat SBMPTN biar ga kepontalan semisal dpt tanda merah di SNMPTN hehhe

 

  • Banyak yg bilang snmptn itu cm faktor keberuntungan aja, tapi menurutku si ga gitu. Ptn pasti mempertimbangkan prestasi yg kita setorkan. Tp jg bukan berarti prestasinya bagus langsung pd lolos snmptn, liat pilihan fakultas/ptnnya juga. Jangan lupa berdoa sama Allah SWT dan minta doa restu ortu ya :))

 

  • Dek, jangan terlalu terpacu sama SNMPTN, ya. Mohon maaf, bukannya ingin membuat mental kalian down atau semacamnya. Cuma ingatlah, SNMPTN itu bukan segalanya, masih banyak cara dan jalan menuju Merbabu. Kalau ada teman sekelas atau teman dekat kalian yang mendapat SNMPTN, sedang kalian tidak, jadikan itu acuan untuk kalian menjadi lebih semangat kedepannya. Masa, sih, kalian gak pengen nyusul teman-teman kalian yang udah dapat ‘rumah’ untuk masa depannya? Dan, kalaupun SBMPTN gak bisa nerima kalian juga. Jangan berkecil hati. Jangan selalu lihat keatas, gak baik. SNMPTN itu gak ada yang tau bagaimana cara menilai atau dalamnya gimana. Banyak istighfar dan berdoa kepada Sang Pencipta serta faktor keberuntungan, InshaaAllah kalian lulus. Semangat!

 

  • Buat kalian yg punya Ambisi buat ngejar prodi dan univ favoritmu, BELAJAR TERUS! SIAPIN BUAT SBMPTN, JANGAN TERLALU BERHARAP KE SNMPTN! Masukin prodi di univ favoritmu aja buat SNMPTN, misalnya cm satu pilihan FTSL ITB aja. SNMPTN bukan akhir dr segalanya, usaha penting, Doa jg penting, Menghormati guru itu paling penting. Buat kalian yg mungkin maunya masuk lewat SNMPTN, gpp, mungkin pertimbangan kalian adalah Pilihan Orang Tua, SBM dan Mandiri ngabisin biaya (blm lg nunggu pengumumannya mendebarkan :v), ataupun capek dengan tes2 kyk sbm, itu semua adalah pilihan kalian dan kembali ke pribadi masing2.

 

  • Pilih saja sesuai minat dan bakatmu, jangan pikirkan masalah nilai, jumlah alumni, saingan dan hal-hal lain, jika Allah SWT memang memberimu jalan disitu, Insyaallah bisa diterima, jika tidak diterima masih ada jalur yang lain, ITB saja mempunyai 3 jalur (Actually, there are only two selection in ITB), jika tidak diterima di semua jalur, coba tahun depan, atau coba langsung kerja, karena kuliah hanya membantumu mencapai kesuksesan, sedangkan yang memberimu jalan menuju kesuksesan adalah Allah SWT, bisa saja kesuksesanmu tidak harus lewat jalur kuliah, positive thinking saja selalu.

 

  • Untuk adek-adek, setelah aku merenungi semuanya aku ga akan bisa kuliah di ITB kalau bukan lewat jalur SNMPTN karena aku ngerasa persiapan aku buat SBMPTN masih belum cukup. Pesenku, dari awal kelas 12 kalau kamu punya target yang muluk–kuliah di ITB, UI, atau UGM–kamu harus cari temen yang sevisi sama kamu, supaya kalian sama-sama berjuang. Berjuang sendirian itu gak enak dek. Kalau kamu berjuang bareng, insyaallah semuanya bakalan merasa mudah. Kalau kamu belajar, jangan cuma ngapalin rumusnya doang, cari tahu kenapa rumusnya bisa gitu. Oh ya, kalau ada orang yang nyemooh pilihan kamu, jadikan cemoohan itu sebagai ajang buat kamu nunjukkan ke mereka kalau apa yang mereka katakan salah. Kalau hidup itu jangan kaya air ngalir, dek. Pada tau kan kalau air ngalir itu selalu ngalir ke tempat yang rendah? Kamu harus pasang target yang muluk–kuliah dek. Kalau punya mimpi jangan setengah-setengah. Kamu punya Tuhan yang maha tinggi. Semakin tinggi impian kamu semakin tinggi pula keyakinan kamu pada tuhan kamu. The last but not least, kalau kamu punya mimpi, selalu ceritakan ke kedua orang tua kamu, tahu kan ridha Allah itu bergantung pada ridha orang tua? Jadikan ridha orang tuamu selalu ada padamu supaya ridha Allah juga selalu menyertaimu. Mana Jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil insya Allah) 😊

 

  • Semangat coy

 

  • Saya nggak tahu sama apa yang paling berpengaruh tentang SNMPTN, nilai yang ‘naik terus’ juga belum tentu lolos (seperti saya). Jangan mencari aman memilih prodi SNMPTN, usahan mengisi prodi yang menjadi passion kalian (supaya ga nyesel kalo keterima, apalagi setelah keterima kalian gabisa ngikut SBM kan buat mencoba ulang meraih prodi impian). Jangan terlalu mengandalkan SNMPTN, anggap saja SNMPTN seperti lotre. Berbanggalah bagi kalian yang keterima di PTN lewat jalur SBMPTN daripada SNMPTN. Melalui SBMPTN, kalian akan bener2 berjuang untuk dapat meraih prodi impian kalian. Selamat berjuang adek-adek kelasku 🙂

 

  • Ketahuilah kemampuan dan kekuatan dirimu sebelum memilih.. dan selalu berfikir pantaskah jika anda memilih jurusan tersebut?? Jika pantas tan mantab maka pilihlah… sekian ^_^

 

  • Buat adik adik yang ikut jalur bidikmisi SNMPTN, hati hati ya. Pikir matang matang ttg bidikmisinya.. jika kiranya bidikmisi tidak akan diterima, jangan sekali kali memilih jalur bidikmisi SNMPTN. Karena pengalamanku, jika bidikmisi ditolak, maka penerimaan SNMPTN kalian DITOLAK. kalian sudah rugi waktu, rugi biaya, dan rugi ngga bisa ikutan tes SBMPTN (karena baftar ulang SNMPTN bareng sama tes SBMPTN). Cukup fatal akibatnya.

 

  • Fokus SBMPTN aja, seakan-akan pasti ditolak di SNMPTN.

 

  • Belajar SBMPTN pake zenius enak (Yeah, I agree with this one).

 

  • Sesuaikan pilihanmu dengan kemampuanmu

 

  • Jangan berharap pada SNMPTN. Karena ditolak SNMPTN itu lbh sakit dari pada sakit hati. Siapkan SBMTPN ajaa. Oh yaa, kencengin doa biar lolos dan barokah

 

  • semangat, terus belajar, percaya diri jangan lupa, berdoa pastinya, pasrah itu juga perlu:((

 

  • SNMPTN bukan hanya tentang rezeki saja, tetapi mempertahankan nilai selama 3 tahun yang bisa dibilang susah. Yakan temen2?

 

  • Berdoalah. Jangan asal pilih. Sebenernya aku agak nyesel pilihan 1 2 ku aku ganti unair krn awalnya aku pengen its. Tp alhamdulillah sebagai gantinya, pilihan ke3 melirikku. Dan itu bisa dibilang langka. Ganbatte buat adek2!!!

 

  • Intinya buat adek2 pilih jurusan yg sekiranya kalian mampu dan nyaman ya, jangan karna ikut2 temen, kan banyak tuh kadang yg gitu, terus rundingin juga sama ortu buat setiap pilihan yg adek2 mau ambil, karna restu ortu itu yg terpenting 🙂

 

  • Semamgat belajar, biar nanti bisa lolos SNMPTN YAH😊

 

  • Jangan terlalu muluk2 dalam memilih jurusan, perhatikan nilai kamu juga. Dan yang terpenting minta restu dari orang tua dan berdoa

 

  •  inget, usaha nomer satu, usaha dulu, kalo hasil itu rahasia Tuhan. Nilaimu harus bagus mulai awal sampek akhir. Fighting!!

 

  • Pilih jurusan yg kamu inginkan, jangan peduli dengan jumlah alumni di univ itu, jangan peduli dengan saingan satu ssekolahmu.

 

  • Ga usah kecewa. It’s just about lucky (:

 

  • Gausah terlalu ngarep, nanti sakit:)

 

  • Pesen saya pokoknya optimis,do’a terus,jngan muluk muluk kalau di snmptn tpi gk boleh di zona aman terus, ambil prodi yg bener gk boleh cmn coba coba, kalau mau ngmbil pilihan yg tinggi PD aja yg pnting do’a,usaha,optimis,dn tetep belajar buat SBMPTN

 

  • Semangat terus ya, inget! Masa depan yang cemerlang ga cuma di dapet di ptn ko. Jangan lupa siapin plan sebanyak-banyaknya biar kamu ga sampai terombang-ambing dan berakhir jadi pengangguran. Please, pengangguran di Indonesia udah banyak loh de:’)

 

  • Pilihlah ptn dengan rate yang bagus, mulai dari akreditasi hingga kualitas alumni alumni nya. Tapi lebih utama, pilihlah sesuai minat dan kemampuam kamu. Jangan sampai kepenggal di tengah2 kuliah

 

  • Seperti di awal tadi. Yg pertama harus bisa ngukur kemampuan diri sendiri. Lihat juga nilai rapor sebagai patokan mau lari kemana. Konsultasi sama guru atau kakak kelas yg dianggap bisa kasih saran. Ambil pilihan yang sesuai kemampuan, jangan gegabah! Ingat. Optimis boleh, tapi jangan ambisi.

 

  • SNMPTN itu ibarat undian. Jadi jangan terlalu diharapkan. Sebelum pengumuman snmptn, aku ikut bimbingan sbmptn di luarkota. Buat jaga2 lah, intinya dulu aku mikirnya gimana cara biar lolos sbm, belajar giat bgt. Tapi alhamdulillah keterima snmptn nya. Jadi bimbelnya cabut hehe

 

  • pertama lebih fokus ke minat jangan asal pilih. jangan terlalu berharap. tanya ada alumni ga? progresnya gimana terus jangan lupa doanya di kencengin

 

  • Hati2 ke PHP sama yang namanya SNMPTN. Jadi gausah berharap deh lebih baik nyiapin Sbm dari awal aja. Klo lolos SBMPTN itu rasanya lebih puas dari SNMPTN beneran.

 

  • Pilih jurusan sesuai kemampuan. Jangan terlalu tinggi walaupun nilai tinggi. Gak usah muluk2 intinya

 

Pesannya banyak yang bertolak belakang ya satu sama lain? Well, these suggestions were written with opinions of each people. So, use them wisely and do not just take it for granted. Be skeptical and critical, guys! But, the most important one is believe in yourself !

 

Rehatlah Sejenak dari Sosmedmu!

Saya hidup di mana semua penghuninya sibuk mengumbar atau bisa saya sebut ‘pamer’ dengan apa yang ia punya. Bagaimana tidak? Sekarang social media sudah banyak jenisnya dan yang paling dahsyat pengaruhnya adalah instagram. Di sana semua orang bisa mengunggah gambar apa pun tanpa kecuali dan bahkan sekarang ada fitur insta story yang setelah saya amati banyak digunakan oleh generasi saya untuk menunjukkan “ini loh yang gue lakukan sekarang” “gue lagi makan nih” dan kalimat senada. Memang saya sempat ingin melakukan apa yang teman-teman saya lakukan. Tapi, saya sadar, kebahagiaan itu tidak selayaknya diumbar, dia hanya perlu disyukuri karena tidak semua orang merasakan kebahagiaan yang tengah kita rasakan saat ini. Kita tidak tahu hati manusia. Mungkin ketika ada anak adam yang tengah melihat apa yang kita umbar timbul perasaan iri, dengki, dan perasaan buruk lainnya. Mungkin mereka juga ingin sekali merasakan kebahagian kita sehingga ia memaksakan dirinya untuk mendapatkannya.

Janganlah terlalu menceritakan kehidupan kalian di dunia maya karena kalian tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Dunia maya bukanlah buku diary kalian dan tidak semua orang ingin tahu kisah kalian.

Cobalah untuk lepas dari social media. Carilah teman yang benar-benar nyata. Ada banyak orang baik di sekitar kalian. Dekati mereka dan cobalah berinteraksi dengan mereka. Jika kamu hanya berkutat dengan social media, teman kamu tidak lain tidak bukan hanyalah seonggok foto manis yang dipasang pemilikinya. Dan jika nanti kamu terkena suatu masalah, akankah dia bersedia menolongmu?

Oh ayolah, coba tinggalkan social mediamu dan mulai berbagi dengan orang di sekitarmu. Kamu bisa bercerita kepada mereka apa saja dan kamu bisa berdiskusi apa saja. Dunia ini luas. Jika kamu hanya bertemankan social media, bagaimana kamu tahu dunia yang sebenarnya, apa adanya. Dunia nyata itu berbeda dengan social media. Mungkin mereka lebih beragam. Lebih kejam. Lebih menyenangkan. Siapa yang tahu?

Saya tahu mengapa kamu lebih banyak menghabiskan harimu dengan teman-teman dunia mayamu, kamu terlalu banyak waktu luang bukan? Dan waktu luangmu kamu habiskan dengan percuma untuk mengikuti tren yang sedang terdengung dengan kuat di telingamu. Coba ganti aktivitasmu dengan membaca, menulis, belajar, menjelajah, membantu sesama, atau yang lainnya. Habiskan masa mudamu dengan sesuatu yang bermanfaat. Buat dirimu jadi hebat. Jangan pernah mencari jati dirimu melalui social media karena dia akan menyetirmu menjadi golongan yang sudah biasa di lihat di mana-mana.

Banyuwangi, 01 Juli 2017 | 07 Syawal 1438 H

Books : Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk

Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk adalah buku tulisan Ahmad Rifa’i Rif’an keempat yang saya punya. Saat saya memutuskan membelinya pada tahun 2015 lalu, buku ini telah mengalami beberapa revisi dan telah mencapai cetakan ke-13. Sejauh ini saya selalu menyukai buku besutan Mas Rifa’i. Buku-bukunya selalu berhasil membuat saya ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Sama seperti judulnya, buku yang tebalnya 360-an halaman ini kebanyakan berisi tentang renungan bagi kita–manusia yang merasa sok sibuk sehingga lupa akan kewajibannya sebagai hamba-Nya. Buku ini tersusun atas 4 bab. Bab pertama, menata hati, membenahi nurani. Bab kedua, rumahku, surgaku. Bab  ketiga, memancarkan cahaya surga di tempat kerja. Dan bab keempat,  memperkokoh semangat dan visi hidup.  

Ketika mulai membaca buku ini yakni awal Ramadhan tahun 2017, jujur, ketika mulai membaca lembar awal yang berisi renungan, saya menangis. Renungan yang mas Rifa’i tulis seperti menampar diri saya, menyadarkan diri saya kalau selama ini saya selalu menomor duakan Allah. Saya selalu menunda-nunda dalam beribadah kepadanya padahal Allah tak pernah menunda-nunda kasih sayangnya pada saya. Dan karena itu saya semangat dalam membaca buku ini karena saya berharap saya semakin tersadar akan semua kesalahan saya selama ini.

Benar saja, banyak hal yang saya ketahui setelah membaca buku ini. Gaya penyampaian dan penulisan mas Rifa’i yang ringan sehingga pesan yang ingin ia sampaikan Insya Allah sampai pada pembacanya.

Dan inilah penggalan tulisan yang ada di sampul belakang.

Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan. Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, kami sangat sibuk. Jangankan berjemaah, bahkan munfarid pun kami tunda-tunda. Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajoban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami. Jangankan puasa Senin-Kamis jangankan ayyaamul baith, jangankan puasa nabi Daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh.

Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu. Jangankan sedekah, jangankan jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja sering kali terlupa.

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak. Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukun, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. Tuhan, tolong, jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami. Karena kami masih terlalu sibuk.

Saya saya menyarankan untuk kamu yang sangat sibuk dengan agendamu untuk membaca buku ini sehingga setidaknya kamu sadar kalau kamu tetaplah seorang hamba yang harus meluangkan waktunya untuk beribadah kepada-Nya. Karena seperti firman-Nya, Allah menciptakan jin dan manusia tidak lain adalah agar mereka beribadah kepada-Nya. Semoga saja kalian diberikan kesempatan untuk membaca buku ini. Amin

Banyuwangi, 25 Juni 2017 | 01 Syawal 1438 H

Dibaca saat jadi calon mahasiswa baru.

Untuk Kalian yang Belum Diloloskan di PTN

Jujur, untuk kalian yang belum mendapatkan PTN dan masih harus berjuang untuk mendapatkannya, kalian sungguh sangat keren, keren banget deh. Kenapa? 

1. Allah cinta kalian

Dicintai sama sang pencipta itu hal yang sangat harus disyukuri loh, gak semua orang diistimewakan oleh-Nya. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Ia akan mendatangkan cobaan kepada mereka. Dan barang siapa rela dengan ujian itu, dia akan memperoleh kerelaan-Nya. Barang siapa yang membencinya, dia akan memperoleh kebencian-Nya.” (HR. Tirmizi, 2396 dan Ibnu Majah, 403)

2. Kalian lebih memahami arti perjuangan. Dengan ditundanya kelulusan kalian, kalian gak akan sembrono lagi. Nggak akan lagi mengecewakan orang tua kalian yang udah berharap akan kesuksesan kalian. Kalian akan lebih paham kalau gak ada yang instan dalam kesuksesan dan pastinya tingkat tanggung jawab kalian akan meningkat drastis.

Oh ya, mungkin kalian pernah menyalahkan Allah kenapa kalian gak dilulusin aja, menyalahkan takdir yang Allah buat, atau keputusan-Nya itu salah. (jujur, aku pernah) Tau nggak, saat kalian berfikir seperti itu kalian itu ga lebih dari makhluk yang sok tahu (termasuk saya). Tenang, Allah itu tahu yang terbaik buat kalian. Pasti ada hikmah di balik ujian kalian. Ada kakak dari temenku, 2 tahun yang lalu dia ditolak PTN dan kalian tahu apa yang terjadi setelah 9 bulan kemudian? Dia jadi hafidzah, kuy. Coba kalau dia diterima PTN, mana sempet dia hafalan apalagi jadi hafidzah. Dan jadi hafidzah itu lebih keren dari sekadar kalian diterima di ITB, UI, UGM, dll. 

Semangat untuk kalian. Inget, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Man jadda wajada (Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil, Insya Allah) 😊 

Banyuwangi, 19 Juni 2017 | 24 Ramadhan 1438 H

SNMPTN #1

Di Indonesia–negara tercinta kita–ada 3 jenis jalur masuk yang umum di perguruan tinggi negeri. Apa saja?

  • Pertama, SNMPTN. SNMPTN adalah kependekan dari Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau kata orang biasa disebut dengan jalur undangan.
  • Kedua, SBMPTN. SBMPTN adalah kependekan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Seleksi ini mengandalkan tes tulis untuk penyaringan mahasiswa barunya.
  • Ketiga, mandiri. Tidak semua perguruan tinggi negeri di Indonesia membuka jalur mandiri. Sebut saja ITB. Dulu ITB ada ujian mandiri, namanya USM dan saya tidak tahu mengapa sekarang ITB meniadakan jalur mandiri. Jalur mandiri yang sering saya dengar dari teman-teman saya–maaf, saya tidak ikut mandiri sehingga saya kurang tau infonya–adalah SIMAK UI yang diadakan oleh UI, UTUL yang diadakan oleh UGM, SBMPTR yang diadakan oleh perguruan tinggi negeri yang ada di Regio Besuki seperti Universitas Jember dan Universitas Airlangga kampus Banyuwangi. Tahun ini–2017–ada beberapa PTN yang menggunakan nilai SBMPTN sebagai acuan seleksi mandiri misalnya Universitas Brawijaya dan ITS. Seperti yang kalian tahu, kalau kalian ingin mengikuti jalur mandiri, pasti ada uang lebih yang harus kalian bayar ketika kalian keterima. Jadi, gunakan jalur mandiri sebagai pilihan akhir kalian.

Karena saya diterima di PTN melalui jalur SNMPTN maka saya akan membahasnya lebih lanjut. Ada beberapa info yang harus kalian ketahui seputar SNMPTN. What are those?

  • SNMPTN itu seleksi pertama yang akan kalian lalui sebelum seleksi lain di PTN biasanya awal tahun. Kalau tahun saya seleksinya mulai bulan Februari.
  • Tidak semua siswa kelas 12 di sekolah kamu bisa ikut seleksi ini, tergantung kebijakan Dikti dan PTN di tahun seleksi kalian. Biasanya hanya berapa puluh persen saja dari siswa di sekolah kalian yang boleh mengikuti SNMPTN.
  • Seleksinya gratis karena ditanggung pemerintah.
  • Kalau kamu berencana mendaftar Bidikmisi, usahakan untuk menyelesaikan berkas pendaftaranmu sebelum pendaftaran SNMPTN dibuka. Ini untuk memudahkan seleksi Bidikmisimu ke depannya
  • Alumni tidak diperkenankan mengikuti SNMPTN. Jadi, sainganmu hanya teman seangkatanmu di seluruh Indonesia.
  • For further information, you can search in Google and type SNMPTN. And tadaa, all of informations you need will have already been available. Or you can visit http://www.snmptn.ac.id

Seperti yang telah saya jelaskan tadi kalau SNMPTN itu tidak lain adalah jalur undangan alias tanpa tes. Nah loh, kalau tanpa tes bagaimana dong sistem seleksinya?

  • Rapot. Nah, rapot ini menjadi andalan PTN untuk menyeleksi calon mahasiswa karena ketiadaan tes tulis. Nilai rapot yang dibutuhkan untuk seleksi berasal dari semester 1 hingga 5. Kamu tidak perlu lagi repot-repot memasukkan nilai rapot kamu karena PTN akan melihat nilai rapot kamu di PDSS–sejenis pangkalan data yang berisi nilai rapot kamu. Biasanya sekolah tiap semester sudah menyerahkan nilai kamu ke PDSS. Jadi, kamu tinggal menyocokkan kesesuaian data di PDSS dengan nilai rapot asli kamu.
  • Prestasi. Kalau kamu punya sertifikat di berbagai kejuaraan atau pelatihan atau apapun​, kamu wajib banget menyertakan sertifikat kamu dalam seleksi SNMPTN. Kenapa? Karena PTN akan lebih mempertimbangkan calon mahasiswa yang tidak hanya pintar di akademik saja tapi juga di non-akademik juga oke. Termasuk juga bagi kamu yang sering ikut lomba di bidang akademik seperti kimia, fisika, dan biologi boleh banget mengirimkan bukti keaktifan kamu ke panitia SNMPTN.
  • Akreditasi sekolah. Tingkat akreditasi sekolah kamu menentukan berapa banyak siswanya yang berhak mengikuti SNMPTN dan tiap tahun sepertinya selalu berubah kebijakannya–tergantung panitia SNMPTN. Jadi, jumlah siswa yang diterima di SNMPTN di sekolah yang akreditasinya A tentu berbeda dengan akreditasi B dan seterusnya.

    Info seputar seleksi PTN akan bersambung di post selanjutnya.
    Banyuwangi, 19 Juni 2017 | 24 Ramadhan 1438 H

    Cerpen : Insya Allah itu Lebih Baik

    Sejak lahir hingga saat ini aku besar, tumbuh, dan berkembang di negeri tercinta, Indonesia. Sehingga aku paham benar bagaimana karakter manusia di negeri ini. Perlukah aku sebutkan satu persatu? Kurang apresiasi, tidak tepat waktu, suka ingkar janji, konsumtif, dan masih banyak lagi. Maaf, bukannya aku tak ingin beberkan semua penyakit yang menjangkiti manusia di negeri ini-termasuk aku, tapi aku rasa tidak etis membicarakan aib sendiri.

    Ya, manusia di negeriku suka ingkar janji-mungkin termasuk diriku juga. Seperti kalian tahu di negeriku mayoritas penghuninya menganut agama Islam. Maka jangan heran ketika ada penghuninya membuat sebuah janji, ‘insya Allah’ menjadi jawaban wajibnya.

    “Eh, sungguhan loh! Jangan insya Allah doang!” Aku memprotes Rini saat ia hanya menjawab Insya Allah atas janji yang telah kami buat seperti kebanyakan orang. Oh ayolah, bagi kami-penghuni negeri ini insya Allah hanya pemanis bibir belaka kepada para pembuat janji. Mengenai pemenuhan janji? Yah, tergantung suasana hati pelaksana janji. Seperti itulah manusia penghuni negeri ini.

    “Janji! Aku  gak mau ucapan Insya Allah!” Aku berkata setengah teriak kepadamu. Aku tentu tak ingin terus dikhianati oleh orang yang terus saja meluncurkan yang memiliki arti ‘jika Allah menghendaki’ itu termasuk dirimu.

    “Tak perlu janji, Rosa. Dan aku pun tak ingin membuat sebuah janji denganmu. Insya Allah itu sudah lebih dari cukup. Karena kita tak tahu apa yang akan terjadi esok lusa.”

    “Bukankah kau sudah faham dengan perkara ini? Allah sendiri pun telah memerintahkannya. InsyaAllah itu sebaik-baiknya jawaban atas suatu janji.”

    Aku mendengar jawaban itu keluar dari mulutmu. Dan seketika wajahku berubah menjadi merah padam.
    Banyuwangi, 8 Juni 2017 | 13 Ramadhan 1438 H

    Menjadi Jujur

    Kau tahu kejujuran, bukan? Sebuah kata benda yang kita saya ingin berpegang teguh padanya, saya harus rela menjadi golongan yang sedikit. Merasakan kekecewaan, berderai air mata bahkan kadang harus rela dihadiahi cemoohan.

    Saya hidup-tumbuh dan berkembang-di masyarakat yang kurang menanamkan kejujuran. Bagi mereka prioritas kejujuran itu adalah nomor ke sekian. Maka jangan heran jika generasi saya nantinya yang kelak jadi pemimpin bangsa, mungkin akan akan terjerat kasus yang berkaitan dengan lembaga anti rausuah.

    Memang menjadi jujur adalah pilihan. Saya tahu itu. Dan dulu sebelum saya mengenal agama saya seperti saat  ini, saya sempat  jatuh ke lubang hitam itu dan menjadi golongan mayoritas.

    Tapi bagaima kita menjadi jujur jika panutan kami-guru kami-membiarkan ketidakjujuran itu sendiri atau bahkan sering menjadi tidak jujur. “Guru itu digugur dan ditiru” begitulah yang saya dapatkan dari pelajaran bahasa Jawa. Semua tingkah polah guru bisa dengan mudah ditiru oleh anak didiknya, karena gambaran di masyarakat seperti itu.

    Tapi, kami punya nurani yang jelas mengatakan bahwa perbuatan itu salah. Bodohnya kami, jeritan itu malah kami abaikan. Kami senantiasa dituntut di tempat belajar kami. Mendapat nilai jelek dicap sebagai siswa yang bodoh lah, malas belajar lah, dan kalian tahu istilah lainnya. Maka jangan heran jika kami menempatkan kejujuran di bagian ekor tidak di dalam kepala kami apalagi hati kami.

    Setiap manusia itu berbeda kadar kecerdasannya dan mereka tak mungkin pintar di segala bidang. Jadi, tolong lah jangan menekan kami seperti itu. Dengan kalian semakin menekan kami, semakin kami berani untuk menjadi tidak jujur. Dan kalian tahu dengan tekanan itu, siswa yang awalnya bertekad untuk memegang nilai-nilai kejujuran dibuat menjadi tidak berdaya. Jelas, jika dia tetap mempertahankannya, dia akan tampak berbeda dengan lingkungannya. Mau tak mau dia harus menyerah.

    Ini sebuah pelajaran untuk teman-teman yang bercita-cita untuk menjadi pendidik di masa depan. Karena nanti anak cucu saya akan dididik oleh manusia-manusia macam kalian. Tolong, jangan menilai siswa hanya dari nilai yang dia dapat saja, tapi juga bagaimana ia bersusah payah untuk mendapatkannya. Dan tentu saja tolong berikan penghargaan kepada siapa saja yang selalu memegang teguh kejujuran.

    Banyuwangi, 03 Juni 2017 | 08 Ramadhan 1438H

    Asas Manfaat Bukannya Uang

    Saya heran mengapa manusia di sekitar saya-kebanyakan-menggunakan uang sebagai ukuran kebehagiannya. Oh ayolah, uang bukan sumber kebahagiaan. Ia hanya media yang kita gunakan untuk menjadi bahagia. Sumber kebahagiaan yang hakiki itu ada di hati kalian. Semakin banyak kamu bersyukur akan nikmat yang Tuhanmu berikan, semakin tentram dan bahagia hatimu.

    Memang manusia diciptakan untuk tidak pernah puas dengan apa yang telah ia miliki. Tapi, itu bukan menjadi alasan untuk selalu mendewakan uang, bukan?

    Generasi saya, ini yang saya rasakan, telah dididik untuk menentukan dan memilih segala sesuatu berdasarkan atas asas uang bukan kebermanfaatannya.

    “Mau jadi apa kamu kalau kuliah di jurusan A?” Seperti itulah kira-kira kami dididik. Mau jadi apa kamu? Jelas, kami ingin jadi orang yang bermanfaat seperti yang nabi kami perintahkan. ‘sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya’

    Dan hal inilah yang mengantarkan kenapa saya memilih kampus gajah itu sebagai tempat melanjutkan pendidikan saya. Sejak SMP saya ingin mendedikasikan hidup saya pada pertanian dan saya ingin melanjutkan di kampus dengan gelar pertaniannya. Apa daya saya yang hanya berstatus ‘anak’. Bapak saya seorang petani. Jadi, beliau tahu seluk-beluk dunia pertanian di Indonesia. Bagaimana musim menjadi tak menentu, serangan hama tak mudah dibasmi, harga panen tak bisa diprediksi, dan lain sebagainya. Sampailah pada satu keputusan, “jangan kuliah di pertanian” Kenapa? Pertanian tak akan menjamin masa depanmu.

    Lagi dan lagi. Mereka takut akan masa depan anaknya. Saya paham, mereka ingin anaknya hidup nyaman di masa depan. Mereka tak ingin anaknya kesusahan dalam segela hal. Tapi, apa yang menjamin kalau misalnya, anak pertambangan dan perminyakan yang katanya gajinya fantastis akan hidup tentram di masa depan?

    Tenanglah, sudah ada Dzat yang mengatur masa depan kami. Kami ingin bermanfaat untuk bangsa kami.

    Memang kami lahir dengan sudah menyandang gelar agama rahmatan lil alamin. Tapi, apa yang sudah kami lakukan? Sejauh ini tak ada. Saya rasa karena kami dididik bukan berdasarkan asas kebermanfaatan, melainkan uang.

    Insyaallah, kalau kami bisa bermanfaat untuk orang lain, keberkahan akan menghampiri kami. Ingatlah kalau nikmat Tuhan akan datang kepada orang-orang yang senantiasa menebar manfaat.
    Banyuwangi, 2 Juni 2017 | 07 Ramadhan 1438H